Solo, Kuliner, dan Musik (Bagian 1)

Solo

Begitu banyak yang bisa kudongengkan tentang Solo, kota kelahiranku ini. Setiap jengkal aspal dan bangunan-bangunannya adalah kenangan: pahit dan manis, seperti umumnya kenangan manusia. Solo adalah ketika aku harus terus mengingat perjuangan bapak dan ibu, menyekolahkan aku hingga tamat SMA.

Aku ingat sekali, Ibu Juwita, wali kelasku di SMK N 8 waktu itu, duduk di depanku pada saat acara wisuda. Aku juga ditemani ibu yang duduk di sebelahku. Gerak-gerik Bu Juwita terlihat aneh, sering melirik kepadaku sambil tersenyum kecil. Aku tidak tahu apa maksudnya. Sesaat kemudian Bu Juwita bilang:

“Erie, siap-siap, ya!”

“Ada apa, Bu?” tanyaku.

“Ya, siap-siap saja pokoknya.”

“Opo, sih?” gumamku makin heran.

Jujur aku tak tahu apa-apa. Beberapa saat kemudian ada pengumuman dari panggung, pengumuman tentang penghargaan yang akan diberikan untuk beberapa lulusan berprestasi dari semua jurusan. Dan ternyata …. namaku ikut dipanggil untuk maju ke depan, diumumkan sebagai Tamatan Terbaik! Seketika Ibu Juwita ikut berdiri dan kemudian mendatangiku memberi ucapan selamat. “Sana kamu maju, naik dari sebelah kiri panggung,” pintanya.

Tepuk tangan riuh ratusan orang di gedung mengiringi langkah kaki ini menuju panggung. Ibu menciumku. Momen itu membuat aku terharu, bahkan sampai hari ini. Bukan karena aku meraih penghargaan, tetapi karena aku berhasil melewati segala kesulitan belajar waktu itu. Sebagai angkatan ke-3 di Jurusan Musik Diatonis, kami semua adalah “korban uji coba!” Waktu itu benar-benar minim guru, minim sarana, sistem pendidikan pun masih belum jelas. Kulihat sangat berbeda dengan zaman sekarang, lebih banyak pintu untuk berkembang.

Semua guruku mengenalku sebagai siswa yang “mbeling, egois, kemaki, dan semaunya sendiri.” Saksi utamanya adalah Bu Rini dan Pak Bertus. Tanyalah ke beliau. Di sisi lain semua guru juga memahami bahwa aku memiliki niat yang sangat sungguh-sungguh dan serius untuk menekuni bidang musik. Aku berprestasi di seluruh pelajaran musik sejak kelas 1. Dan ini yang penting: tidak pernah membolos (untuk pelajaran musik), kecuali yang lain-lain. Hehe. Aku juga senang diperhatikan semua guru, terutama perhatian Pak Mursid Hananto dan alm. Pak WS Nardi. Aku dibimbing oleh mereka dengan segala dedikasi.

Begitulah secuil momentum yang tidak hanya membikin haru bagi perjalanan awalku bermusik, tapi juga menginspirasi dan menjadikan aku menjadi pribadi tangguh sampai hari ini.

Sisi Lain

Sebelum tiba di fase SMA itu, aku memiliki rentetan perjalanan panjang sejak aku kanak-kanak, terutama yang berkaitan dengan musik. Sebetulnya aku tidak tumbuh dari keluarga pemusik. Bapak ibu hanya gemar mendengarkan lagu-lagu.

Namun ada momen-momen yang selalu berkesan semasa aku kanak-kanak. Aku ingat sekali ketika umurku masih 5 tahun, tahun 1989. Setiap kali diajak bapak-ibu jalan-jalan ke Sriwedari, aku selalu tertarik dengan satu benda: ukulele mainan. Aku (selalu) memintanya kepada bapak. Selalu? Maksudnya berkali-kali beli? Betul. Karena setiap kali dibelikan, selang beberapa hari ukulele itu rusak, kumainkan sambil kupukul-pukul ke lantai. Lalu aku merengek meminta dibelikan lagi. Dan aku masih ingat sekali berapa harga ukulele itu, 2500 rupiah.

