PROBLEMATIKA BAHASA DALAM KRITIK MUSIK

Telinga kita sedang menjelajah untuk menggali makna-makna musik. Ada banyak cara. Salah-satunya melalui kritik musik (music criticism). Kritik musik adalah uraian kata-kata untuk mengulas peristiwa musik (auditif) yang diekspresikan melalui tulisan.

Tentu saja ada konsekuensi atas “jenis kata” yang dipakai, yang bisa memunculkan beraneka tafsir bagi pembaca. Salah-satu jenis kata itu adalah “kata sifat”, yang sangat riskan terhadap stigma dan tendensi (norma-norma). Contoh: “Musik itu terdengar begitu segar, manis, dan eksotis; intim sekaligus seksi; unik dan menarik.”

Apakah pembaca bisa membayangkan, bagaimana bunyi yang segar, manis, eksotis, intim, dan seterusnya itu? Mungkin akan sulit. Musik itu sendiri, sebagai seni auditori (pendengaran), sifatnya sudah (sangat) abstrak, tidak bisa diraba (intangible), tidak seperti sastra atau seni-rupa yang terlihat kasat-mata.

Itulah yang mencoba dibahas oleh Kris Budiman dalam ceramahnya yang bertema “Musik dan Kata Sifat Kritik” (Music and Adjectival Criticism) di Wisma Seni, Solo (17/1/2017) dalam rangkaian acara Bukan Musik Biasa ke-56, dipandu Halim HD. Guna mendukung hipotesisnya, Kris Budiman menyampaikan argumen-argumen, terutama dalam konteks semiotika, sebagai disiplin yang ia kuasai.

Menarik, namun ceramah itu juga menuai opini (kritik). Menurut Kris Budiman, makna-makna emosional inilah yang kemudian membuat musik cenderung diper-kata-kan, diterjemahkan ke dalam bahasa, sebagai kata sifat. “Jadi, adalah masuk akal jika kritik musik pun pada gilirannya menjadi sarat dengan kata sifat atau cenderung adjektival”, ujarnya.

Tentu saja—seperti di atas telah disinggung—kata sifat yang dipakai akan bisa berakibat multi-fafsir. Akan tetapi, mana mungkin “kata sifat” diminimalisir, apalagi “dihindari”? Sementara, musik, sebagai bentuk ekspresi manusia, sudah secara kodratnya melekat makna-makna emosional (afektif).

“Adakah sarana-sarana kebahasaan lain untuk membincang musik tanpa menggunakan kata sifat?”, lanjut Kris. Alih-alih merombak bahasa tentang musik, itu merupakan sesuatu yang musykil, lebih baik, menurut Kris yang mengutip Barthes, kita menggeser pemahaman atas objek musikal itu sendiri, yakni musik sebagai teks yang bermakna (Barthes, 1985: 184). Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah sebuah kritik yang mampu merangkul pendekatannya ke dalam sensibilitas atas makna (sensibility of meaning). Di sinilah, sebagaimana pernah dinyatakan oleh Roy Shuker (1994), kajian semiotik terhadap musik memperoleh posisinya sebagai pendekatan yang lebih peka atas makna-makna musikal.

Problematika

Sayangnya, dalam ceramah tersebut Kris hanya mencontohkan fakta-fakta (tulisan-tulisan tentang musik) yang lebih menyoroti musik populer. Sementara, musik yang berkembang di dunia ini begitu bermacam, dan bentuk-bentuk tulisan tentang musik juga sangat banyak macamnya. Sebab itu, pendekatan untuk menelisik setiap jenis musik, menurut pengalaman saya, juga akan menjadi beragam. Kris juga tidak memberikan komparasi yang lain, baik itu tawaran beserta contoh penggunaan jenis kata lainnya, maupun formula lebih detail untuk lebih mendukung argumennya.

