Tahun Produktif Rilisan Album Gitar Klasik-Akustik (2018-2020)

Mari sejenak kita meluangkan waktu untuk mengapresiasi karya-karya musik terkini di dunia pergitaran Indonesia, lebih tepatnya pergitaran instrumentalia jenis klasik dan akustik.

Dua istilah itu, (gitar) klasik dan (gitar) akustik, sebetulnya mempunyai pengertian yang agak saling-tubruk. Tapi gampangnya begini saja: gitar klasik untuk menyebut gitar yang bersenar nilon, dan gitar akustik adalah sebutan untuk gitar bersenar baja/kawat. Keduanya memiliki kesamaan, bisa berbunyi tanpa tenaga listrik dan punya area resonansi yang menjadi muara dari sumber bunyi yang dihasilkan oleh dawai yang disenggol atau badan gitar yang dipukul.

Cukup menggembirakan, karena sepanjang 2018 hingga 2020 tiap tahun nongol satu album yang mengetengahkan karya-karya instrumentalia untuk gitar solo dan ansambel. Kebetulan semua album itu mbrojol di Yogyakarta, meskipun gitarisnya berasal dari berbagai penjuru negeri.

Yang pertama adalah Album Kompilasi Volume 1 dari Kolektif Gitar Klasik Indonesia (Indonesian Classical Guitar Collective). Album ini dirilis pada 2008 dengan ditandai potong tumpeng dan doa di Ethnictro Music Education, Jogja. Isinya adalah rekaman-rekaman dari beberapa ansambel dan gitaris solo. Mereka adalah: Nocturnal Guitar Quartet, Duo Anantara, Duo Rocky, Nabita Guitar Duo, 9PM Guitar Duo, Ahmad Fauzi Ihsan, Putu Lia Veranika, dan Fauzi Akmal Rabbani. Umumnya mereka memainkan karya-karya lama dari berbagai komponis luar Indonesia, dan hanya satu karya dari komponis Indonesia.

Dengarkan album dari ICGC di sini.

**

Yang kedua adalah album GATRA, Nocturnal Guitar Quartet. Album yang dirilis pada akhir tahun 2019 ini sangat spesifik, karena secara khusus menampilkan karya-karya komponis dari Indonesia yang diminta menulis untuk karya dengan format kwartet, atau empat gitar. Kwartet yang digawangi oleh Vaizal Andrians, Gita Puspita Asri, Roby Handoyo, dan Adi Suprayogi ini pertama kali merilis album setelah lima tahun kiprah mereka. Tercatat NGQ menjuarai beberapa kompetisi ansambel gitar, antara lain di Italia, Jepang, dan Malaysia. Prestasi tersebut sangat membanggakan dan memberikan inspirasi tersendiri bagi rekan-rekan yang menggeluti ansambel gitar klasik.

Dengarkan album dari Nocturnal Guitar Quartet di sini.

Ulasan album GATRA bisa dibaca di sini.

Yang ketiga adalah album dari kolektif gitar fingerstyle (Indonesian Fingerstyle Guitar Community) yang rilis pada 17 Agustus 2020, persis di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Album ini mengusung ide—yang sekaligus dijadikan nama album—WE CREATED, NOT COPY PASTE. Memberi pesan kepada gitaris fingerstyle di seantero Indonesia agar mulai berani mengarang karya sendiri, bukan “ngover-ngover” atau copy-paste.

Album dari IFGC ini tidak didistribusikan secara digital, namun dijual fisik dalam konsep bundle dengan produk lainnya. Jadi silakan mengapresiasinya dengan menghubungi narahubung (klik di sini).

Selamat untuk semuanya!

ZIARAH MUSIKAL KE MAKAM SUKA HARDJANA

Di makam Pak Suka, Triyagan, Karanganyar, Jawa Tengah.

Minggu, 16 Agustus 2020, telepon berbunyi, Bu Suka mengirim kabar, lebih tepatnya mengajak saya untuk ikut tabur bunga ke makam Pak Suka pada esok hari. Tanpa pikir panjang, ajakan itu saya terima begitu saja.

Senin, 17 Agustus pagi kami bertemu di Solo. Turut hadir pula sebagian keluarga Pak Suka yang datang dari Jogja, sekitar belasan orang. Serombongan tiga mobil kami berangkat, dari Solo ke Triyagan, Karanganyar. Saya satu mobil dengan Bu Suka dan Mbak Jum, asisten pribadi ibu. O, ya, sebelum berangkat kami dijamu gule kambing dan opor ayam, lengkap dengan lauk pauk yang lezat.

“Hari ini 82 tahun, Mas. Pasti bapak senang, dikunjungi kita semua,” kata Bu Suka lirih.

17 Agustus memang merupakan hari lahir Pak Suka, sosok yang banyak dikenal sebagai penulis dan inspirator, khususnya di dunia musik. Seluruh hidup Pak Suka memang telah terbukti didedikasikan untuk pertumbuhan musik dan pengetahuan melalui buku-buku yang ditulisnya, penyelenggaraan pementasan musik klasik-kontemporer yang diadakannya, diskusi dan ceramah, hingga menjadi pembimbing untuk berbagai penelitian musik.