Momen lain adalah ketika ke gereja, aku selalu bernyanyi lagu Bapa Kami paling keras, sampai-sampai ummat di kanan-kiriku menengok kepadaku, dan ibu berbisik: “boleh nyanyi, tapi jangan keras-keras.”

Ketika kelas 3 SD aku dibelikan bapak keyboard kecil semi-mainan, merknya Casio. Waktu itu harganya sudah relatif mahal, Rp. 144.000,-. Sudah cukup untukku bermain-main melodi lagu-lagu kesukaan. Bapak yang mengajari. Dan di kelas 3 SD itu pula aku tampil di depan kelas, solo keyboard.

Gamelan juga menjadi bagian sejarah indah masa kecilku. Khusus ini, momennya hanya terjadi ketika libur lebaran. Di rumah simbahku di daerah Klegung, Gunung Kidul, tersimpan satu set gamelan yang biasa digunakan masyarakat untuk klenengan, hingga mengiringi pergelaran wayang. Setiap kali ke sana, kami, cucu-cucu simbah, selalu bikin berisik. Nabuh gamelan sesuka hati, sekencang-kencangnya. Momen ini begitu membekas. Tapi entah kenapa, waktu itu aku kurang tertarik dengan gamelan. Hanya suka bikin gaduh saja. Hehe.

Ketika naik ke kelas 5, ada momen yang lebih berkesan ketimbang sebelum-sebelumnya. Momen itu bisa dibilang terus kupertahankan sampai detik ini. Gitaran! Begitulah singkatnya. Yups. Naik kelas dan libur panjang adalah momen yang paling dinanti oleh siswa-siswi sekolah. Aku beli gitar untuk pertama kali. Tahun 1993.

Aku bermain gitar karena terinspirasi oleh dua kakakku, Mas Ayik, kakaku mbarep, dan Mas Nanang, adiknya. Mas Ayik terampil memainkan gitar sejak SMP. Ia gemar lagu-lagu Iwan Fals dan Sawung Jabo. Lalu kubelilah gitar dengan memesan di pengrajin dekat rumah, di Sekar Pace. Namanya Mas Hendra. Gitar yang kupesan ini harganya Rp. 25.000,-. Aku lupa uang dari mana untuk membeli gitar itu. Yang kuingat aku boleh memesan model sesuai keinginan. Aku pun custom ukuran, lebih kecil dari yang standard. Cat dan tampilannya juga agak nyentrik. Dan warnanya, kalau tidak salah ingat, ungu gelap. Aku harus sabar menunggu sekitar sebulan sampai gitarnya jadi. Baiklah. Akhirnya waktu yang kutunggu datang juga. Aku senang sekali dengan gitar baruku ini. Dan mulailah aku belajar pada kakakku.

Lagu pertama yang kupelajari adalah lagu “Yakinlah” karangan Iwan Fals. Nada dasarnya A minor. Kakakku dengan sabar mengajariku cara memetikknya. Sampai aku benar-benar bisa. Akibat dari seringnya latihan pencat-pencet senar kawat, ujung jari-jariku jadi memar dan merah-merah semua, bahkan sampai membekas seperti tersilet. Aku tidak pantang menyerah, belajar lagi lagu-lagu yang lain (bersambung bagian 2).     

Musik Keroncong di Hati dan Pikiran Saya

Alangkah merdunya musik satu ini. Keroncong, begitulah biasa disebut. Kadang-kadang ditulis mengikuti pelafalannya: kroncong.

Meskipun tampaknya saya bukan pemain keroncong yang ahli dan mumpuni, tapi saya mencintai keroncong dan memainkannya tiap hari. Ada ikatan batin dan emosional dengan musik ini sejak SD. Lulus SD sunatan, bapak nanggap keroncong, masih ingat nama orkesnya: O.K. Irama ‘Mas. Lalu SMP-SMA saya pernah ngamen di jalanan, nyanyi sambil main kencrung/ukulele/kroncong itu. Berlanjut sampai sekarang, punya pengalaman panggung, rekaman, mikir, nulis, ceramah, dan lain2.

