Bedah Buku “Renungan Perihal Musik” Karya Sumasno Hadi

15 Juni 2020 diajak oleh rekan saya, Sumasno Hadi, seorang penulis, dosen, peneliti di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, untuk membahas buku terbarunya: Renungan Perihal Musik. Ada dua pembahas, satu lagi adalah Novyandi Saputra, salah satu penggiat seni di Banjar. Dipandu oleh Puja Mandela dari apahabar.com.

Forum daring ini diikuti oleh 50-an peserta dari berbagai kota, bahkan ada juga Ibu Jody Diamond, yang bergabung langsung dari New York. Turut hadir pula Pak Aton Rustandi Mulyana dari ISI Solo, Palmer Keen, Putu Septa, dan kawan-kawan lain.

Pembicaraan yang pada mulanya menguliti isi buku dari beragam perspektif, akhirnya meluas membicarakan, salah satunya, soal kritik musik dan ekosistem seni, khususnya di Kalimantan Selatan.

Selamat untuk Mas Masno atas peluncuran buku terbarunya. Semoga makin jos untuk terus mewarnai pertumbuhan literasi di Kalimantan Selatan.

Untuk mendapatkan buku karya Sumasno Hadi silakan langsung menghubungi penulisnya di Facebook: Sumasno Hadi. Dan untuk menyimak secuil liputannya silakan klik di sini.

Kelas Isolasi #61 – Musikalingua

Dalam seminggu terakhir saya diminta mengisi 3 X sesi webinar/diskusi daring tentang musik, salah satunya memberi materi untuk Kelas Isolasi yang diasuh Pak Syarif Maulana dan kawan-kawan. Materi di sesi Kelas Isolasi adalah seputar mem-bahasa-kan musik, atau bagaimana menerjemahkan musik ke dalam bahasa, baik lisan/tertulis. Upaya ini tentu saja akan melengkapi pemaknaan kita terhadap musik, mempertajam manfaat/fungsi musik untuk kehidupan kita, lebih dari sekadar kesan, misalnya mendengar lalu bilang: “bagus, jelek, biasa saja, istimewa, keren, fantastis, asoy, anjir bagus banget, dan seterusnya”-dimana semua itu terasa hanya sebagai impresi spontan saja, dan mungkin juga mengakibatkan multi-tafir. Saya percaya ada banyak kemungkinan untuk diperdetail/dikembangkan selain hanya “berkesan.”

6 Kunci yang saya bagi ini adalah 1 slide dari 20an slide materi yang saya buat, menjadi rangkuman sederhana untuk memasuki alam MUSIKALINGUA, yaitu kaitan yang tak pernah terputus antara musik dan bahasa.Musik mempengaruhi impresi, bahasa menjelaskannya.

Musik Klasik yang Menyejarah di dalam Hidup Saya

Sekitar 1999-2000 saya dikado oleh seorang rekan ibu beberapa kaset “musik klasik”, salah satu yang saya ingat adalah rekaman simfoni Tchaikovsky. Terasa aneh dan asing di telinga, tapi memikat untuk terus didengarkan.

Tak hanya itu, oleh guru privat saya, alm. Djunaedi Koeswara, saya juga dihadiahi beberapa rekaman gitar klasik, antara lain berisi permainan John Williams dan Julian Bream. Waktu itu saya memang sedang kursus gitar klasik secara intensif untuk mempersiapkan kuliah di ISI Jogja. Kadang sampai mewek karena beratnya materi, dan kadang tidak kuat dengan disiplin belajarnya, beda banget sama musik God Bless yang juga saya geluti bersamaan.

Semenjak dua momen itu saya mulai hobi berburu kaset-kaset musik klasik bekas di lapak-lapak di Solo dan Jogja, bahkan hingga ke sudut-sudut kota Jakarta (belum tren transaksi online). Lalu pada 2003 kalau tidak salah, saya membeli sebuah kaset dengan tajuk “Musik Pengiring Belajar”, berisi rekaman karya-karya Mozart. Menurut riset ilmiah, musik-musik di dalam kaset ini berpotensi meningkatkan kecerdasan pelajar dan mahasiswa. Saya pun mencoba mempraktikkannya, baca buku filsafat Yasraf Amir Piliang sambil dengar kaset itu. Memang lumayan membantu konsentrasi dan membawa ketenangan, meskipun soal kecerdasan itu saya tak tahu, apakah ada efek langsung atau tidak. Eh, di 2007 saya malah menulis sebuah resensi di Harian Kompas, membahas buku “Matinya Efek Mozart” karya Djohan. Agak paradoks tapi sangat menarik sebagai sebuah “kisah dan dilema.”