Melalui Pak Suka saya banyak sekali belajar bagaimana menulis dengan retorika yang baik, bagaimana  menulis agar mudah dipahami masyarakat luas. Dan saya selalu senang karena terus disemangati agar tetap menulis. Mengenal Pak Suka secara personal adalah rahmat tersendiri yang saya nikmati, syukuri, agar menjadi amal kepada siapa saja. Persis seperti anjuran Pak Suka suatu ketika kepada saya di sebuah SMS:

“Mas Erie, saya telah membaca buku-buku Anda. Terimakasih atas kirimannya. Paket Anda hampir rusak karena pak pos melemparnya sembarangan dari luar pagar! Itu tabiat yang tidak pantas ditiru. Untungnya saya bergegas menyelamatkannya. Mas Erie, pertama-tama saya senang, Anda mau menulis dan turut menerbitkan buku-buku. Setidaknya Anda membukakan pikiran masyarakat kepada hal-hal yang belum tentu mereka pikirkan, tentu saja selamat atas terbitnya buku Anda. Hanya satu catatan untuk Anda: tetaplah menulis, hanya itulah satu-satunya cara untuk membuka cakrawala bahwa dunia musik tidak hanya yang serba glamor dan hiburan! Kalau ke Jakarta jangan lupa beritahu saya, silakan menginap di rumah saya sepuasnya. Shaloom, Suka Hardjana.”

**

Setelah 30 menit perjalanan, kami akhirnya tiba di makam, dipayungi terik matahari yang cukup menyengat, tepat di tengah hari. Bu Suka memimpin doa. Kami berada dalam suasana khusyu’ sekian menit, lalu kami menabur bunga, bergantian.  

“Ini adik-adikmu datang, banyak sedulur-sedulurmu, ada Mas Erie juga,” bisik Bu Suka di depan nisan putih yang bersih.

Hari Merdeka kali ini memang terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena biasanya saya cuma main musik mengisi hiburan di acara tirakatan kampung. Kali ini diberi kesempatan dan renungan untuk berziarah ke makam “seorang pahlawan.” Benar-benar tidak berlebihan saya mengatakan itu untuk Pak Suka. Pahlawan, sebuah kata yang diserap dari Bahasa Sansekerta phala-wan, artinya adalah orang yang menghasilkan buah berkualitas bagi bangsa.

“Pak Suka, saya pamit dulu.”

Triyagan, Karanganyar, 17 Agustus 2020.

Tulisan saya lainnya tentang Pak Suka, yang menyuguhkan informasi lebih komplit, silakan klik: Di Tangah Suka Hardjana Musik Menjelma Ilmu Pengetahuan

Sejam Bergizi di Podcast See n See

Sebuah kehormatan bisa ngobrol asik dan mengalir di video podcast See N See Guitar. Kami ngobrol soal yang terjadi di dunia per-gitar-an Indonesia saat ini (entah klasik, fingerstyle, dan lain-lain), luthier (pembuat gitar), album-album yang muncul, tantangan gitaris-gitaris pemula, hubungan musik dan pengetahuannya, dan bla-bla-bla. Pokoknya semua menyemangati. Terimakasih Cornel, Tia, Reza, dan Agi.

Silakan menyimak pada tautan ini.

Pengarsipan Musik Harus Jalan Terus!

Terbitnya buku ini memberi makna sekaligus penegasan bahwa kerja pengarsipan musik di Indonesia masih terus dilangsungkan, bahkan makin semarak, terlepas dari berbagai kendala yang dihadapi.

Buku Dua Dekade Musik Indonesia (1998-2018), disusun oleh Kelik M. Nugroho

Pada saat resensi ini ditulis, tersiar kabar ironik di akun Instagram @iramanusantara. Mereka sendiri yang mengumumkan berita buruk itu, diikuti swa-ultimatum yang terasa ngilu. Inti siarannya begini: ”Kami tutup, atau lanjut?”

Sebagai informasi, Irama Nusantara telah tujuh tahun berkontribusi mengarsipkan musik populer Indonesia, salah satunya dengan jalan penyimpanan, perawatan, digitalisasi, dan penyiaran arsip melalui website.

Semenjak pandemi korona menyergap dan menyeret banyak organ ke ”lubang hitam”, Irama Nusantara ikut keok, atau setidaknya hampir keok. Maka mereka berinisiatif mengadakan galang dana untuk menyelamatkan diri. Nanti kita lihat, jika tak ada hasil signifikan, maka pada September 2020 mereka akan memilih jalan terakhir: gulung tikar.

Pengantar di atas menurut saya sangat pas dengan momen meluncurnya buku  Dua Dekade Musik Indonesia ini. Ada makna sekaligus penegasan bahwa kerja pengarsipan musik di Indonesia masih terus dilangsungkan, bahkan makin semarak, terlepas dari berbagai kendala yang dihadapi.