Hmm.. kalau disuruh milih, sebetulnya lebih enak main saja, nabuh, begitu. Tapi kalau kembali ingat curhatan dari teman-teman, bahwa di dunia musik keroncong itu krisis pemikir, atau seniman yang juga berpikir, hati ini rasanya gemes.

Saya membaca artikel-artikel mengenai Kusbini, sosok yang dikenal sebagai “Buaya Keroncong” itu. Lalu saya berpikir, sangat hebat beliau ini. Pada masanya sangat dikagumi sebagai seniman, dan dibutuhkan sebagai pemikir. Contoh lain adalah sosok Budiman B.J. yang menulis buku “Mengenal Keroncong dari Dekat” (1979). Keduanya bagi saya figur, yang produktif berkarya, sekaligus mau mendedikasikan diri di dunia pemikiran mengenai perkembangan/kemajuan musik keroncong. Mereka berdua memulai pergulatan dua kutub itu sejak usia muda, ya kurang lebih seperti usia saya saat ini, 30an tahun, bahkan mungkin sebelumnya. Saya pun mulai hobi mengoleksi buku-buku tentang keroncong, dan juga artikel-artikel atau laporan penelitian.

Maka bagi pikiran saya saat ini, musik keroncong tak cukup hanya dilestarikan (artinya dipanggungkan saja). Butuh kontribusi lain di wilayah pemikirannya. Pertanyaannya? Mengapa repot-repot memikirkan musik keroncong? “Kurang kerjaan,” kata teman saya. Ya, ini mungkin pilihan dan kesukaan saja. Pertama, bahwa saya sangat yakin, musik keroncong terus ada sampai saat ini bukan hanya karena peran senimannya saja, melainkan juga sosok-sosok lain, yang ikut berpikir, menulis, meneliti, merilis pirangan hitam, kaset-kaset, penyelenggara lomba bintang radio, bahkan pengrajin alat musik keroncong juga tak boleh luput dari perhatian. Tanpa mereka semua mustahil musik keroncong tetap ada. Saya masih percaya itu semua adalah ekosistem yang terintegrasi.

Alasan kedua adalah “beban saya” sebagai sarjana musik. Selain merasa “terjerumus,” saya juga “menjerumuskan” diri dan menganggap bahwa beban sarjana musik itu, yang notabene dianggap masyarakat adalah “orang berwawasan”, adalah tidak cukup hanya menghibur dan cari duit semata. Saya merasa perlu berpikir, karena saya ada niat di wilayah ini.

Lalu yang ketiga adalah soal masa depan musik ini, yang memang harus dipikirkan. Saya sering ngalamun, merasa tidak rela kalau musik keroncong punah. Lalu saya berpikir, apa yang bisa saya berikan untuk perkembangan musik keroncong di masa depan? Sejujurnya mimpi saya banyak sekali: membuat buku modul dan video-video yang berisi tutorial lengkap dan kemudian bisa dipakai untuk memberi workshop-workshop di seluruh Indonesia.

Oya, beberapa bulan lalu saya juga berdiskusi empat mata dengan Bp. Singgih Sanjaya di Wisma Seni Taman Budaya Surakarta, hingga jam 3 dini hari. Beliau menyampaikan ide kepengen ada “Museum Keroncong” di Solo. Ide yang sangat bagus. Sampai rumah saya memikirkan juga, apa yang harus ada di sana, bagaimana mewujudkan ide itu menjadi nyata, bagaimana pengelolaannya, dan seterusnya. Tentu saja butuh “tim pemikir” yang cukup dan penyokong dana yang besar untuk bisa mewujudkannya. Salah satu perhatian besar saya adalah pada literasi musik, dan sangat bahagia sekali belum lama ini saya bisa menyunting dan menerbitkan buku “Keroncong Gadhon” karya sahabat alm. Raprika Bangkit, turut berkontribusi melengkapi khazanah literatur keroncong. Mimpi lainnya? Membuat Ensiklopedi Musik Keroncong. Masih angan-angan, suatu ketika saya yakin ada jalan. Biaya riset dan produksinya sudah saya itung-itung, dan itu besar sekali. Belum mampu untuk saat ini.

