Diskusi Musik dan Yang Serba Milenial Bersama Gus Fuad Plered

“Zaman sekarang parameter musik adalah HP, seluler, bukan speaker atau panggung,” begitulah keyakinan Gus Fuad, atau KH Muhammad Fuad Riyadi, pemimpin Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah, Bantul, ini.  Selain Kiai, Gus Fuad juga pengarang lagu, pelukis, dan pemikir.

Aku cuma mengangguk-angguk. Tapi benar juga. Setiap orang di zaman sekarang hampir semua memegang HP, terlebih anak muda. Jika mereka tidak sedang memegang  earphone, maka memutar musik langsung dari speaker HP adalah andalan tiap orang. Entah itu untuk YouTube, Instagram, FB, dan lain-lain.

Gus Fuad meyakinkan kembali: “Kalau mau preview hasil rekaman musik yang sudah mixing—untuk melihat ukuran apakah itu kompatibel untuk khalayak—ya jangan pakai speaker atau headphone, pakai lawaran saja, speaker HP. Nanti bisa terdeteksi pas atau nggak-nya.” Kurang lebih begitu.

Lagi-lagi aku cuma “ya ya ya.” Ada benarnya juga.

Memang fakta ini, atau setidaknya pandangan Gus Fuad, adalah bentuk opini atas pergeseran media dengar di dunia musik yang sedang tidak bisa kita hindari. Namun, bagi audiophile (pendengar serius), mendengar musik lewat HP lawaran tanpa earphone adalah masalah besar.  Opini Gus Fuad ini jelas beda konteks. Beliau sedang berusaha menganalisis “persentuhan dan koneksi emosional” milenial dengan musik, lewat cara yang paling dekat dan praktis dengan mereka.

Secara teknis, memang suara yang keluar dari speaker HP hanya berada di range hi-frekuensi saja. Tapi masuk akal juga analisis Gus Fuad melihat fakta tentang ukuran “kecepatan dan ke-ada-an” yang menjadi sangat niscaya di zaman sekarang.

Pada kesempatan lain, sahabatku Budi Pasadena, sound engineer dari Solo, beberapa waktu lalu menelponku satu jam. Meminta opini mengenai pergeseran-pergeseran di dunia musik hingga hari ini, sejak 1990an, di mana kami sama-sama mulai “eksis.”

“Banyak!” kataku. “Zaman sekarang yang penting kan cepat dan ada, kualitas nanti dulu. Kalau dulu ukurannya kualitas dan keabadian,” aku menegaskan opini ini.

Jika kita membahas “musik dan kualitasnya”, itu jadi serba relatif saat ini. Ambil contoh dulu musisi rekaman di studio, dimana semua sistemnya analog, maka mereka harus bisa bermain sebagus mungkin, latihan semaksimal mungkin. Kalau keliru mengulang dan repot, mahal biayanya. Sekarang bisa ditambal sulam.

Aku juga menanyakan fakta-fakta kekinian ini kepada Mas Dory Soekamti, owner Euforia Publisher dan gitaris Endank Soekamti, pada suatu kesempatan lain. Aku tanya kepada Mas Dory: “Mas, apa sebetulnya persaingan di dunia industri musik zaman sekarang?” Kutambahkan dikit: “Yang jelek saja disukai, yang bagus juga belum tentu banyak pendengar, kan semua serba blur?”

Mas Dory menanggapi dengan menyatakan: “Betul. Memang sekarang pemainnya banyak sekali, dan menurut saya yang penting saat ini adalah menciptakan karakter dan konsistensi.”

“Apakah dulu karakter tidak penting?”, tanyaku lagi.  

“Sama pentingnya,” lanjut Mas Dory. “Tapi di zaman sekarang, karena itu tadi, adanya banyak pemain, dan itu siapa saja, tidak hanya musisi, tapi juga awam, pekerja pabrik, dll, maka menentukan karakter yang sangat spesifik dan menonjol harus menjadi senjata utama. Dan yang paling penting memang konsisten,” jelasnya lagi.

Memang ada pertempuran dan pertautan yang keras dan dialektis antara elemen estetika musik dan media dengar di zaman milenial ini.

Gus Fuad juga punya opini tambahan, “Bahwa kesenian itu memang harus viral! Viral dalam pengertian bukan sekadar tenar-tenaran. Artinya harus bisa diapresiasi masyarakat luas. Karya seni itu bagi saya ibarat anak-anak kita, dimana kita mengemban tanggung-jawab untuk terus membesarkannya.”   

Soal media dengar HP dan distribusinya pada pendengar milenial ini, untuk tujuan meluaskan pesan-pesan kepada khalayak, memang bisa menjadi metode tersendiri sebagai bagian dari strategi publikasi musik yang praktis.

Di sisi lain akan ada “masalah” tersendiri bagi sound engineer. Karena rata-rata sound engineer melakukan preview di speaker atau monitor headphone. Itu pun ada berbagai kualitas tipe yang berbeda di speksifikasinya, dan memang tidak ada standar yang paling valid untuk mengukur “yang paling standar” dalam dunia industri musik.

Kompleksitas musik (aransemen, instrumentasi), menjadi semacam jembatan untuk mendiagnosa dan menanggapi opini Gus Fuad ini. Tapi bagaimana mungkin itu terjadi untuk musik-musik yang memang perlu range yang luas di aspek sebaran frekuensi-frekuensinya?

Ya, semua memang dekat dengan HP, saban hari, diajak tidur, diajak ngising, diajak bantu cari peta, diajak mendeteksi suhu badan, dan seterusnya.  Opini Gus Fuad sangat menarik untuk diteruskan menjadi diskusi-diskusi lebih detail, terutama menyangkut hal-hal teknis dan menciptakan “daya pikat instan” kepada pendengar milenial, tentu saja tanpa meninggalkan bobotnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.