Setidaknya tiga buku serupa sebelumnya, yaitu 100 Tahun Musik Indonesia (Denny Sakrie, 2015), Almanak Musik Indonesia (Kelik M Nugroho, 2015), dan 100 Konser Musik di Indonesia (Muhidin M Dahlan, Anas Syahrul Alimi, 2018), menjadi sangat menarik jika diestafetkan dengan buku ini. Semuanya sama-sama berusaha memadatkan musik yang tadinya ”seni waktu” (yang bersifat sementara, didengarkan dan hilang/einmalig), menjadi ”seni data dan informasi” yang memicu terciptanya pengetahuan dan manfaat.

Kelik M Nugroho, penulis buku ini, berlatar belakang seorang jurnalis yang menggemari musik dan memiliki perhatian besar terhadap pendokumentasian kronik dan leksikonik. Buku ini adalah kontribusinya yang kedua, setelah Almanak Musik Indonesia. Niatnya sama-sama ingin membaca jejak aktivitas-kekaryaan musik di Indonesia secara periodik.

Diakui Kelik bahwa sebetulnya masih sulit untuk menemukan gambaran perkembangan musik pop Indonesia secara periodik. Generasi demi generasi bermunculan, kemudian tenggelam meninggalkan batas-batas yang tidak jelas.

Misalnya jika kita melihat bentangan tersebut berdasarkan kurun dekade, nyaris tidak ada simpulan-simpulan yang signifikan dari tiap perkembangannya, data yang dominan hanyalah berupa identifikasi atas corak-corak musik yang tengah tren pada tiap dekade. Misalnya tren rock dan eklektik yang begitu luar bisa di dekade 1970-1980-an.

Sebab itu, selain mendata, sebetulnya buku ini juga mengetengahkan wacana, justru dengan pertanyaan lebih kritis: Apakah memang perlu sejarah musik Indonesia kemudian dibingkai ke dalam periodisasi semacam ini? Bukankah lebih cocok (sepertinya), berangkat dari momentum-momentum saja?

Misalnya hadirnya perusahaan-perusahaan rekaman lawas, termasuk Lokananta, kemudian munculnya Bintang Radio dan Televisi, gugurnya sentralisasi industri musik, dan seterusnya. Semua itu memberi pengaruh apa, ada kemajuan dan kemunduran seperti apa? Belum tahu, sepertinya menarik untuk didiskusikan kembali.

Substansi

Buku ini memang tampil ”berani”. Ada proses kreatif yang sebetulnya tidak sederhana, yaitu pergulatan ide untuk mengetengahkan baris nama-nama yang paling berpengaruh dalam perjalanan musik di Indonesia. Misalnya buku ini menampilkan data yang sejujurnya ”riskan” untuk diketengahkan, yaitu ”10 Besar Band Indonesia” yang dipilah dalam dua rentang waktu (1945-1997 dan 1998-2018). Riskan karena memakai kata ”10 Besar” pada judul babnya.

Ada kemungkinan memicu ”cuitan” hingga kontroversi. Misalnya: Band apa saja yang (dianggap) terlewat dari amatan? Apa parameter logisnya sehingga yang ini disebut besar, yang itu tidak? Dan seterusnya. Sudah terasa rumitnya jika diperdebatkan, dan sejauh kita tahu, musik bukanlah lomba; eksistensi sebuah band rasanya juga bukan demi tujuan dirankingkan seperti itu. Pada sisi lain, ”keberanian” ini juga menarik sebagai pemantik diskusi-diskusi lebih detail sesudahnya.

Bab ”10 Besar Band Indonesia” kemudian diikuti dengan ”Daftar 100 Band Indonesia (1998-2018)” dan ”Daftar Penyanyi Indonesia (1998-2018)”. Kedua bab tersebut bermanfaat untuk memantau kembali ”siapa-siapa yang ada” dan ”apa saja contoh karya-karya mereka”. Isinya sekadar daftar pada umumnya yang berhasil menjadi etalase dari sekian banyak ”produk-produk”. Sangat memudahkan kita membacanya tanpa harus selancar mencari tahu ke sana-kemari melalui banyak sumber.

Memang terasa ada yang lebih bisa didiskusikan selain hanya menyimak riwayat masing-masing band/penyanyi itu.

Begini, dua dekade untuk ukuran usia manusia adalah rentang waktu yang pendek, beda halnya dengan perjalanan musik, itu kurun yang melelahkan. Tapi sayangnya, industri musik di Indonesia pada faktanya lebih banyak menghadapi nasib buruk, di tengah segala kegairahan, kesuksesan, dan glamoritasnya. Sejujurnya kita juga masih belum berhasil menemukan orientasi dan kontribusinya bagi banyak hal, entah kebudayaan, ekonomi, maupun sosial-kemanusiaan. Penekanan ini agaknya juga menjadi penting.

Dua riset terkini: (1) Memetakan Ekosistem Musik Indonesia (Dina Dellyana, 2020), dan Pemetaan Ekologi Sektor Musik Indonesia (Idhar Resmadi, 2020), agaknya jadi nyambung dan mesti terhubung dengan kerja pendataan semacam buku ini. Mengingat, dari 12 rekomendasi yang mencuat di forum Konferensi Musik Indonesia (KAMI), tahun 2018 dan 2019, ada tiga hal yang menjadi pengerucutan dan perhatian penting: Sistem pendataan dan pengarsipan terpadu, infrastruktur musik, dan pendidikan musik.