Namun beruntung ada teman-teman penyelenggara festival-festival keroncong di banyak kota di Indonesia yang terus semangat meluaskan segmentasi musik keroncong melalui panggung-panggung populer berskala (massa) yang besar, misalnya Solo Keroncong Festival, Symphony Keroncong Moeda, Keroncong Plesiran, Pasar Keroncong Kotagede, dan lain-lain. Ada juga beberapa “forum serius” yang diselenggarakan demi mewadahi diskusi mengenai musik keroncong. Ibnu Amar, sahabat saya, adalah salah satu penggeraknya, juga Mas Parto yang dedikasinya luar biasa, Pak Wartono, Mas Danis, Pak Sapto di Solo, dan lain-lain. Ada pula grup WhatsApp Jagat Keroncong Nusantara (JKN) yang dipimpin Gus Ugeng, dengan 200an anggota. Grup WA “Edan Keroncong” di Solo juga berisi ratusan seniman yang sangat gayeng, happy dan guyub untuk menyatukan pikiran mengembangkan musik keroncong dengan cara mereka.

Menurut pikiran saya, dunia musik keroncong memang harus seimbang di dua sisi: kesenian dan pemikirannya. Dan saya masih sangat optimis bisa berkontribusi sebagai seniman maupun pemikir. Pelan-pelan, karena berpikir memang tak semudah memainkan crung-crung-crung.

Cover-Coveran

Hakikat sebuah musik yang diaransemen—selain membuat lagu menjadi (nampak) lebih indah—juga memperpanjang usianya. Inilah yang membuat musik bisa menjadi “abadi”, turun-temurun dari turunan ke turunan.

Sebetulnya, kalau kita membahas urusan cover-mencover ini, sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam. Karya Mussorgsky berjudul Pictures at an Exhibition(1874) yang awalnya dikerjakan untuk piano, kemudian “dicover” menjadi orkestra dan banyak lagi format lainnya, seperti chamber music, bahkan untuk instrumen solo yang lain. Begitupun karya-karya musik Spanyol yang semula dikerjakan untuk piano, kemudian banyak dicover untuk instrumen gitar yang rata-rata dikerjakan maestro tersohor Andres Segovia.  

Dalam bahasa musik klasik, cover ini disebut re-arrangement. Tak tahu, istilah cover yang belakangan sangat ngetren datang dari mana, mengingat arti istilah cover hanyalah “sampul”. Sejauh penelusuran, belum ada penjelasan yang gamblang mengenai istilah tersebut. Umumnya ulasan-ulasan hanya berisi tentang pra-syarat untuk mengover sebuah lagu, atau tips-triknya.

Maka, saya iseng-iseng memberi kepanjangan untuk istilah Cover: COpy-paste VERsion, atau versi salin-tempel untuk memberikan asosiasi bahwa itu adalah kegiatan “pengulangan kembali lagu orang lain dengan inti yang sama namun terdapat perbedaan pada perwajahannya”. Nah, mungkin dari situ muncul istilah cover (sampul/perwajahan).

Entahlah, yang jelas, dalam tulisan ini akan disinggung sekelumit mengenai (khususnya) aspek kreativitas dari sebuah produk musik masa kini yang kian digemari siapa saja ini.

Ada kasus antara sekelompok perusahaan penerbit musik di Amerika Serikat (salah satunya adalah Warner/Chappell Music milik Warner Music Group) yang diwakili oleh the National Music Publishers’ Association, menggugat Fullscreen, salah satu perusahaan pemasok video terbesar ke YouTube yang berkantor di Los Angeles, di pengadilan distrik di Manhattan, Amerika Serikat.

Alasannya adalah bahwa banyak dari video-video pasokan Fullscreen, terutama versi cover dari lagu-lagu hits dari artis-artis mereka, melanggar hak cipta mereka. Dalam hukum, ini diistilahkan dengan fair use (penggunaan atas karya orang lain secara fair). Meskipun konon, dalam Undang-Undang Hak Cipta No.19 Tahun 2002 hal itu tidak diatur. Di Indonesia kita bisa ambil contoh perseteruan antara Hanin Dhiya dengan Is, juga Via Vallen dan Jerinx. Kita coba sedikit bergeser di artikel ini, tidak membahas kasusnya, melainkan di aspek kreativitasnya.

