Djaduk

Kabar berpulangnya Djaduk Ferianto (1964-2019), seniman tinggi besar dan serba bisa itu, memang mengagetkan banyak orang, termasuk saya. Figurnya yang supel, humoris, sekaligus tegas dan perfeksionis—menjadi yang paling utama dikenang oleh para sahabat. Bagi anak muda, Djaduk adalah “pemimpin”—yang rela menghabiskan banyak pikiran dan waktu untuk turut memikirkan kesinambungan kebudayaan musik—melalui festival-festival dan peristiwa-peristiwa lain yang turut ia bina.

Seketika saya ingat alm. Sapto Rahardjo, Wayan Sadra, Ben Pasaribu, Slamet Sjukur, Suka Hardjana, yang kurang lebih mempunyai nafas perjuangan yang serupa. Perbedaannya adalah Djaduk lebih multi-disiplin, selain bermusik ia juga berteater, main film, menggambar, dan beberapa tahun terakhir gemar motret-motret hingga berpameran tunggal.

Pergaulan Djaduk sangat luas. Tidak mengherankan, suasana dalam layatan siang itu (13/11/2019) di Padepokan Bagong Kussudiarjo, terasa layaknya konser. Berjubel berbagai “tipe” manusia. Saya ikut melayat, ikut bernyanyi lantang pujian-pujian yang dinyanyikan saat misa yang dipimpin Romo Budi Subanar itu. Sampai pada lagu “Bapa Kami” saya mbrebes, sedikit berkaca mata ini. Pertama karena koor-nya bagus sekali, kedua karena menghayati kekuatan syair dan lagu itu, dan ketiga karena saya merasa iri sekaligus kagum kepada Pak Djaduk—atas segala prestasi mulianya di akhir hayat. Kepergiannya tidak merepotkan, pelayatnya banyak. Pak Djaduk sudah pasti langsung mendapat tiket ke surga.

Selamat jalan, Pak Djaduk.

Foto: Erie/Forum Musik Jalur Sepi. Radio Sonora Jogja. 2009.