Semua itu masih berupa pemetaan, masih terasa ”angan-angan”, masih menjadi harapan, bahkan beberapa terasa klise: ”Ah, apa mungkin mewujudkan semua itu?” Realisasi dan problematikanya akan menjadi soal berikutnya. Ada pertarungan antara optimisme dan pesimisme yang luar biasa.

Pada intinya, bagi para pembaca, pembacaan riwayat seperti ini memang perlu diikuti dengan aktivitas/benang merah yang lain, setidaknya ada tiga: pertama, mendengarkan secara langsung karya-karya mereka; kedua, melihat kemungkinan hubungannya dalam berbagai konteks: ekonomi, kebudayaan, sosial, dll, salah satunya dengan cara menyimak misi karier band/penyanyi, melengkapi perhatian kita pada produksi dan distribusi karya mereka. Dari situ akan tergambar medan perjuangan band/penyanyi di luar uang dan popularitas.

Persis seperti yang dikatakan penyusunnya: ”Musik tak mungkin berkembang sendirian.” Ketiga, meneruskannya menjadi dialog-dialog terbuka dengan topik yang lebih luas, dan rasanya harus makin berlangsung intensif, supaya musik dapat terus berkembang dalam wacana dan kritik.

Kelik M. Nugroho (Foto dok. pribadi)

Penutup

Bagian kronik musik 1998-2018 di buku ini (hlm 181-354) adalah yang paling menarik pada sisi keseimbangan pada penyajian, artinya tidak sebatas industri musik yang moncer. Ada ratusan informasi cukup detail mengenai momentum-momentum di dunia musik Indonesia berdasarkan berita-berita di media massa, antara lain momen konser, festival, penerimaan penghargaan, meninggalnya musisi, rilisan album, dan seterusnya.

Buku Dua Dekade Musik Indonesia selayaknya membuat kita semakin optimistis bahwa Indonesia adalah ruang besar dengan segala aktivitas kebudayaan musik yang beragam. Keberagaman yang ada di dunia musik Indonesia, khususnya di lanskap industri musik, memang sudah selayaknya diikuti dengan pemikiran-pemikirannya. Hal ini supaya musik juga bisa dimaknai tidak sekadar sebagai gaya hidup atau tren semata.

Keadaan pada masa kini misalnya, musik populer lebih sering dilihat sebagai pencitraan dan uang, musisi makin berlomba untuk eksis cari tenar dan pundi-pundi melalui internet. Visual lebih menonjol ketimbang musik. Kita juga sudah jarang sekali berdiskusi soal kualitas musik secara intim, seperti pembicaraan-pembicaraan pada setidaknya dekade 1970-1980-an. Nyaris saat ini semua terasa ”rata-rata”.

Buku ini selayaknya memancing diskusi dan mengangkat derajat pengetahuan kita tentang musik. Dan tentu saja, pengarsipan musik harus tetap jalan terus. Bahkan, kalau perlu meluas dengan pengarsipan genre musik dangdut, tradisional, pop religius, dan klasik yang dalam kenyataan juga menjadi bagian sehari-hari kehidupan masyarakat Indonesia.

Data Buku:

Judul Buku: Dua Dekade Musik Indonesia (1998-2008)

Penulis: Kelik M Nugroho

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun Terbit: Cetakan pertama, 2020

Tebal: ix + 355 halaman

ISBN: 978-602-481-309-3

Artikel ini telah dimuat di kompas.id dalam rubrik resensi (9/08/2020).

Sapardi Djoko Pinurbo: Tentang Ketakjuban Saya pada Imajinasi Mereka

Karya: Alfin Rizal

Mungkin hanya penyair yang bersungguh-sungguh, yang (selalu) berusaha menciptakan—istilah Pak Sapardi—“bahasa khas”, ekspresi yang otentik, personal, sulit ditiru, dan terus-menerus menggugah rasa indah para pembacanya.  

Sapardi mengaku hanya mengandalkan “imajinasi” ketika menulis puisi.

“Ah, Pak Sapardi bo’ong! Itu pasti bukan imajinasi level biasa!”

“Oh, imajinasi ada levelnya, ya? Kayak sambel aja! Ha.Ha.Ha,” ujarnya terkekeh.

Ya, di dalam imajinasinya itu, menurut keyakinan saya, terkandung rempah-rempah mujarab berikut resep-resep yang tidak sembarangan, sebagai modal menelurkan puisi-puisi khidmat. Saya juga teramat yakin ada teknik-teknik tersembunyi, seperti koki memasak. Semua teknik itu, dalam segala kemungkinan aplikasinya, tidak selalu bisa dibocorkan gamblang. Selalu ada rahasia, bahkan rahasia yang tidak pernah bisa untuk diungkapkan. “Kok bisa bagus?”; “Ya, pokoknya begitu…”

Barangkali imajinasi yang dibilang Einstein juga bukan imajinasi yang serampangan saja, namun imajinasi yang telah melewati berbagai pergumulan. Imajinasi Sapardi—atau seniman pada umumnya yang berdarah-darah mengeksplorasi sumber-sumber kreatif dari mana saja—adalah imajinasi yang terus-menerus dipergulatkan dengan: (1) Waktu—entah kapan itu berakhir yang jelas harus terus mencipta; waktu adalah fana, tidak bisa dideteksi, sementara kita (pikiran manusia) abadi; (2) Makna hidup pribadi—soal renungan hingga kebahagiaan personal; (3) Manfaatnya bagi Orang Lain—karena puisi juga memberi penghiburan sekaligus makna bagi pembacanya.

