Didolani Etnomusikolog Kondang Pak Philip Yampolsky. Istri Beliau Ternyata Temannya Ibuku di SD Santa Maria Solo Angkatan 60-an

Saya bersama Pak Philip, sosok yang menginspirasi sejak aku kuliah dulu.

Masih dalam suasana Lebaran 2019, minggu pertama di bulan Juni itu, Pak Philip Yampolsky bersama istrinya, bu Tinuk, berkunjung ke gubuk saya. Pak Philip adalah etnomusikolog kondang se-jagat raya. Beliau punya fokus dominan untuk meneliti musik-musik Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Hasil risetnya yang terkenal, yang dikerjakan bersama tim, adalah Seri Musik Indonesia, rekaman 20 CD Audio “Music of Indonesia” terbitan Smithsonian Folkways. Rekaman ini banyak dipakai menjadi rujukan berharga untuk penelitian tentang musik Indonesia sesudahnya.

Siapa yang tidak senang kedatangan sosok ini, dalam suasana yang akrab dan intim. Pak Philip dan Bu Tinuk kubuatkan teh hangat dan kujamu dengan Kue Monde butter yang khas itu. Pak Philip bercerita banyak tentang proyek penelitiannya di Pulau Timor, yang saat ini tengah ia kerjakan. Kami ngobrol hampir 2 jam.

Kedatangan Pak Philip bermaksud untuk melihat koleksi buku-buku yang kukerjakan dan kuterbitkan. Dan beliau juga berniat membelinya sebagai bacaan pelengkap dan referensi penelitian.

Kebetulan waktu itu ibuku sedang dolan ke Jogja, dan sudah dua hari menginap di tempatku. Menjelang beliau berdua pamitan, aku memperkenalkan Pak Philip dan Bu Tinuk kepada ibuku. Caraku memperkenalkan beliau berdua kepada ibuku tentu bukan menyebut “Pak Philip sebagai etnomusikolog”, pasti ibuku bingung.

“Buk, ayo kukenalkan, ini Pak Philip, profesor musik, dan ini Bu Tinuk, istrinya.” Mereka pun mengobrol, sampai tiba pada suatu momen bercerita tentang tanah kelahiran. Ini sangat umum, ya..

“Panjenengan dari mana?” tanya Ibuku.

“Saya asli Solo,” jawab bu Tinuk.

“Lho, lha sama. Nuwun sewu (maaf), dulu ibu SD di mana?” tanya ibuku.

“Saya di SD Santa Maria, Bu.” jawab bu Tinuk lagi.

“Lah, kok sama lagi? Ealah…” (Pak Philip manggut-manggut sambil tersenyum).

“Wah, kalian teman SD, ya?” sahut Pak Philip.

Maka pembicaraan demi pembicaraan tentang memori masa silam pun berlanjut. Mereka bercerita tentang guru sekolah, kisah-kisah di sekolah pada waktu itu. Menarik sekali. Aku cuma menyimak saja. Dunia ini sangat mini.

Setelah cukup puas bernostalgia, beliau berdua akhirnya pamit pulang. Mobil gocar sudah menunggu di depan. Terima kasih banyak, Pak Philip dan Bu Tinuk. Tak bisa digambarkan lebih panjang lagi kebahagiaan ini. Semoga Anda berdua terus diberi kesehatan dan berkat. Amin. Amin. Amin.

Daaahhh…