Pertama-tama adalah tentang aransemen itu sendiri, yang mau tidak mau jadi penanda penting dari aspek kreatif kerja cover-mengcover lagu ini. Video klip adalah kreatifitas kedua. Dan keduanya bisa musnah begitu saja apabila karya cover yang dihasilkan memang jelek. Itu menjadi boomerang sendiri bagi pembuatnya. Kebanyakan orientasi cover-mengover sekarang adalah popularitas, yang ditandai dengan banyaknya jumlah pendengar atau penonton di situs sosial. Namun tak jarang juga yang mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.

Berdasarkan laporan Ni Made Marianda Fridayanti yang di sebuah situs yang ia kelola, www.mademarianda.com, ada sedikitnya 13 video klip cover yang terbaik, bahkan ia mengklaim lebih baik dari versi aslinya. Made Marianda pun menyertakan tayangan semua link YouTubenya untuk bisa ditonton. Daftar ke-13 yang direkomendasikan, baik lagu mancanegara maupun Indonesia, adalah sebagai berikut:

Cobalah menyimak satu-persatu, dan tentu saja, harus pernah mendengar versi aslinya terlebih dulu, supaya kita memiliki gambaran komparasi dan penilaian. Mungkin selera kita subyektif dan tidak begitu saja setuju dengan rekomendasi tersebut. Namun, yang penting dalam hal ini adalah, bisa dipastikan bahwa masing-masing memiliki “karakteristik” tersendiri yang unik.

Karakteristik tersebut bisa dipunyai pada masing-masing talent karena memang mereka berusaha mendalami sebuah lagu secara sungguh-sungguh, sebagai bekal awal aransemen. Yang tampak sekali nyata adalah suasana yang ditampilkan. Meski secara garapan musik tergolong biasa-biasa  saja, namun pengolahan suasana yang ingin ditonjolkan memiliki ciri-khas yang unik. Itulah karakteristik, dimana skill bermusik seringkali tidak terlalu penting tetapi lebih kepada keunikannya. Lagu Chrisye Seperti yang Kau Minta hanya diiringi oleh dua buah gitar, mereka menurunkan tempo, memetik gitar sesuai karakter dari tempo tersebut, dan vokalisnya bernyanyi cukup stabil dengan karakter suara vokal yang cukup menarik pula.

Carissa Ade, dalam cover See you Again, memiliki karakter suara yang agak bindeng tapi justru itu yang menjadi kekuatan, didukung penggarapan video yang serius, membuat video mereka di youtube ditonton tak kurang dari 48juta orang! Jumlah yang sangat fantastis!

Pada zaman sekarang ini yang amatir dan yang profesional bertumpuk-tumpuk, karena video bisa dibuat oleh siapa saja dan di mana saja, bahkan cukup menggunakan ponsel pintar. Banyak studio musik “banting harga” menawarkan jasa produksi video cover. Oya, kalau membahas video klip, contoh lagu Chrisye yang dicover di atas tentu kurang memenuhi standar. Dan lebih cenderung “amatiran”. Namun agaknya dari sisi audio tergarap cukup serius. Nah, ngomong-ngomong soal kualitas, tentu saja kita juga harus fair, karena ini semacam gizi bagi telinga dan pikiran kita. Memilih yang tidak hanya berdasarkan tren di pasar, namun juga mempertimbangkan banyak aspek.

Saya ingat ketika ngeband tahun 1990-an, ada stigma kalau membawakan lagu orang lain dianggap tidak kreatif, bahkan bisa dijauhi. Namun segala pergeseran yang saat ini terjadi juga musti kita sambut. Perlu juga kita saring dengan perspektif yang tajam untuk bisa mendeteksi: mana yang serius dan mana yang hanya main-main dengan musik.

Perjalanan Musikal Melbourne

Perjalanan Musikal Melbourne – 6 Desember 2016 adalah hari yang sangat saya nantikan. Pasalnya, pada hari itu saya akan mengunjungi sebuah kota sentral di Australia yang konon punya banyak cerita menarik: Melbourne!