Imajinasi dalam level yang kompleks, selalu bergulat dengan pengetahuan dan keputusan yang tiada habisnya. Terus diupayakan. Sering gagal, atau nanggung, bahkan sebagian hasilnya dianggap tidak penting. Dari beragam hasil-hasil itu, ada yang kemudian muncul sebagai hasil “yang tidak sembarangan.”

Waktu pertama kali membaca “Aku Ingin”, saya betul-betul membayangkan kata-kata berikut ini dalam wujud fisiknya:

…kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

…isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Ada yang sulit dimengerti, namun bisa dinikmati.

Ada yang logis, ada pula yang abstrak.

Sapardi “meng-orang-kan” kayu dan awan (personifikasi), dan memunculkan kisah tersendiri sebagai “epistemologi batin” dari dua benda kasat yang diimajinasikan agar terasa punya peristiwa. Kagum pada puisi itu, dan saya senang menyanyikannya setiap waktu.

Begitu pun pada puisi “Dalam Doaku”, selalu dikutip penutupnya oleh banyak orang. Memang sangat menyentuh:

Aku mencintaimu

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai

Mendoakan keselamatanmu…

Ada celah untuk berakrobat sedikit di antara kata “mendoakan” dan “mu.” Yang mudah dan umum cukup “mendoakanmu”, tapi itu terasa imajinatif level biasa. Maka ditambahkan kata “keselamatan”—yang menyempil di antara “mendoakan” dan “mu”, yang menjadikan penutup puisi ini sangat kuat dan menyentuh… Membuat saya khususnya, sungguh selalu ingin berdoa bagi keselamatan siapa saja.

Kebetulan 2017 lalu Art Music Today berproyek dengan pianis Angelica Liviana, membawakan gubahan “Dalam Doaku” yang ditafsir pianis-komponis Ananda Sukarlan dengan sangat apik menjadi karya komposisi musik.

“Hujan Bulan Juni” juga lebih dari sekadar hujan yang jatuh begitu saja. Atas kekaguman ini saya mengarang melodi lagu untuk puisi itu. Dengarkan di sini: https://www.facebook.com/eriemusike/videos/10155029373134910.  

Akan ada sejuta obituari untuk Sapardi. Itu tidak berlebihan untuk penyair sekhidmat dan sekonsisten beliau; yang memberi warna tersendiri pada alam raya puisi Indonesia.

**

Nah, ketika mengenali puisi-puisi Pak Sapardi, saya kok otomatis merasa tergeret dengan penyair lebih muda satu lagi: Joko Pinurbo. Kekuatannya juga serba ekstra. Wajah JokPin itu, kalau menurut saya, sudah sangat puitik, lengkap dengan tekstur dan guratan-guratan hasil perenungan dan perjuangan mendalam terhadap bahasa sebagai produk ekspresi yang khas, yang ditelurkan tanpa mengenal waktu. Artinya, kapan pun di tubuh dan pikiran Joko Pinurbo ada puisi. Makan minum puisi, tidur puisi, ia tak pernah sebenar-benarnya puasa berpuisi. Bagaimana mau ditandingi? Layaknya Didi Kempot yang bagi saya “di atas rata-rata.”

“Kamus Kecil” adalah yang paling saya suka sejak baris pertama, terutama dua penggalan ini:

Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba…

Dan juga ini:

Bahasa Indonesiaku yang gundah

Membawaku ke sebuah paragraf yang merindukan bau tubuhmu…

Dalam interpretasi saya yang sangat awam dan tak paham teori puisi, Joko Pinurbo melakukan banyak sekali terobosan dalam berbahasa. Ada berlapis-lapis keseriusan di tengah segala permainan kata yang terkesan menggelitik, sederhana tapi kalau dicoba sulit, butuh waktu panjang untuk sampai kepada “yang khas” itu. JokPin memperbaharui Sapardi dalam gaya dan ekspresi, meneguhkan kembali rasa tanggap kita terhadap bahasa Indonesia yang belakangan kerap dipakai sembarangan saja oleh orang-orang yang tak pernah mau menghargai “nyawa bahasa.”

Maka dari itu, upaya memberi nyawa pada bahasa adalah harga mati bagi JokPin, dan tentu saja Sapardi. Keduanya sama bagi saya, memberi makna bagi hidup ini. Karena sama, nama keduanya bisa disatukan: Sapardi Djoko Pinurbo.

Selamat Jalan, Pak Sapardi. Terima kasih, Pak JokPin.

Hormat saya.

Solo, 23 Juli 2020 04.49 WIB. Subuh.