O, ya, setahun sebelumnya, 2006 Muhammad Syafiq menulis “Ensiklopedi Musik Klasik” dan saya hadir pada peluncurannya di Bentara Budaya Jogja. Senang sekali ada buku seperti itu di tengah langkanya literatur yang membahas musik klasik kecuali skripsi/tesis. Saya kerap diskusi dengan Thomas Yulian Anggoro untuk membahas banyak hal tentang musik klasik, dan kadang menemaninya siaran di Eltira FM, biasanya berlangsung jam 23.00 hingga 01.00 WIB. Ada horor juga, tiba-tiba stand mikrofon geser sendiri, didorong “hantu klasik” di radio itu.

Saya makin produktif menulis ulasan-ulasan konser musik klasik, wacana-wacananya, dan terlibat dengan berbagai urusan produksi, baik konser dan album-album, terutama yang diselenggarakan di Yogyakarta. Hingga saat ini kegiatan menulis masih berlangsung. Yang terbaru menulis untuk resital Duo Piano Ike Kusumawati dan Adi Utarini (2019), menganalisis beberapa karya yang ditampilkan. Begitulah sekelumit yang menyejarah dan membekas. Tentu saja masih ada kisah-kisah yang lain, diselingi pemikiran-pemikiran yang terasa serius dan menuntut perhatian banyak pihak di kawasan musik ini.

Kami akan siaran langsung ngobrol jarak jauh, tak hanya membahas kisah dan sejarah musik klasik di masa silam, tapi juga tantangan-tantangan ke depan menurut apa yang kami alami dan amati. Saya akan bersama Ania, peneliti sejarah pertunjukan musik klasik di zaman Hindia-Belanda, Adit, dosen, penulis, dan musikolog untuk Jakarta City Philharmonic. Dipandu Bung Mike yang punya perhatian besar pada wacana-wacana semacam ini.

See you! Rabu, 3 Juni.

MERAYAKAN 2700 TAHUN KEMENANGAN MUSIK MELAWAN PANDEMI!

Indonesia Menyanyi (Virtual Choir). Sumber: YouTube Tommyanto Kandisaputra

“Musik adalah ilmu yang mengajak setiap orang untuk tertawa, bernyanyi, dan menari”, ujar Christopher Macklin, Doktor Musikologi dari Universitas Mercer, Amerika.

Tertawa, bernyanyi, dan menari adalah penawar ultra-herbal bagi jiwa, dan terbukti ampuh membunuh depresi, stres, atau frustasi yang menggerogoti pikiran manusia. Terasa tidak main-main, aktivitas ta-nya-ri itu sudah dilakukan sejak 2700 tahun silam. Untuk apa? Salah satunya melawan pandemi!

Melawan, dalam arti yang paling substansial, bukanlah pertarungan antar muka atau jotos-jotosan dengan pandemi, melainkan menjaga sepenuhnya jiwa-raga supaya tidak ikut remuk tertindas krisis. Kalimat “Musik adalah ilmu” yang diucapkan Chris Macklin saya maknai sebagai semacam penyelamat. Musik itu menyelamatkan. Jika musik adalah ilmu, maka musik harus menyelamatkan.

Bagi saya tak ada ilmu yang pada fungsinya tidak menolong atau menyelamatkan ummat manusia dari berbagai masalah, entah mudah atau sulit. Kalau pun ilmu dipakai sebagai modus demi membuat keadaan makin runyam, sulit, dipakai melukai, itu artinya melanggar segala fitrah ilmu, melepaskan segala kemurniannya.

Nyanyian penyemangat dari balkon

Anda pernah nonton (atau ingat) video-video di Italia yang menunjukkan musisi main musik di balkon atau jendela, saling melempar senyum, berkolaborasi dalam jarak fisik: menyanyi, menari? Yup! Itu dia!  

Nah, apa yang kita saksikan di video-video itu ternyata sudah pernah dilakukan sejak 1576 ketika Milan, Italia, ikut terkena epidemi ganas yang disebut oleh Alessandro Manzoni sebagai Wabah Santo Charles. Dalam waktu kurang dari dua bulan, 6000 nyawa terenggut karena wabah ini.

Uskup Agung Milan, Charles Borromeo, membuat perintah semacam Go Lockdown keseluruh warganya, menganjurkan setiap orang agar tetap di rumah, berdoa dan beribadah di rumah.  Ketika sebagian orang dari pemerintahan gereja berkeliling untuk membagi-bagikan sembako kepada warga, mereka umumnya bersaksi:

“Ini sungguh tidak biasa. Di sepanjang perjalanan, tak ada yang saya dengar selain lagu dan musik yang berkumandang di teras dan balkon.”

Ada oplosan antara kesedihan dan motivasi agar tetap semangat! Pandemi memang identik dengan dua suasana itu.

Orang-orang di Eropa terbiasa menggunakan musik sebagai media untuk saling menyemangati, baik antar keluarga terdekat maupun tetangga atau warga-komunitas. Mereka memainkan atau menyanyikan apa saja yang mereka mampu, namun khususnya lagu-lagu pujian Kristiani dan musik-musik klasik.