Diakui oleh Kris, ia memang tidak menguasai musik, kecuali semiotika dan kajian seni. Sementara, pisau analisis yang paling pas untuk membedah masalah ini adalah disiplin musikologi. Saat ini perkembangan disiplin ini telah begitu luas. Dan kritik musik juga menjadi salah-satu bagian dari sub-disiplin dalam musikologi yang disebut New Musicology (lihat Contemplating Music: Challenges to Musicology, Kerman, 1985).

Dalam New Musicology, tiga pendekatan terintegrasi menjadi satu, yaitu estetika, kajian budaya, dan kritik musik. Tentu saja menjadi tidak masuk akal apabila bobotnya lebih ditekankan pada semiotika saja, sementara dasar musikologisnya tidak dikuasai. Belum lagi Empirical Musicology (Cook, 2004) yang mencoba memahami musik sebagai pengalaman empiris melalui berbagai metode.

Dalam berbagai literatur mengenai bagaimana menulis tentang musik juga sering disebutkan bahwa kita tidak bisa menghindari metafora-metafora (penggambaran atas suatu objek)—bahkan itu subyektif, terkesan seperti prosa yang naratif, bahkan puisi, melibatkan perasaan (DiYanni, 1980). Tak jarang juga, seorang pengaba orkestra yang mencoba memberi instruksi kepada musisi, tentang suatu karya yang tengah diinterpretasikan, juga menggunakan metafor-metafor yang seringkali bermuatan kata sifat: “Coba horn dimainkan lebih gelap; bagian ini violin harus lebih terang dan tajam, dan seterusnya.”

Masalah lain

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika Kris juga tidak menyinggung sama-sekali mengenai posisi “pembaca”, dalam arti elemen masyarakat yang memiliki hak penuh untuk mengapresiasi “kritik musik” demi peningkatan apresiasi (wawasan). Mengingat, bagi Suka Hardjana (2004), kritik musik adalah jembatan yang menghubungkan antara karya musik, musisi, dan publik.

Sebab itu perlu dipahami pula watak audiens kita, yang cenderung (masih) menganggap bahwa musik tidak lebih dari sekadar hiburan daripada pengetahuan. Apakah audiens di Indonesia juga benar-benar membutuhkan “kritik musik”? Yang seperti apa? Jangan-jangan mereka lebih nyaman dengan adanya “kata sifat” di dalam kritik yang lebih mewakili sisi emosional, dibanding kemungkinan lain yang barangkali akan menjadi lebih berat (deskriptif, analisis, kajian musik). Ini juga perlu kita pertanyakan dan butuh studi lebih lanjut lagi.

Sifat Kata

Sekarang kata sifat akan kita balik menjadi “sifat kata”. Ini tawaran alternatif. Kata, sebagai elemen dari bahasa, memiliki sifat yang bermacam: lentur, kaku, tajam, lembut, menusuk, dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan, sejauh pengalaman saya, adalah masalah fonetik dari tiap kata yang dipakai untuk menafsirkan musik. Ini masalah asosiasi atas “bunyi” kata (pengucapannya) dan konsekuensinya.

Misalnya, bagaimana menggambarkan musik rock yang cenderung “keras” di telinga? Apakah dengan kata “bergemuruh”, “cadas”, “tajam”, “menohok”, mana yang lebih tepat dan “berbunyi” (fonetik), serta lebih analogis untuk membahasakan musik? Inilah yang perlu disiasati dengan memahami “sifat kata”nya. Akan ada banyak contoh lain yang bisa kita cermati lagi.  

Tentu saja, selain menguasai istilah musik, juga dibutuhkan penguasaan (ber)bahasa, kemampuan mendengarkan, imajinasi, memahami pembaca, dan tentu saja teknik menulis (creative writing) yang memadai. Semiotika, yang menganggap musik sebagai teks yang bermakna, akan lebih melengkapi semua itu dan menjadikan “kritik musik” lebih sempurna sesuai porsinya. Bukankah menjauhi atau meminimalisir “kata sifat” dalam kritik musik sama saja dengan mengubur salah-satu nilai alamiah yang dimiliki manusia (dalam hubungannya dengan musik itu sendiri), yaitu ekspresi?