Bedah Buku “Renungan Perihal Musik” Karya Sumasno Hadi

15 Juni 2020 diajak oleh rekan saya, Sumasno Hadi, seorang penulis, dosen, peneliti di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, untuk membahas buku terbarunya: Renungan Perihal Musik. Ada dua pembahas, satu lagi adalah Novyandi Saputra, salah satu penggiat seni di Banjar. Dipandu oleh Puja Mandela dari apahabar.com.

Forum daring ini diikuti oleh 50-an peserta dari berbagai kota, bahkan ada juga Ibu Jody Diamond, yang bergabung langsung dari New York. Turut hadir pula Pak Aton Rustandi Mulyana dari ISI Solo, Palmer Keen, Putu Septa, dan kawan-kawan lain.

Pembicaraan yang pada mulanya menguliti isi buku dari beragam perspektif, akhirnya meluas membicarakan, salah satunya, soal kritik musik dan ekosistem seni, khususnya di Kalimantan Selatan.

Selamat untuk Mas Masno atas peluncuran buku terbarunya. Semoga makin jos untuk terus mewarnai pertumbuhan literasi di Kalimantan Selatan.

Untuk mendapatkan buku karya Sumasno Hadi silakan langsung menghubungi penulisnya di Facebook: Sumasno Hadi. Dan untuk menyimak secuil liputannya silakan klik di sini.

Kelas Isolasi #61 – Musikalingua

Dalam seminggu terakhir saya diminta mengisi 3 X sesi webinar/diskusi daring tentang musik, salah satunya memberi materi untuk Kelas Isolasi yang diasuh Pak Syarif Maulana dan kawan-kawan. Materi di sesi Kelas Isolasi adalah seputar mem-bahasa-kan musik, atau bagaimana menerjemahkan musik ke dalam bahasa, baik lisan/tertulis. Upaya ini tentu saja akan melengkapi pemaknaan kita terhadap musik, mempertajam manfaat/fungsi musik untuk kehidupan kita, lebih dari sekadar kesan, misalnya mendengar lalu bilang: “bagus, jelek, biasa saja, istimewa, keren, fantastis, asoy, anjir bagus banget, dan seterusnya”-dimana semua itu terasa hanya sebagai impresi spontan saja, dan mungkin juga mengakibatkan multi-tafir. Saya percaya ada banyak kemungkinan untuk diperdetail/dikembangkan selain hanya “berkesan.”

6 Kunci yang saya bagi ini adalah 1 slide dari 20an slide materi yang saya buat, menjadi rangkuman sederhana untuk memasuki alam MUSIKALINGUA, yaitu kaitan yang tak pernah terputus antara musik dan bahasa.Musik mempengaruhi impresi, bahasa menjelaskannya.

Musik Klasik yang Menyejarah di dalam Hidup Saya

Sekitar 1999-2000 saya dikado oleh seorang rekan ibu beberapa kaset “musik klasik”, salah satu yang saya ingat adalah rekaman simfoni Tchaikovsky. Terasa aneh dan asing di telinga, tapi memikat untuk terus didengarkan.

Tak hanya itu, oleh guru privat saya, alm. Djunaedi Koeswara, saya juga dihadiahi beberapa rekaman gitar klasik, antara lain berisi permainan John Williams dan Julian Bream. Waktu itu saya memang sedang kursus gitar klasik secara intensif untuk mempersiapkan kuliah di ISI Jogja. Kadang sampai mewek karena beratnya materi, dan kadang tidak kuat dengan disiplin belajarnya, beda banget sama musik God Bless yang juga saya geluti bersamaan.

Semenjak dua momen itu saya mulai hobi berburu kaset-kaset musik klasik bekas di lapak-lapak di Solo dan Jogja, bahkan hingga ke sudut-sudut kota Jakarta (belum tren transaksi online). Lalu pada 2003 kalau tidak salah, saya membeli sebuah kaset dengan tajuk “Musik Pengiring Belajar”, berisi rekaman karya-karya Mozart. Menurut riset ilmiah, musik-musik di dalam kaset ini berpotensi meningkatkan kecerdasan pelajar dan mahasiswa. Saya pun mencoba mempraktikkannya, baca buku filsafat Yasraf Amir Piliang sambil dengar kaset itu. Memang lumayan membantu konsentrasi dan membawa ketenangan, meskipun soal kecerdasan itu saya tak tahu, apakah ada efek langsung atau tidak. Eh, di 2007 saya malah menulis sebuah resensi di Harian Kompas, membahas buku “Matinya Efek Mozart” karya Djohan. Agak paradoks tapi sangat menarik sebagai sebuah “kisah dan dilema.”

O, ya, setahun sebelumnya, 2006 Muhammad Syafiq menulis “Ensiklopedi Musik Klasik” dan saya hadir pada peluncurannya di Bentara Budaya Jogja. Senang sekali ada buku seperti itu di tengah langkanya literatur yang membahas musik klasik kecuali skripsi/tesis. Saya kerap diskusi dengan Thomas Yulian Anggoro untuk membahas banyak hal tentang musik klasik, dan kadang menemaninya siaran di Eltira FM, biasanya berlangsung jam 23.00 hingga 01.00 WIB. Ada horor juga, tiba-tiba stand mikrofon geser sendiri, didorong “hantu klasik” di radio itu.