Jauh sebelum itu

Ada fakta juga, bahwa sejak zaman Mesir Kuno, Yunani, dan Babilonia, musik memang telah menjadi media andalan yang kerap digunakan sebagai obat penawar bagi masalah-masalah psikologis-spiritual, termasuk berfungsi menjaga ikatan sosial di tengah wabah.

Ketika wabah melanda Sparta pada Abad ke-7 SM, para pemimpin kota mengajukan petisi kepada penyair Thaletus untuk menyanyikan lagu-lagu pujian, dan Terpander (Terpandros), penyair Yunani Kuno yang terkenal, dipanggil saat wabah melanda Lesbos. Bahkan Pythagoras, pencipta teorema favorit bagi setiap anak sekolah, menggunakan musik sebagai alat terapi, ia memainkan kecapi untuk menenangkan para hooligan (penggila sepak bola) yang mabuk!

Oh, ya, ada juga aktivitas unik di Italia pada Abad Pertengahan, dimana ketika warganya mendengar informasi bahwa akan ada wabah dan diminta hati-hati, mereka berbondong-bondong pergi ke tempat suci untuk bernyanyi dan berdoa secara kolektif, menyebar frekuensi positif. Juga di tiap ruas-ruas jalan. Musik dan doa memberi pengharapan.

Ketika Wuhan tertimpa korona dan lockdown,ada muncul pekikan “Wuhan Jiāyóu! Wuhan Jiāyóu!”, yang artinya: “Ayolah, Wuhan!” (Wuhan Semangat!). Itu bukan pekikan biasa. “Pekikan itu simbol semangat”, ujar Remi Chiu, ahli musik dari Universitas Loyola. “Wuhan Jiāyóu” lantas menjadi lagu yang amat membekas bagi warga Wuhan, mudah dinyanyikan siapa saja.

“Musik memang mampu meluluhkan ego di saat masa karantina,” sambung Chiu. “Ketika Anda membuat musik dan menyebarkannya untuk menyemangati setiap orang, Anda telah mengabdikan diri Anda untuk komunitas/kelompok masyarakat yang lebih besar, itu artinya Anda tidak lagi egois,” tegasnya.

Relasi jiwa-raga, fisik dan psikis, atau apa pun itu istilahnya, adalah dua kutub yang senyatanya saling mendukung. Fisik yang kuat namun ditopang jiwa yang lemah akan mengakibatkan kejatuhan, cepat atau lambat! Fisik yang lemah bisa didorong agar tetap kuat dengan jiwa yang sehat.

Dalam konteks terapi musik, Anda akan menemukan banyak fakta mengenai keajaiban musik bagi jiwa manusia, bahkan sejak zaman Renaisans, setiap pasien yang berpotensi “lemah jiwa” selalu diajarkan seni, antara lain menari, bernyanyi, tertawa, bermain musik, supaya kelemahan itu tidak delay berlarut-larut. Untuk pasien kanker dan skizofrenia di zaman modern, musik berpotensi mengurangi kecemasan.

Tetaplah semangat!

Sejak fase-fase awal pandemi korona menjalar di Indonesia (pertengahan Maret 2020), ramai para musikus melakukan kolaborasi virtual di media sosial, hingga tercatat kolaborasi terkolosal sejauh ini adalah paduan suara virtual “Indonesia Menyanyi”, yang melibatkan 2758 penyanyi, menggabungkan 3615 video dan 436 paduan suara! Ada energi saling menyemangati yang terpancar di balik kolaborasi yang dipersembahkan Bandung Choral Society itu. Videonya di sini.

Saat ini dunia musik berbasis panggung dan kerumunan nyata memang tengah sekarat! Saya pun mengalami, beberapa jadwal panggung musik dan kolaborasi seni, setidaknya hingga Juli, tidak bisa dilangsungkan, alias dibatalkan! Selepas bulan itu juga belum tahu kepastiannya. Entah pekerja lapangan atau administratif  kompak mengeluhkan dampak yang sama dari pandemi korona ini. Industri musik khususnya, amat terpukul. Dampak gelobalnya baca ini.  

Di dalam pikiran kita (khususnya yang bekerja independen), memang sedang berjuang mencari berbagai cara untuk menemukan solusi pertahanan diri. Ada yang tetap bertahan “di jalur musik” dengan memanfaatkan tabungan darurat, tetap kreatif posting-posting,hingga tak jarang yang “hijrah” lalu jual sembako, makanan, pakaian, jual ini-itu, dan lain-lain, supaya tetap hidup! Tak sedikit pula yang berada di titik sulit dan benar-benar mengharapkan uluran tangan.

Namun betapa kita wajib untuk tetap bersyukur, bahwa musik masih selalu hadir intim dan hangat dalam mengisi lembar-lembar kesunyian sosial kita, mengisi kekosongan suasana hati, terlepas dari “musik sebagai urusan dompet.” Ini soal “musik adalah ilmu”, sebagai urusan jiwa, sebagai penyemangat, penyelamat.  