Ya, meskipun kota ini sudah tidak asing lagi bagi banyak orang, namun cerita perjalanan ini mungkin baru bagi pembaca. Kunjungan ini bukan dalam rangka berwisata atau liburan, melainkan untuk mengikuti sebuah konfrensi musik yang membahas tentang sejarah gitar. Jadi tepatnya, ini adalah perjalanan musikal. Tentu saja, di sela-sela kegiatan serius yang saya ikuti ini, terasa tidak lengkap jika tidak mencuri waktu untuk jalan-jalan. Tepatnya berpetualang musikal sesuai dengan kegemaran saya.

Karena panitia tidak menyediakan dukungan finansial sepeserpun atas kegiatan ini, maka saya wajib berhemat ala backpacker. Alhasil, untuk keberangkatan, saya musti pindah pesawat empat kali, akal-akalan cari yang (paling) murah. Dari Yogyakarta ke Singapura via Jakarta, menunggu di Jakarta sekitar empat jam; dan selanjutnya Singapura ke Melbourne via Kuala Lumpur. Di Singapura saya menunggu sekitar enam jam.Total perjalanan berangkat beserta transit sekitar 24 jam! Terasa cukup melelahkan.

Akhirnya saya tiba di Bandara Tullamarine, Melbourne, pada 7 Desember pukul 21.30 waktu setempat dalam kondisi sangat kurang tidur selama perjalanantujuh jam dari Kuala Lumpur. Sempat melewati tiga kali pemeriksaan petugas imigrasi yang bertanya macam-macam kepada saya (tentang tiket PP, tujuan kedatangan, dimana tinggal, dsb). Tetapi, begitu mereka mengetahui bahwa saya akan menjadi salah-satu pembicara di konfrensi tersebut, mereka akhirnya meloloskan saya. Sangat maklum kalau petugas imigrasi pada rewel karena dalam perjalanan ini saya tidak declare apapun di kartu kedatangan, karena memang tidak membawa apa-apa yang menurut mereka wajib dilaporkan.

Di pintu keluar saya sudah dijemput oleh seorang kawanyang baru saja lulus Master dari kampusRMIT, Melbourne.Namanya Mbak Titis. Atas jasa baiknya saya diperbolehkan menginap dua malam di Elsternwick, di sebuah rumah nyaman belakang stasiun yang ia sewa selama studi di Melbourne. Perjalananan dari Bandara ke Elsternwick memakan waktu sekitar 45 menit dengan menggunakan Sky Bus ke Southern Cross Station,disambung dengan Grab Car, karena kereta sudah habis. Tiket Sky Bus untuk sekali jalan harganya 19 dollar Australia, atau sekitar 190ribu rupiah. Malam pertama saya lewati tanpa cerita apapun tentang Melbourne, kecuali merasakan hawa cukup dingin sekitar 12-14 derajat.

Menikmati jazz

Di sela-sela ngebut menyelesaikan slide presentasi, saya ditawari oleh mbak Titis untuk menikmati musik jazz di Uptown Jazz Cafe di Brunswick Street, Fitzroy. Di kawasan Fitzroy ini terkenal sebagai pusat gaul anak-anak muda yang mengikuti bermacam tren.Yang tampil malam itu adalah sebuah komunitas jazz anak muda dari Melbourne. Mereka membawakan karya-karya standar dan juga komposisi karangan mereka sendiri. Selain dengan mba Titis, saya juga ditemani oleh sahabat-sahabatnyayang berasal dari Jepang, Iran, Korea, dan Inggris. Jazz dan segelas wine malam itu adalah paduan yang begitu hangat dan akrab. Perjalanan dari Elsternwick ke Fitsroy ini ditempuh dengan menggunakan kereta yang transit di Flinders Street Station. Dari Flinders Street Station ke Fitsroy bisa ditempuh dengan berbagai moda transportasi,antara laintram, kereta yang berjalan bersama kendaraan bermotor di jalan raya.

