Mengapa Kita Malas Membaca dan Lebih Suka Bermain Musik?

Sudah tidak terhitung, berapa banyak teman, kenalan, kolega, dan lain-lain, yang curhat ke saya kurang-lebih begini:

“Aku kok males baca buku, ya? Sumpah males banget!”

Kepada yang mulia para curhater-curhatis, jawabanku sesederhana ini:

“Kalian kan sudah jago main musik, dan waktumu sudah habis banyak untuk latihan dan pentas-pentas, mana sempat membaca? Membaca itu kan butuh waktu, konsentrasi, keheningan, dan seterusnya. Pasti kalau baca baru 1-2 halaman sudah ngantuk, kan? Lalu pilih pegang HP, instagraman, YouTube, cek status WA teman, dll. Ketiduran deh…”

“Yes, bener! Bener banget! 100%!”

Begitulah. Aktivitas membaca, khususnya untuk kehidupan di dunia musik yang serba gedumbreng-gedumbreng dan sound system, memang masih menjadi kegiatan yang minoristik (kayaknya ini diksi aneh, ya? Minoristik. Setelah cek tidak ada di KBBI ternyata). Mbuh, spontan saja nulisnya tadi. Tapi maknanya paham, kan?

Oke.

Nah, itulah. Kalau mau jujur, saya juga lebih seneng main musik ketimbang memelotiti halaman demi halaman, teks demi teks, merangkum, mengambil inti-sari, menulis, berdiskusi, berdebat, dikritik, dibenci, dijatuhkan—yang semua itu berkaitan dengan segala aktivitas membaca (dan kemudian orientasi menulis) yang sudah belasan tahun saya lakukan. Sejujurnya lagi, saya lebih seneng garap musik, komposisi, manggung (anti-grogi), punya fans layaknya Sheila on 7, dan kegiatan yang serba praktis-praktis lainnya.

Membaca itu memang butuh niat, lebih tepatnya memahami apa orientasi kita setelah membaca. Jadi, penyebab utama malas membaca adalah, ya itu tadi, kita tak pernah tahu apa orientasi kita setelah membaca.

Sesederhana kita makan dan minum. Makan-makanan sehat orientasinya agar tubuh juga ikut sehat. Minum air putih hangat tiap bangun pagi agar sirkulasi darah lebih baik. Kalau baca buku, apa kira-kira orientasinya? Agar main musik makin jago? Nggak. Agar pengetahuan makin luas? Belum tentu. Disuruh dosen demi menyelesaikan tugas-tugas kuliah? Mungkin. Tapi apakah kamu ingat semua substansi yang kamu baca setelah mengumpul tugas? Mmm.. nggak juga, karena rata-rata kamu cuma copy paste aja, dan setelah itu kebanyakan lupa!

Itu sebab yang pertama: nihil orientasi. Kita tak tahu, untuk apa kita membaca.

Lalu sebab yang kedua adalah: memang tidak ada waktu atau tidak mau mengkhususkan waktu untuk membaca. Membaca atau tidak itu memang hak prerogratif setiap ummat musikus. Hmm, jangankan gitaris, drummer, vokalis, dan lain-lain yang sehari-harinya memang main musik. Anak-anak kuliahan musik saja (khususnya S1 ya) juga banyak yang malas membaca, lebih suka main musik dan nongki ke kafe bareng temen-temen.

Kalimat “tidak ada waktu”, menurut saya adalah klaim terhadap diri sendiri—yang secara transparan sebetulnya itu suatu ke-engganan karena kita tidak pernah sengaja “meng-ada-kan waktu” untuk membaca, atau memaksakan sekian durasi waktu agar kita khususkan untuk membaca.

Jadi sebab kedua adalah: tidak ada niat mengkhususkan waktu untuk membaca. Entah itu sejam, bahkan cuma 30 menit saja setiap hari.

Sebab ketiga, kamu tidak punya teman atau siapa pun itu, yang menyemangatimu agar mau membaca. Ini penting ga penting juga, sih. Penting karena sejujurnya hidup kita selalu butuh teman yang bersedia menyemangati, untuk banyak hal, kehidupan keluarga, cinta, karir, termasuk membaca. Karena tidak ada yang jadi “satpam”, dan lingkungan kita adalah orang-orang yang juga malas membaca, maka kita pun jadi ketularan malas. Kalau mau memulai membiasakan diri untuk membaca buku, dekatilah orang-orang yang gemar membaca, yang saban hari berselimut dan mandi bersabun buku-buku.

Sebab keempat. Dunia musik pada umumnya memang lebih banyak menguras “motorik dan afektif.” Lebih banyak menyedot otot-otot dan feeling. Kalaupun ada sisi-sisi kognitif yang kita pakai untuk bermain musik (contohnya menghitung, menghafal, mengandai-andai ide-ide musikal), membaca adalah aktivitas yang bisa dilakukan “sambil jalan”—seolah jadi nggak perlu-perlu amat. Dan kita sudah kadung punya klaim juga, bahwa membaca buku-buku tidak akan meningkatkan keterampilan motorik dan afektif itu. Sampai di sini, apa sebetulnya implikasi dari kegiatan membaca kita untuk aktivitas musik yang lebih banyak senam otot dan intuitif itu?

Menurut saya—ini pandangan subjektif saja—implikasinya adalah terciptanya kontrol terhadap seluruh aktivitas musikal kita. Maksudnya? Kita jadi tahu batas-batas, punya porsi, tidak lebay, dan selalu bisa mengukur segala fungsi dan peran kita sebagai musikus, baik secara individual maupun ketika bekerjasama dengan kelompok. Dan, kalau diajak berdiskusi dengan teman se-band atau sekomunitas, kita jadi punya jawaban-jawaban yang menarik dan tidak hanya pada ukuran-ukuran emosional saja. Seringkali, karena minimnya wawasan, kita main musik juga jadi serba ngegas begitu saja, lupa diri bahwa kita sedang berinteraksi dengan banyak orang. Lalu pengetahuan seperti apa yang kita baca? Tidak ada saran pasti, ini sangat tergantung kebutuhan kita pada teritori di mana kita berada dan bekerja.

Btw, apakah harus buku-buku musik yang kita baca? Tidak. Justru sangat tidak disarankan bahwa kita mempersempit pikiran kita sendiri dengan hanya membaca tentang musik saja. Almarhum penyanyi David Bowie adalah seorang kutu buku dengan bacaan-bacaan yang bervariasi, mulai dari novel hingga buku-buku filsafat. Di Indonesia, Cholil Mahmud dari band Efek Rumah Kaca, juga seorang kutu buku, sampai-sampai beliau dan kawan-kawan punya kolektif Kios Ojo Keos di Jakarta yang membaca dan menjual buku-buku sekaligus mendukung pertumbuhan kreatif dengan berbagai cara yang mandiri dan tangguh.