Musik, disadari atau tidak, berhasil menyuplai “nyawa cadangan” di tengah dampak pandemi, menjadi bahan bakar atau energi spiritual, agar kita tetap bertahan, berbagi, dan terus menyebarkan semangat satu dengan yang lain dengan berbagai cara. Meskipun semua itu masih ajeg terjadi (hanya) di dinding-dinding virtual.

Musik memungkinkan menjaga nyala api semangat itu, sebuah kemenangan yang indah dari peperangan yang absurd.

(Esai ini disarikan dan diinterpretasikan dari laporan berita The Guardian: https://www.theguardian.com/music/2020/apr/06/stayin-alive-how-music-fought-pandemics-2700-years-coronavirus), dirilis 6 April 2020.

DI DADAKU ADA DIDI

di dadamu mungkin sama

Foto: Agustinus Bambang (UGM, 29 Feb. 2020)

Belum lama ini beberapa wartawan menelpon saya, meminta pendapat tentang sosok Didi Kempot, penyanyi kondang yang baru saja dijemput Sang Khalik. 

Dalam kapasitas saya yang cuma sebagai Kempoters yang terlanjur fanatik dengan lagu-lagu Didi Kempot sejak 1990-an, saya tidak bisa bercerita lebih banyak dari yang sekadar saya rasakan. Sedikit-sedikit bisa menjelaskan dari perspektif ilmu pengetahuan musik. Itu pun dalam kadar yang sederhana saja.

“Apa sih, Mas, istimewanya lagu-lagu dan sosok Didi Kempot dari kacamata panjenengan? Dan mengapa dia bisa sangat terkenal?”

Ada dua pintu untuk menjawab pertanyaan itu: subjektif dan objektif. Tentu saja bagi saya, yang sekali lagi, fanatik, Didi Kempot itu keistimewaannya banyak. Selain fakta umum,dimana lagu-lagu beliau menyentuh berbagai lapis emosional masyarakat tanpa terkecuali, Didi Kempot adalah sosok yang khas dengan berbagai piranti. Mulai dari wajah beserta postur dan gesturnya, suaranya, lagu-lagunya, gayanya, dedikasinya, dan lain-lain.

Kebetulan belum lama ini, 29 Februari 2020, Kroncongan Agawe Santosa pentas sepanggung dengan Didi Kempot di Grha Sabha, UGM, Jogja, untuk acara reuni Fakultas Kedokteran, UGM. Kami diundang Prof. Adi Utarini, seorang kolega baik. Kroncongan Agawe Santosa tampil membuka acara, Didi Kempot dan Lare Jawi menutupnya. Saya pun berjoget ria dan bernyanyi sangat keras.

Di fase menunggu giliran sound check yang sedemikian lama dari siang hari, saya dan Mas Agustinus Bambang berdiskusi panjang lebar tentang sosok Didi Kempot, kesibukannya, beserta tarif manggungnya dalam setahun terakhir. Mas Bambang mengenal Didi Kempot secara personal, dan belakangan juga relatif sering bekerjasama. Mas Bambang piawai mengemas lagu-lagu Didi Kempot ke dalam nuansa orkestra. Satu hal yang diceritakan Mas Bambang tentang keistimewaan Didi Kempot: “Nyanyi tidak pernah fals!” Saya setuju, lebih  dari 100%!

Soal kesibukan Didi Kempot? Hmm.. Ini: Sebulan bisa manggung 40 sampai 50 kali dengan tarif rata-rata dalam range 125-150 juta. Soal tarif ini, Mas Bambang juga membocorkan pada saya percakapan langsung dengan Didi Kempot via SMS.

“Maret full, Mas,” kata Didi Kempot.

 *

Secuil teknik intuitif Didi Kempot dalam Mengarang Lagu

Lalu apa yang membuat Didi Kempot jadi sedemikian terkenal? Apakah karena Sobat Ambyar? Apakah karena Gofar Hilman? Bagi saya tidak.  

Didi Kempot terkenal karena lagu-lagunya memang bagus! Nah, momentum-momentum lain yang turut mendongkraknya di media sosial turut melengkapi keistimewaan Didi Kempot dengan lagu-lagunya itu.

Mengarang lagu yang bagus bagi saya tidak mudah. Bagus dalam arti simpel adalah diterima masyarakat dan  menjadi abadi. Soal ini, tidak ada satu pun rumus teoretik yang pernah menjelaskannya. Beberapa buku dan tips-tips yang saya baca tidak pernah dengan gamblang membeberkan “bagaimana menyusun lirik dan kemudian menempatkannya secara pas ke dalam melodi lagu”—misalnya begitu secara teoretik.

