Geografi Ekonomi Musisi

Apabila musisi disebut sebagai profesi, ia akan menanggung beban simbolik dan status yang menuntut adanya sinergi antara kualitas kerja dan hasil. Wajar jika ada yang menuntut kompensasi tertentu untuk sekali tampil, atau ketika ada kontrak endorsment dalam jangka waktu tertentu. Besaran-nya akan berbeda-beda pada setiap talentanya, termasuk pada posisi geografis dimana pekerjaan itu dilakukan, serta untuk kepentingan “apa” dan “siapa” pekerjaan itu.

Pada lanskap mikro-ekonomi berbasis spiritual, manusia adalah “tubuh tanpa kabel” (the wireless body) yang dibiarkan sekaligus dikelola Tuhan dalam menanggung nasibnya sendiri. Sedangkan pada lanskap makro-ekonomi berbasis sistem politik, manusia—secara sengaja atau tidak—diatur hegemoni maupun norma sosial yang mau tak mau menyeretnya dalam tren dan keseragaman: maka muncul standar tertentu atas hasil kerja profesi yang bisa mutlak atau fleksibel tergantung kesepakatan.

Dari konsep berpikir pada paragraf kedua di atas kita akan selalu berada pada dua kutub pergumulan bercampur tiga irisan orientasi antara: (1) Merencanakan kepentingan “diri sendiri” berdasarkan hak “diri sendiri”, dan (2) Kepercayaan atas sebuah rejeki berlandasan keimanan masing-masing—disambung dengan tiga orientasi, yaitu: (1) Pengulangan yang membosankan yang penting hidup; (2) Perubahan nasib generasi; (3) Buah Surgawi. Masing-masing insan juga akan berbeda, tergantung pemahamannya.

Kita bisa langsung kaya jika mengunjungi suatu daerah tertentu dimana batas antara idealisme dan keniagaan begitu jauh. Berbeda kasusnya pula di sebuah tempat dimana orang tidak mau menganut uang, kecuali lemparan pertanyaan mereka atas sejauh apa dedikasi kita demi membangun nasib bangsa yang sangat membutuhkan wawasan sebagai hak yang sebetulnya ditanggung Negara.

Tidak bisa dipungkiri, banyak yang masih kebingungan tentang konsep apa-saja dari suatu pekerjaan yang melibatkan musik sebagai mesiunya. Yang umumnya dipahami adalah “keranjang-keranjang” tertentu yang mengikat gerak tubuh dan kemudian berakibat bagi ketidak-luwesan orientasi: “Are you jazzer, are you krontjongers, are you raper, etc.”—tetapi mengabaikan bahwa di sebalik kata musik sebagai obyek dan musisi sebagai subyeknya, ada sikap yang harus benar-benar terlatih. Maka pada tingkatan drajatnya, akan muncul istilah musicianship, yaitu hubungan mesra antara ketrampilan, pengetahuan, dan sensitivitas artistik—sebuah perjuangan menggenapkan cipta-rasa-dan karsa.

Komponis Paul Hindemith sejak tahun 1946, dari buku karangannya Elementary Training For Musicians sudah mengingatkan para musisi untuk terampil secara menyeluruh dan seimbang dalam teori dan prakteknya. Kemampuan komprehensif tersebut menyangkut kesabaran atas detail apa yang tengah dipelajari, baik materi-materi musikal maupun korelasi prosedural beserta tata-cara standar atas perwujudan kerja para musisi. Berdasarkan fatwanya pada buku tersebut sebetulnya tersirat makna bahwa tidak ada demarkasi antara musisi otodidak dan musisi berpendidikan formal! Semua musisi menanggung beban kesetaraan antara kemampuan praktis, wawasan, dan pengalamannya.

Tidak ada yang benar-benar berhasil, dan tidak ada pula yang benar-benar gagal. Semua dalam sejarah telah dituliskan berbagai garis nasib yang masing-masing telah menemui bentuknya sendiri-sendiri.

Antonin Dvorak jenius dalam melodi, semua kritikus mengakui, meskipun ia diyakini mengekor Brahms atau Smentana. Betapapun keseluruhan karya Simfoni Beethoven mampu menggambarkan secara jelas gradasi nasib awal karir hingga puncaknya, estetika harmoni dan intensitas tensinya tidak segarang Shostakovich yang hidup dan bertahan dalam goncangan mirisnya Perang Dunia II.