Saya makin produktif menulis ulasan-ulasan konser musik klasik, wacana-wacananya, dan terlibat dengan berbagai urusan produksi, baik konser dan album-album, terutama yang diselenggarakan di Yogyakarta. Hingga saat ini kegiatan menulis masih berlangsung. Yang terbaru menulis untuk resital Duo Piano Ike Kusumawati dan Adi Utarini (2019), menganalisis beberapa karya yang ditampilkan. Begitulah sekelumit yang menyejarah dan membekas. Tentu saja masih ada kisah-kisah yang lain, diselingi pemikiran-pemikiran yang terasa serius dan menuntut perhatian banyak pihak di kawasan musik ini.

Kami akan siaran langsung ngobrol jarak jauh, tak hanya membahas kisah dan sejarah musik klasik di masa silam, tapi juga tantangan-tantangan ke depan menurut apa yang kami alami dan amati. Saya akan bersama Ania, peneliti sejarah pertunjukan musik klasik di zaman Hindia-Belanda, Adit, dosen, penulis, dan musikolog untuk Jakarta City Philharmonic. Dipandu Bung Mike yang punya perhatian besar pada wacana-wacana semacam ini.

See you! Rabu, 3 Juni.

MERAYAKAN 2700 TAHUN KEMENANGAN MUSIK MELAWAN PANDEMI!

Indonesia Menyanyi (Virtual Choir). Sumber: YouTube Tommyanto Kandisaputra

“Musik adalah ilmu yang mengajak setiap orang untuk tertawa, bernyanyi, dan menari”, ujar Christopher Macklin, Doktor Musikologi dari Universitas Mercer, Amerika.

Tertawa, bernyanyi, dan menari adalah penawar ultra-herbal bagi jiwa, dan terbukti ampuh membunuh depresi, stres, atau frustasi yang menggerogoti pikiran manusia. Terasa tidak main-main, aktivitas ta-nya-ri itu sudah dilakukan sejak 2700 tahun silam. Untuk apa? Salah satunya melawan pandemi!

Melawan, dalam arti yang paling substansial, bukanlah pertarungan antar muka atau jotos-jotosan dengan pandemi, melainkan menjaga sepenuhnya jiwa-raga supaya tidak ikut remuk tertindas krisis. Kalimat “Musik adalah ilmu” yang diucapkan Chris Macklin saya maknai sebagai semacam penyelamat. Musik itu menyelamatkan. Jika musik adalah ilmu, maka musik harus menyelamatkan.

Bagi saya tak ada ilmu yang pada fungsinya tidak menolong atau menyelamatkan ummat manusia dari berbagai masalah, entah mudah atau sulit. Kalau pun ilmu dipakai sebagai modus demi membuat keadaan makin runyam, sulit, dipakai melukai, itu artinya melanggar segala fitrah ilmu, melepaskan segala kemurniannya.

Nyanyian penyemangat dari balkon

Anda pernah nonton (atau ingat) video-video di Italia yang menunjukkan musisi main musik di balkon atau jendela, saling melempar senyum, berkolaborasi dalam jarak fisik: menyanyi, menari? Yup! Itu dia!  

Nah, apa yang kita saksikan di video-video itu ternyata sudah pernah dilakukan sejak 1576 ketika Milan, Italia, ikut terkena epidemi ganas yang disebut oleh Alessandro Manzoni sebagai Wabah Santo Charles. Dalam waktu kurang dari dua bulan, 6000 nyawa terenggut karena wabah ini.

Uskup Agung Milan, Charles Borromeo, membuat perintah semacam Go Lockdown keseluruh warganya, menganjurkan setiap orang agar tetap di rumah, berdoa dan beribadah di rumah.  Ketika sebagian orang dari pemerintahan gereja berkeliling untuk membagi-bagikan sembako kepada warga, mereka umumnya bersaksi:

“Ini sungguh tidak biasa. Di sepanjang perjalanan, tak ada yang saya dengar selain lagu dan musik yang berkumandang di teras dan balkon.”

Ada oplosan antara kesedihan dan motivasi agar tetap semangat! Pandemi memang identik dengan dua suasana itu.

Orang-orang di Eropa terbiasa menggunakan musik sebagai media untuk saling menyemangati, baik antar keluarga terdekat maupun tetangga atau warga-komunitas. Mereka memainkan atau menyanyikan apa saja yang mereka mampu, namun khususnya lagu-lagu pujian Kristiani dan musik-musik klasik.

Jauh sebelum itu

Ada fakta juga, bahwa sejak zaman Mesir Kuno, Yunani, dan Babilonia, musik memang telah menjadi media andalan yang kerap digunakan sebagai obat penawar bagi masalah-masalah psikologis-spiritual, termasuk berfungsi menjaga ikatan sosial di tengah wabah.