Misalnya lagu ini:

Wis, sak mestine, ati iki, nelangsa

Wong sing, tak tresnani, mblenjani janji

Apa, ora eling, nalika, semana

Kebak kembang, wangi, jroning dada

(Perhatikan seluruh tanda koma di penggalan bait itu)

Analisis singkat (satu baris):

Kata (1) Wis, dipenggal sebagai jeda. Baru sesudah itu (2) Sak mestine.

Jika tiga kata itu diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, artinya adalah Sudah Seharusnya. Kata “Sudah Seharusnya” tidak ideal untuk diucapkan dengan dijeda oleh koma:

“Sudah, seharusnya”. Tidak begitu. Pasti penulisannya “Sudah Seharusnya”.

(3) Ati iki. Ini juga hampir sama dengan sebelumnya, dijeda oleh koma, baru kemudian (4) Nelangsa. Untuk penegasan baris pertama.

Dalam kenormalan yang sewajarnya, penulisan atau lafal lisan kalimat ini: Wis sak mestine ati iki nelangsa,hanya terdapat satu koma, yaitu di antara kata mestine dan ati iki. Namun Didi Kempot membuatnya jadi berkoma tiga.

Lalu soal naik-turunnya nada lagu di tiap frase maupun pada relasi keseluruhan baris antar baris, bait dan bait, hingga bentuk utuh. Ini juga unik.

Pilihan melodi lagu berpengaruh besar untuk menyokong lirik yang telah disusun, hingga membuatnya hidup dan mudah lekat di hati. Tentu saja teknik bermain “melodi melangkah” (jarak antar suka kata dalam melodi lagu selalu berdekatan). Ini seperti teknik lagu-lagu anak karangan Pak Kasur, Ibu Sud, dan sebagainya. Teknik-teknik lagu dengan “melodi melangkah” selalu lebih “terkenal” ketimbang sebaliknya. Lagu-lagu Koes Plus adalah contoh yang paling relevan.  Didukung iringan musik yang sederhana dan mudah diingat.

Nah, baru sesudah itu, yang menjadi pendapat umum masyarakat atas lagu-lagu Didi Kempot, adalah syairnya yang mewakili dinamika perasaan masyarakat. Cinta, patah hati, ditinggal pergi… menjadi sangat dekat dengan kebutuhan setiap orang untuk mengigat “kepahitan” dalam momen kehidupan, sekaligus menjaganya agar tetap semangat.

Gofar Hilman bilang: “Hanya Didi Kempot yang bisa membuat puluhan ribu orang bergelora dan tetap semangat walaupun dalam keadaan patah hati”  

Patah Hati Tetep Dijogeti

Dalam banyak alasan, saya kurang setuju dengan pendapat kebanyakan orang yang cuma berkisar pada gelombang lirik Didi Kempot yang bagus dan dekat dengan situasi emosional setiap orang. Selain itu, dalam soal “struktur musik”, Didi Kempot punya kekuatan besar yang ia kerahkan dengan modal “teknik intuitif” yang mumpuni untuk mengarang lagu.

Syair dan cara menempatkannya ke dalam melodi lagu, adalah tantangan dan hubungan yang tarik-ulur terus-menerus bagi setiap pengarang lagu. Tidak ada lagu yang hebat sepanjang sejarah tanpa adanya pemahaman itu, terlepas dari dikarang dengan intuitif atau pun dalam pengalaman empiris dan teoretik.

*

Lalu, Mas, Siapa kira-kira menurut panjenengan, sosok yang bisa menggantikan Didi Kempot?”

“Wah, sejauh ini menurut saya belum ada, mbak. Didi Kempot itu otentik, orisinil. Perjalanan hidupnya, perjuangannya, karakteristiknya. Kalau pun ada momentum suatu ketika nanti, mungkin saja ada sosok yang setenar beliau dan sangat bermanfaat sebagai figur bagi masyarakat. Ya… kita tunggu saja. Yang jelas di dadaku ada Didi, mbak; Di dadamu mungkin sama.”

“Iya, Mas.

MUSICAL DISTANCING

Ilustrasi: Erie Setiawan

Tak ada burung gagak yang melintas di udara, namun laksana gemuruh dari dasar laut, getarannya terasa merobek dada. Pandemi menyiksa semua lini, mengombang-ambingkan musisi, mereduksi estetika musik yang telah dibangun sekian abad lamanya oleh ahli-ahli di jagad raya.  

Ruang nyata yang memantulkan dan mempertemukan antar-bunyi dalam sifat dan dialektika akustiknya, tengah menyerah oleh virtualitas. Namun tempo menjadi penting, metronom sedang dibutuhkan, hitungan ketat adalah mutlak. Kita sedang belajar bijaksana kepada ruang dan waktu. Belajar kembali semua itu.

