Berkat Musik di Hari Natal

Natal adalah sebuah momen dimana kebahagiaan selalu hadir, meskipun tak selalu harus ada musik sebagai syarat wajibnya. Namun, apakah kita bisa menghindar dari Jingle Bells, Gita Surya Bergema, Malam Kudus, Gloria, dan seterusnya—yang meskipun bernyanyi rada fals pun, kita tetap menganggap itu semua adalah lagu suka-cita, untuk merayakan kembali inisiasi yang kudus.

Musik di hari Natal memberikan keteduhan batin, terutama karena syair-syairnya yang menggugah semangat. Tak ada lagu sedih di hari Natal, tak ada lirik yang provokatif di hari Natal, tak ada lagu yang melampaui batas kewajaran di hari Natal. Semuanya hadir dalam porsi yang sama-sama kita harapkan. Maka, musik di hari Natal juga bisa dimaknai sebagai kemenangan batin, karena kita telah berhasil memelihara kelembutan hati.

Setiap Hari adalah Natal

Seharusnya di dalam hidup kita, setiap hari adalah Natal. Sama seperti musik yang juga merupakan elemen pendamping hidup yang selalu bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Maka kebijaksanaan sangat dibutuhkan, sama seperti kebijaksanaan untuk memperjuangkan kemenangan batin yang tidak hanya terjadi pada hari Natal saja.

Musik-musik di hari Natal jelas merupakan musik-musik yang terikat momen. Sangat tidak pas rasanya apabila kita bernyanyi lagu-lagu Natal di luar bulan Desember. Sebab itu, waktu yang sedikit ini adalah peluang penting untuk kembali meresapi lagu-lagu Natal, yang maknanya harus sampai pada tataran inti-sari, dan bukan klise semata.

Apabila kita sebut lagu-lagu Natal sebagai lagu rohani, maka urusan badaniah menjadi tidak penting, tetapi sebaliknya, dan lagu-lagu itu bukan menjadi inti-sarinya, melainkan hanya perantara, untuk menuju apa yang dikehendaki rohani itu sendiri.

Pemaknaan terhadap lagu-lagu Natal setidaknya harus melampaui level harafiah, terminologi, etimologi, hingga epistemologinya, sehingga pemaknaan kita tidak sekadar kulit (harafiah), tidak sekadar pori-pori (terminologi), tidak sekadar faktor genetik (etimologi), namun melampaui semuanya hingga pada unsur-unsur filofofis dan jiwa (epistemologi). Beberapa hal itu adalah drajat dalam upaya kita memaknai fenomena atau peristiwa. Allah telah mencapai tahap yang tak bisa diwakili oleh pikiran logis manusia, maka kita merasakan mukjizat-mukjizat. Sakit parah disembuhkan, bahkan mati dibangkitkan. Natal memberikan penyadaran kembali akan kemuliaan itu. Lagu-lagu Natal melalui syair-syairnya harus kita maknai ulang dan tidak sekadar kita nyanyikan sembari makan-makan.