Sampah dan Bunyi

Aner pentas musik rangkas pertama di halaman kantor pusat pegadaian Solo.

Sampah dan bunyi adalah dua subjek yang sangat menarik untuk dikombinasikan. Sampah adalah barang/benda yang “dianggap” sudah tidak terpakai, maka ia dibuang, menjadi sampah. Dan bunyi adalah zat/materi, yang sama sekali tidak berhubungan dengan sampah, namun bunyi bisa dihasilkan dari sampah.

Kemudian kita akan bertemu kata kreativitas untuk menjembatani kaitan antara sampah dan bunyi itu. Ya, mana mungkin tanpa kreativitas—dalam kadarnya yang sederhana maupun kompleks—bisa mewujud suatu bentuk “estetika” yang bersumber dari sampah dan bunyi?

Sangat luar biasa kreativitas, misalnya, Pak Asep Nata dari Bandung, yang menyulap pelok (biji mangga), menjadi instrumen tiup yang ia namakan pelokarina, adaptasi dari ocarina. Tak hanya menyulap pelok, ia juga mengkreasi karinding yang menggunakan bahan kartu sim. Ia sebut hasil kreativitasnya itu dengan nama karinding kartu.

Pada Yogyakarta Gamelan Festival 2017 saya diminta untuk ikut menulis catatan kuratorial untuk sebuah sesi pameran Gamelan Limbah Berbunyi. Sangat unik semua yang ditampilkan di sana. Kita akan menemukan berbagai jenis instrumen yang dikreasi menyerupai gamelan.

Kedua contoh di atas adalah antara kreativitas “sampah dan bunyi” yang terhitung cukup kompleks karena prosesnya membutuhkan waktu dan pikiran lebih banyak.

Ada juga contoh yang sangat simpel, yaitu “perkusi barang bekas.” Bahan-bahan yang digunakan antara lain: galon, ember, drum, gentong. Singkat cerita, anak saya Aner masuk Sekolah Dasar. Oleh sekolah tiap siswa baru diberi kesempatan mengambil dua ekstrakulikuler. Aner memilih taekwondo dan musik rangkas (barang bekas). Taekwondo latihan tiap Senin, dan musik rangkas tiap Jumat.

Ketika pertama kali mengantar Aner untuk latihan, dan musik rangkas itu bergaung di aula, sejujurnya “telinga” ini tidak sanggup mendengar dari dekat. Hal ini karena banyak faktor. Salah satu contohnya adalah: galon yang ditabuh dengan stick drum kayu. Ealah.. lha kok sepulangnya latihan Aner minta galon bekas dan stick untuk latihan di rumah. Praktis—dan coba dibuktikan sendiri—galon yang dipukul pakai stick kayu itu akan punya bunyi yang sangat tajam. Suasana di rumah jadi mendadak noise. Tapi apa daya, Aner sedang asyik-asyiknya menikmati dunianya. Mungkin seperti galon itu lebih pas kalau dipukul dengan stick yang diberi gulungan lembut di ujungnya. Bunyinya akan lebih bersahabat di telinga.

Anyway, akhirnya Aner pentas juga untuk pertama kalinya di bulan Oktober 2019. Melihat (mendengar) musik rangkas ini dimainkan di atas pentas terbuka, langsung beda rasanya. Dan Aner, yang terjatah main ember cat besar, terlihat bersemangat, sangat berkonsentrasi di atas panggung. Saking konsentrasinya, ia tampak terlihat tegang.