Foto-foto manggung (musik tanpa bunyi), yang biasanya ramai di media sosial, kini tengah sepi, digantikan massifnya video-video kolaborasi virtual yang dikuasai kuota. Apakah ada revolusi yang tidak memakan korban? 4.0 terdengar enteng dan biasa-biasa saja. Mungkin manusia sudah tidak dipandang kuat dan punya nyali untuk merevolusi? Pada kenyataannya, virus memanuver sistem, bahkan merubah tatanan seketika, seperti kelebat sampur penari tradisi. Virus seakan lebih tangguh dari manusia yang masih merasa perlu menyusun undang-undang atau memasang rambu-rambu lalu lintas.

Sedang sulit dipertanyakan, nasib musisi itu bergantung pada Tuhan atau pada selesainya pandemi? Yang tidak punya gentong penyimpan uang (dan itu masih berisi) memang sedang stres. Tak hanya pedagang yang kerja hari ini untuk hari ini. Banyak kawan 100% hidupnya menggantung di tangkai-tangkai keramaian sosial-musik. Mereka “terhenti nafasnya” sampai sedikitnya Juni 2020 nanti. Seminggu sekarat saja stres, apalagi berbulan-bulan.

Dunia klab malam yang rapat oleh bau-bau menyengat juga tengah lelap, bahkan pemiliknya berencana memborgol pintu besi selamanya dalam waktu dekat. Musik juga hidup di situ.

Kini semua sedang mencari cara, tak terkecuali musisi, agar tetap bisa mengunyah. “Tak masalah, masih ada aset yang bisa dijual,” kata seorang teman. “Bagus!”, kata saya. “Lalu harganya?”, tanya saya. “Ya pasti anjlok!, ujar teman itu sambil tetap terkekeh menghibur kesedihannya.

Barangkali ketenangan adalah kunci penting untuk saat ini dalam segala kepasrahan dan rejeki kiri-kanan, dalam bentuk tak selalu harus uang. Kita juga tengah sedemikian keras berpikir tentang perbedaan mencolok antara rejeki dan uang untuk saat ini. Rejeki membuat kita terus hidup, sementara uang belum tentu, karena multi-efek yang bisa disebabkan olehnya.

Kita mungkin tengah terganjal dengan banyak hal (pertanyaan) yang berat-berat juga: Apa saja aktivitas di dunia ini yang bisa berubah menjadi virtual? Musik? Setengah iya setengah tidak. Sepak bola atau berenang? Tidak mungkin! Revolusi uang misalnya, sudah nyata. Eksekutif tak butuh kertas, sementara simbok-simbok di pasar masih menyumpelkan recehan di sela-sela kebaya. Apakah akan terjadi, pada suatu ketika nanti, tak ada lagi uang dalam wujud fisik?

Memang serba tak habis pikir. Judul tulisan ini pun hanya judul. Tak ada kaitan dengan isi. Ini teknik baru dalam menulis di zaman yang sedang aneh. Tetaplah sehat!

Pemahaman dan Penerimaan

Rasanya kita selalu “dipaksa” menerima apa saja setiap hari. Soal paham atau tidak itu urusan masing-masing.

Karya: Dodot JD

Suatu ketika saya duduk semeja, makan malam bersama Pak Goenawan Mohamad, Pak Endo Suanda, Mas Wahyudin, dan rekan-rekan lain. Nama besar Goenawan Mohamad sudah saya kenal sejak semasa kuliah, 2000an awal. Baru kali ini mendapat kesempatan lebih intim dengan beliau untuk ngobrol, kurang lebih sekitar 2,5 jam. Cukup lama untuk situasi yang intim.

“Perjodohan” ini berkat tawaran Pak Endo, “bos” saya di Majalah Gong dulu (2008-2010). Sebetulnya pertemuan kami berdua sudah berlangsung sejak sore di “Museum dan Tanah Liat”, Bantul. Kami memang sudah lama tidak berjumpa, maka untuk melepas rindu Pak Endo mengajak saya lanjut makan malam. Saya menyanggupi dengan senang hati.  

Di meja makan itu banyak cerita dialirkan begitu saja. Sejujurnya saya lebih banyak menjadi pendengar pasif, itu pun sudah enak minta ampun. Sesekali saja menanggapi.

Ada satu cerita yang bikin saya penasaran, yaitu soal “pemahaman” dan “penerimaan”.

Singkat cerita waktu itu kami sedang mengobrolkan Catatan Pinggir (Caping), yang rutin ditulis mingguan di Majalah Tempo oleh Pak Goen. Pertanyaan yang muncul: “Apakah generasi milenial saat ini masih mau membaca Caping? Apakah mereka paham?”

Nama Hairus Salim kemudian nongol. Konon, menurut beliau—yang notabene juga penulis  senior yang saya hormati—Caping relatif sulit dipahami, tapi Pak Salim merasa menyukai atau menikmatinya. Dan beliau juga menyampaikan bahwa milenial saat ini “ada” yang baca caping.  