Betapa sulit pula dibayangkan keahlian seorang Carl Stumpff yang pakar dalam bidang musik, fisika, dan hukum. Melalui penemuannya yang terkenal:Tonspsychology (tone and psychology) Stumpff meneliti bagaimana kaitan antara fenomena musikal dan fungsi mental dari bekerjanya syaraf-syaraf dan jiwa dalam merespon musik sebagai salah-satu rekomendasi dasar acuan ilmu-akustik modern. Bukti konkritnya adalah tentag pertanyaan kenapa kita tidak bisa tenang bekerja dalam lingkungan yang noise dan tidak nyaman bagi telinga?

Implikasi Nyata

Implikasi nyata atau dampak serius dari konsep geografi ekonomi dalam pemahaman makro-dan-mikro ini adalah sekarang kita semakin menyaksikan fakta tentang sulitnya menyatakan kemerdekaan ber-ekspresi dan sulitnya berpikir sederhana akibat rayuan informasi sesaat dan simultan yang sangat jarang mengandung kedalaman di era internet ini. Struktur kerja otak yang kompleks adalah indikasi ketidakcerdasan manusia, sama seperti ruwetnya kemacetan lalu-lintas.

Setiap orang yang saya temui terlalu sulit percaya pada kemampuannya sendiri. Betapapun mereka adalah musisi, mereka tidak yakin akan masa-depannya yang mandiri dan kemudian memilih melamar menjadi pengikut Negara atau ide orang lain tanpa didasari panggilan yang tumbuh dari hati terdalam. Ironisnya, keputusan tersebut hanya karena alasan ketidakstabilan grafik ekonomi mikro pada tataran kasat-matanya (tanpa berkaca pada kualitas keahlian yang dimiliki). Pola-pola jalan pintas seperti ini secara tidak langsung menggambarkan hipotesa bahwa ketekunan dan kesabaran ada batas waktunya, padahal tidak. Dan banyak contoh lain yang serupa.

Sebagai curhat selingan, saya ingin berbagi cerita bahwa saya memiliki sebuah teori yang sudah saya buktikan dengan cara mengalaminya secara langsung. Teori ini saya istilahkan dalam bahasa Inggris, yaitu “Five to Five”. Five yang pertama adalah lima tahun pertama, dan five yang kedua adalah lima tahun berikutnya. Lima tahun pertama adalah penggemblengan atas wawasan dan konsep berpikir; dan lima tahun berikutnya adalah mengelola kepercayaan publik atas kemampuan yang saya miliki. Buah rejekinya ada di lima tahun kedua.

Jadi, sedikitnya saya memerlukan waktu sepuluh tahun untuk merasa semakin menguji panggilan dan meyakinkan kata hati. Pada saat usia saya memasuki kepala tiga saya memutuskan untuk tidak mau mencari-cari lagi apa yang ingin saya capai, dan kemudian saya tidak percaya dengan apa yang sering dibilang orang-orang dengan istilah “profesi”, meskipun pada momen tertentu saya harus menyebut status profesi A atau B hanya lantaran kebutuhan ber-interaksi dengan orang lain, karena tidak setiap orang bisa menerima konsep tersebut.

Pengalaman demi pengelaman tentu saja bukan merupakan final, tetapi setidaknya, berdasarkan parameter kedewasaan secara psikologis, saya diuntungkan oleh momen-momen yang disengaja maupun tidak atas hidup dan karir saya. Beberapa sahabat menolong dan memberi jalan terang. Wangsit Illahiah memayungi segala keputusan demi keputusan yang diambil, datangnya kadang menjelang subuh di saat semua tetangga lelap tertidur. Maka saat ini saya merasa sebagai pribadi yang merdeka untuk menentukan apa yang saya mau tanpa ditekan siapapun. Sebagai musisi, penulis, bakul, instruktur, konsultan, dan lain-lain tidak saya anggap sebagai profesi, melainkan hanya implikasi dari laku dan kepercayaan.

Pada posisi mikro kita akan senantiasa bertarung dengan keberanian memutuskan sesuatu yang memang kita yakini membawa hikmah yang tepat, dan pada posisi makro kita diatur norma dan sistem dalam masyarakat.

Pemahaman yang runtut atas pengertian bahasa sebagai beban harafiah, terminologis, etimologis, epistemologis, ontologis, atau tentang hakikat-hakikatnya sangatlah penting untuk menakar kedalaman dan keseimbangan atas gagasan ini.

InsyaAllah kita dimudahkan. Salam hangat.

Gambar: Colour Study – Squares And Concentric by Wassily Kandinsky http://www.easyart.com/scripts/zoom/zoom.pl?pid=6715

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.