Ketika wabah melanda Sparta pada Abad ke-7 SM, para pemimpin kota mengajukan petisi kepada penyair Thaletus untuk menyanyikan lagu-lagu pujian, dan Terpander (Terpandros), penyair Yunani Kuno yang terkenal, dipanggil saat wabah melanda Lesbos. Bahkan Pythagoras, pencipta teorema favorit bagi setiap anak sekolah, menggunakan musik sebagai alat terapi, ia memainkan kecapi untuk menenangkan para hooligan (penggila sepak bola) yang mabuk!

Oh, ya, ada juga aktivitas unik di Italia pada Abad Pertengahan, dimana ketika warganya mendengar informasi bahwa akan ada wabah dan diminta hati-hati, mereka berbondong-bondong pergi ke tempat suci untuk bernyanyi dan berdoa secara kolektif, menyebar frekuensi positif. Juga di tiap ruas-ruas jalan. Musik dan doa memberi pengharapan.

Ketika Wuhan tertimpa korona dan lockdown,ada muncul pekikan “Wuhan Jiāyóu! Wuhan Jiāyóu!”, yang artinya: “Ayolah, Wuhan!” (Wuhan Semangat!). Itu bukan pekikan biasa. “Pekikan itu simbol semangat”, ujar Remi Chiu, ahli musik dari Universitas Loyola. “Wuhan Jiāyóu” lantas menjadi lagu yang amat membekas bagi warga Wuhan, mudah dinyanyikan siapa saja.

“Musik memang mampu meluluhkan ego di saat masa karantina,” sambung Chiu. “Ketika Anda membuat musik dan menyebarkannya untuk menyemangati setiap orang, Anda telah mengabdikan diri Anda untuk komunitas/kelompok masyarakat yang lebih besar, itu artinya Anda tidak lagi egois,” tegasnya.

Relasi jiwa-raga, fisik dan psikis, atau apa pun itu istilahnya, adalah dua kutub yang senyatanya saling mendukung. Fisik yang kuat namun ditopang jiwa yang lemah akan mengakibatkan kejatuhan, cepat atau lambat! Fisik yang lemah bisa didorong agar tetap kuat dengan jiwa yang sehat.

Dalam konteks terapi musik, Anda akan menemukan banyak fakta mengenai keajaiban musik bagi jiwa manusia, bahkan sejak zaman Renaisans, setiap pasien yang berpotensi “lemah jiwa” selalu diajarkan seni, antara lain menari, bernyanyi, tertawa, bermain musik, supaya kelemahan itu tidak delay berlarut-larut. Untuk pasien kanker dan skizofrenia di zaman modern, musik berpotensi mengurangi kecemasan.

Tetaplah semangat!

Sejak fase-fase awal pandemi korona menjalar di Indonesia (pertengahan Maret 2020), ramai para musikus melakukan kolaborasi virtual di media sosial, hingga tercatat kolaborasi terkolosal sejauh ini adalah paduan suara virtual “Indonesia Menyanyi”, yang melibatkan 2758 penyanyi, menggabungkan 3615 video dan 436 paduan suara! Ada energi saling menyemangati yang terpancar di balik kolaborasi yang dipersembahkan Bandung Choral Society itu. Videonya di sini.

Saat ini dunia musik berbasis panggung dan kerumunan nyata memang tengah sekarat! Saya pun mengalami, beberapa jadwal panggung musik dan kolaborasi seni, setidaknya hingga Juli, tidak bisa dilangsungkan, alias dibatalkan! Selepas bulan itu juga belum tahu kepastiannya. Entah pekerja lapangan atau administratif  kompak mengeluhkan dampak yang sama dari pandemi korona ini. Industri musik khususnya, amat terpukul. Dampak gelobalnya baca ini.  

Di dalam pikiran kita (khususnya yang bekerja independen), memang sedang berjuang mencari berbagai cara untuk menemukan solusi pertahanan diri. Ada yang tetap bertahan “di jalur musik” dengan memanfaatkan tabungan darurat, tetap kreatif posting-posting,hingga tak jarang yang “hijrah” lalu jual sembako, makanan, pakaian, jual ini-itu, dan lain-lain, supaya tetap hidup! Tak sedikit pula yang berada di titik sulit dan benar-benar mengharapkan uluran tangan.

Namun betapa kita wajib untuk tetap bersyukur, bahwa musik masih selalu hadir intim dan hangat dalam mengisi lembar-lembar kesunyian sosial kita, mengisi kekosongan suasana hati, terlepas dari “musik sebagai urusan dompet.” Ini soal “musik adalah ilmu”, sebagai urusan jiwa, sebagai penyemangat, penyelamat.  

Musik, disadari atau tidak, berhasil menyuplai “nyawa cadangan” di tengah dampak pandemi, menjadi bahan bakar atau energi spiritual, agar kita tetap bertahan, berbagi, dan terus menyebarkan semangat satu dengan yang lain dengan berbagai cara. Meskipun semua itu masih ajeg terjadi (hanya) di dinding-dinding virtual.

Musik memungkinkan menjaga nyala api semangat itu, sebuah kemenangan yang indah dari peperangan yang absurd.

(Esai ini disarikan dan diinterpretasikan dari laporan berita The Guardian: https://www.theguardian.com/music/2020/apr/06/stayin-alive-how-music-fought-pandemics-2700-years-coronavirus), dirilis 6 April 2020.