Diskusi menjadi lebih rumit ketika memperbincangkan bahwa suatu objek yang kita lihat, baca, pandang, temui, dan lain sebagainya, memang tidak selalu harus “dipahami”—dalam pengertian sampai ke meaning, sampai ke pemaknaan. Ketika orang sudah menyukai atau menikmatinya, sebetulnya itu sudah cukup.

“Saya tidak paham, tetapi suka.” Mungkin kita cukup sering mendengar kalimat itu.

Lalu saya iseng tanya kepada Pak Goen.

“Lalu Pak Goen, kalau Pak Goen menulis caping itu apakah ada target, atau katakanlah keinginan, agar tulisan Pak Goen dipahami?”

Semua mendadak tertawa.

“Haha, benar juga? Gimana Pak Goen?” Mas Wahyudin  menyaut, menegaskan pertanyaan saya.

“Ya, kadang-kadang. Tapi sering tidak memiliki target itu. Saya menulis saja. Haha.” Jawab Pak Goen dengan sedikit terkekeh.

Seketika saya ingat tentang musik kontemporer.

Kami di komunitas seringkali memperbincangkan bagaimana musik kontemporer harus “hidup” di telinga masyarakat. Artinya, apakah masyarakat dituntut untuk memahami bunyi-bunyian yang konon jauh lebih rumit seribu kali lipat ketimbang musik pop itu? Namun pikiran saya sudah lama sadar, bahwa ketika saya menonton (mendengar) pertunjukan musik kontemporer, sudah sejak dari rumah “tidak ingin punya target memahami.” Menyukai saja sudah bersyukur. Tapi anehnya, banyak juga teman yang trauma bunyi kontemporer. Tak mau lagi dengar musik kontemporer. Alasannya?  Sederhana: bikin pusing dan muntah.

Begitulah. Memang rasanya kita “selalu dipaksa menerima apa saja” setiap hari. Soal paham atau tidak itu memang urusan masing-masing.

PROBLEMATIKA BAHASA DALAM KRITIK MUSIK

Telinga kita sedang menjelajah untuk menggali makna-makna musik. Ada banyak cara. Salah-satunya melalui kritik musik (music criticism). Kritik musik adalah uraian kata-kata untuk mengulas peristiwa musik (auditif) yang diekspresikan melalui tulisan.

Tentu saja ada konsekuensi atas “jenis kata” yang dipakai, yang bisa memunculkan beraneka tafsir bagi pembaca. Salah-satu jenis kata itu adalah “kata sifat”, yang sangat riskan terhadap stigma dan tendensi (norma-norma). Contoh: “Musik itu terdengar begitu segar, manis, dan eksotis; intim sekaligus seksi; unik dan menarik.”

Apakah pembaca bisa membayangkan, bagaimana bunyi yang segar, manis, eksotis, intim, dan seterusnya itu? Mungkin akan sulit. Musik itu sendiri, sebagai seni auditori (pendengaran), sifatnya sudah (sangat) abstrak, tidak bisa diraba (intangible), tidak seperti sastra atau seni-rupa yang terlihat kasat-mata.

Itulah yang mencoba dibahas oleh Kris Budiman dalam ceramahnya yang bertema “Musik dan Kata Sifat Kritik” (Music and Adjectival Criticism) di Wisma Seni, Solo (17/1/2017) dalam rangkaian acara Bukan Musik Biasa ke-56, dipandu Halim HD. Guna mendukung hipotesisnya, Kris Budiman menyampaikan argumen-argumen, terutama dalam konteks semiotika, sebagai disiplin yang ia kuasai.

Menarik, namun ceramah itu juga menuai opini (kritik). Menurut Kris Budiman, makna-makna emosional inilah yang kemudian membuat musik cenderung diper-kata-kan, diterjemahkan ke dalam bahasa, sebagai kata sifat. “Jadi, adalah masuk akal jika kritik musik pun pada gilirannya menjadi sarat dengan kata sifat atau cenderung adjektival”, ujarnya.

Tentu saja—seperti di atas telah disinggung—kata sifat yang dipakai akan bisa berakibat multi-fafsir. Akan tetapi, mana mungkin “kata sifat” diminimalisir, apalagi “dihindari”? Sementara, musik, sebagai bentuk ekspresi manusia, sudah secara kodratnya melekat makna-makna emosional (afektif).

“Adakah sarana-sarana kebahasaan lain untuk membincang musik tanpa menggunakan kata sifat?”, lanjut Kris. Alih-alih merombak bahasa tentang musik, itu merupakan sesuatu yang musykil, lebih baik, menurut Kris yang mengutip Barthes, kita menggeser pemahaman atas objek musikal itu sendiri, yakni musik sebagai teks yang bermakna (Barthes, 1985: 184). Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah sebuah kritik yang mampu merangkul pendekatannya ke dalam sensibilitas atas makna (sensibility of meaning). Di sinilah, sebagaimana pernah dinyatakan oleh Roy Shuker (1994), kajian semiotik terhadap musik memperoleh posisinya sebagai pendekatan yang lebih peka atas makna-makna musikal.

