Memberi Kuliah Kritik Musik di Prodi Karawitan, ISI Denpasar

Pada 9 dan 10 Juli 2021 yang lalu, saya diminta mengisi mata kuliah Kritik Musik untuk mahasiswa-mahasiswi Prodi Karawitan, Institut Seni Indonesia, Denpasar. Saya bisa hadir di dalam perkuliahan daring ini atas rekomendasi yang diberikan sahabat saya, I Wayan Diana (Terimakasih banyak!).

Kuliah ini merupakan bagian dari Program Merdeka Belajar yang dicanangkan Pemerintah melalui Kemdikbudristek. Hadir di dalam kuliah ini, selain mahasiswa, juga Bapak I Wayan Rai yang pernah menjabat sebagai Rektor ISI Denpasar, Bapak I Nyoman Kariasa, Bapak I Kadek Suartaya, Bapak I Wayan Sudirana, Bapak Saptono, dan beberapa dosen ISI Denpasar lainnya.

Kami banyak berbagi cerita seputar pengalaman menulis, apresiasi musik, kultur membaca, dan pengalaman-pengalaman spesifik seputar kritik musik. Diakui bersama bahwa aktivitas menulis, membaca, berdiskusi, memang sederet aktivitas yang tergolong “langka” dan kurang digemari. Mahasiswa memang menulis, membaca, dan berdiskusi, namun itu kebanyakan hanya demi kepentingan perkuliahan, seperti menyelesaikan tugas-tugas, dan bukan sebagai aktivitas yang tumbuh sebagai habit, melengkapi aktivitas praktik atau berpentas. Kelangkaan tersebut sebetulnya justru menjadi peluang yang menarik. Menjadi penabuh sekaligus penulis, why not? Menjadi komposer yang punya tulisan keren dan inspiratif, why not juga?

Sebelum melakukan aktivitas “kritik musik” dalam pengertiannya yang ideal (bukan caci maki atau hujatan, tapi apresiatif dan informatif!), kita selayaknya musti membangun habit menulis terlebih dulu secara intensif. Istilah saya, kita belajar BERSETUBUH DENGAN BAHASA, kita belajar MEMBANGUN HUBUNGAN EMOSIONAL DENGAN BAHASA.

Sejauh pengalaman saya, menulis itu memang bukan soal mudah. Apakah menabuh lebih mudah? Mungkin bisa dikatakan begitu dalam beberapa fakta.

Sebagai contoh: Ketika waktu SMA dulu saya diwajibkan belajar gamelan Jawa selama 2 semester (di SMK N 8 Solo), namun sebelumnya saya buta gamelan, karena latar saya adalah pemain band. Ketika guru saya menginstruksikan pada saya untuk menabuh saron, dengan panduan notasi yang sederhana, seketika itu juga saya langsung bisa. Artinya: bunyi, ritme, dan nadanya benar. Meskipun belum tentu bagus. Pengecualian memang untuk bisa bermain kendang, rebab, gender, bonang, gambang, yang memang perlu teknik-teknik khusus yang lebih detail dan memakan waktu lebih lama.

Akan tetapi menulis, tak “semudah” bermain saron itu, karena bukan semata aktivitas yang bisa dilakukan hanya dengan “menirukan contoh dari guru”, melainkan, menulis perlu melibatkan kerja pikiran dengan sistem-sistem yang lebih kompleks, misalnya menuntut imajinasi, ide, data, referensi, detail, perspektif, dan lain sebagainya. Dan semua itu, tidak bisa seketika seperti pengalaman saya menabuh saron.

Contoh serupa ketika saya belajar gitar genjrang-genjreng. Satu bulan belajar intensif langsung bisa mengiringi orang bernyanyi dan berani pentas. Satu bulan belajar menulis intensif? Belum tentu kita menghasilkan tulisan yang bagus, atau setidaknya informatif dan menarik dibaca. Begitulah. Dengan tidak mengatakan bahwa bisa menabuh saron atau gitar itu merupakan kerja “instan”, namun menabuh saron dan gitar itu memiliki struktur kerja syaraf yang lebih sederhana ketimbang menulis.

Untuk bisa menghasilkan tulisan (kritik) yang menarik, kadang-kadang saya perlu berpikir sebulan lamanya, hanya untuk berpikir saja, berpikir dalam berbagai kemungkinan eksplorasi (dengan membaca, berdiskusi, berimajinasi, merenung, memikirkan dampaknya, dan lain-lain). Itulah kira-kira yang saya sebut di dalam perkuliahan ini sebagai aktivitas PRA-KRITIK, yaitu segala piranti yang perlu kita persiapkan terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas KRITIK. Sesudah menulis, kita juga masih dihadapkan dengan aktivitas PASCA-KRITIK, yaitu “menguji” sejauh apa yang kita tulis berkembang menjadi dialektika dan bahkan berhasil menjadi manfaat-manfaat yang nyata. Tiga tahapan tersebut tidaklah mudah.

Saya juga kurang tahu, apakah aktivitas KRITIK MUSIK masih diperlukan untuk saat ini dan di masa mendatang?