Problematika

Sayangnya, dalam ceramah tersebut Kris hanya mencontohkan fakta-fakta (tulisan-tulisan tentang musik) yang lebih menyoroti musik populer. Sementara, musik yang berkembang di dunia ini begitu bermacam, dan bentuk-bentuk tulisan tentang musik juga sangat banyak macamnya. Sebab itu, pendekatan untuk menelisik setiap jenis musik, menurut pengalaman saya, juga akan menjadi beragam. Kris juga tidak memberikan komparasi yang lain, baik itu tawaran beserta contoh penggunaan jenis kata lainnya, maupun formula lebih detail untuk lebih mendukung argumennya.

Diakui oleh Kris, ia memang tidak menguasai musik, kecuali semiotika dan kajian seni. Sementara, pisau analisis yang paling pas untuk membedah masalah ini adalah disiplin musikologi. Saat ini perkembangan disiplin ini telah begitu luas. Dan kritik musik juga menjadi salah-satu bagian dari sub-disiplin dalam musikologi yang disebut New Musicology (lihat Contemplating Music: Challenges to Musicology, Kerman, 1985).

Dalam New Musicology, tiga pendekatan terintegrasi menjadi satu, yaitu estetika, kajian budaya, dan kritik musik. Tentu saja menjadi tidak masuk akal apabila bobotnya lebih ditekankan pada semiotika saja, sementara dasar musikologisnya tidak dikuasai. Belum lagi Empirical Musicology (Cook, 2004) yang mencoba memahami musik sebagai pengalaman empiris melalui berbagai metode.

Dalam berbagai literatur mengenai bagaimana menulis tentang musik juga sering disebutkan bahwa kita tidak bisa menghindari metafora-metafora (penggambaran atas suatu objek)—bahkan itu subyektif, terkesan seperti prosa yang naratif, bahkan puisi, melibatkan perasaan (DiYanni, 1980). Tak jarang juga, seorang pengaba orkestra yang mencoba memberi instruksi kepada musisi, tentang suatu karya yang tengah diinterpretasikan, juga menggunakan metafor-metafor yang seringkali bermuatan kata sifat: “Coba horn dimainkan lebih gelap; bagian ini violin harus lebih terang dan tajam, dan seterusnya.”

Masalah lain

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika Kris juga tidak menyinggung sama-sekali mengenai posisi “pembaca”, dalam arti elemen masyarakat yang memiliki hak penuh untuk mengapresiasi “kritik musik” demi peningkatan apresiasi (wawasan). Mengingat, bagi Suka Hardjana (2004), kritik musik adalah jembatan yang menghubungkan antara karya musik, musisi, dan publik.

Sebab itu perlu dipahami pula watak audiens kita, yang cenderung (masih) menganggap bahwa musik tidak lebih dari sekadar hiburan daripada pengetahuan. Apakah audiens di Indonesia juga benar-benar membutuhkan “kritik musik”? Yang seperti apa? Jangan-jangan mereka lebih nyaman dengan adanya “kata sifat” di dalam kritik yang lebih mewakili sisi emosional, dibanding kemungkinan lain yang barangkali akan menjadi lebih berat (deskriptif, analisis, kajian musik). Ini juga perlu kita pertanyakan dan butuh studi lebih lanjut lagi.

Sifat Kata

Sekarang kata sifat akan kita balik menjadi “sifat kata”. Ini tawaran alternatif. Kata, sebagai elemen dari bahasa, memiliki sifat yang bermacam: lentur, kaku, tajam, lembut, menusuk, dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan, sejauh pengalaman saya, adalah masalah fonetik dari tiap kata yang dipakai untuk menafsirkan musik. Ini masalah asosiasi atas “bunyi” kata (pengucapannya) dan konsekuensinya.

Misalnya, bagaimana menggambarkan musik rock yang cenderung “keras” di telinga? Apakah dengan kata “bergemuruh”, “cadas”, “tajam”, “menohok”, mana yang lebih tepat dan “berbunyi” (fonetik), serta lebih analogis untuk membahasakan musik? Inilah yang perlu disiasati dengan memahami “sifat kata”nya. Akan ada banyak contoh lain yang bisa kita cermati lagi.  

Tentu saja, selain menguasai istilah musik, juga dibutuhkan penguasaan (ber)bahasa, kemampuan mendengarkan, imajinasi, memahami pembaca, dan tentu saja teknik menulis (creative writing) yang memadai. Semiotika, yang menganggap musik sebagai teks yang bermakna, akan lebih melengkapi semua itu dan menjadikan “kritik musik” lebih sempurna sesuai porsinya. Bukankah menjauhi atau meminimalisir “kata sifat” dalam kritik musik sama saja dengan mengubur salah-satu nilai alamiah yang dimiliki manusia (dalam hubungannya dengan musik itu sendiri), yaitu ekspresi?