Sekadar tips, jika ingin jalan-jalan di Australia dengan transportasi umum, kita perlu membeli tiket berupa kartu yang bisa diisi ulang. Konter pembelian tiket terdapat di tiap stasiun dan di area-area tertentu. Kartu itu bisa digunakan untuk naik kereta, tram, maupun bus. Karena transportasi di Australia tergolong tidak murah, juga tidak terlalu mahal, maka usahakan kantong kita cukup. Setidaknya dalam sehari kalau kita wara-wiri bisa menghabiskan sedikitnya 8 sampai 15 dollar. Selain itu, unduhlah aplikasi Public Transport Victoriadi ponsel pintar, maka segala urusan perjalanan menjadi mudah, karena di aplikasi tersebut ada panduan lengkap untuk berbagai tujuan perjalanan. Aplikasi ini harus dijalankan secara online.

Agenda yang saya ikuti di Melbourne akan berlangsung tiga hari penuh dari tanggal 9-11 Desember. Tempat konfrensi tersebut adalah di Melbourne Conservatorium of Music, yang terletak di Royal Parade, Parkville, tak jauh dari Queen Victoria Market yang sangat terkenal seperti Malioboro di Yogyakarta.

Konfrensi yang khusus membahas puncak perkembangan sejarah gitar antara tahun 1870-1945 ini tergolong konfrensi yang memiliki tema sangat spesifik, didukung oleh 41 pembicara dari berbagai negara, antara lain Australia, Inggris, Spanyol, Amerika, dan lain-lain. Saya adalah satu-satunya delegasi dari Indonesia yang berkesempatan berangkat atas inisiatif pribadi,karena paper yang saya ajukan berhasil lolos seleksi dan diperkenankan menyampaikan presentasi sekitar 30 menit.

Setelah dua malam saya menginap di Elsternwick, lalu di malam selanjutnya saya pindah ke sebuah penginapan murah di Jalan Elizabeth, pusat kota. Dari Elsternwick ke Elizabeth menggunakan kereta disambung tram.Saya menyewa sebuah dormitori dengan delapan bed yang sudah terbookingsebelum saya berangkat. Lagi-lagi ini akal-akalan supaya hemat, mengingat Melbourne termasuk kota dengan biaya hidup yang cukup mahal untuk ukuran orang Indonesia.Kalau tidak hati-hati dalam mengatur uang bisa-bisa kita jadi homeless (tuna wisma) untuk selama-lamanya.

Tiga hari yang serius

Tibalah saatnya hari konfrensi yang cukup membuat saya deg-degan, meskipun jadwal presentasi saya masih di hari terakhir dan di sesi terakhir. Dari hostel ke kampus perjalanan cukup ditempuh sekitar 5 menit menggunakan tram. Kalau niat, jalan kaki pun akan nyampai, hanya sekitar 20 menit tanpa belok.

Kampus Melbourne Conservatorium of Music ini sekompleks denganUniversity of Melbourne yang sebagian besar merupakan bangunan menawan warisan Inggris Abad ke-19. Gedung pertunjukan musiknya juga sangat indah dengan organ pipa yang bertengger megah di panggung. Akustiknya juga bagus untuk musik-musik klasik.

Saat itu adalah musim libur bagi mahasiswa konservatori, sehingga tidak ada aktivitas musik apapun seperti latihan atau kegiatan lainnya di sana. Tiga hari dikhususkan untuk penyelenggaraan konfrensi ini. Yang menarik adalah topik yang dibawakan oleh para pembicarasangat bervariasi. Saya sendiri membawakan topik mengenai hubungan antara gitar Portugis, Hawaii, dan Indonesia melalui musik kroncong. Tidak hanya konfrensi saja, di sela-sela waktu ada juga pertunjukan gitar yang menarik dan kunjungan ke museum komponis Percy Grainger. Dan pengalaman ini benar-benar membuat kepala saya penuh.

Pengamen jalanan berkelas

Selesai konfrensi saya menyempatkan jalan-jalan keliling ke beberapa titik untuk menyaksikan sajian musik para pengamen jalanan berkelas, antara lain di Flinders Street Station, Bourke Street, dan sekitaran Queen Victoria Market. Letak ketiganya cukup berdekatan.

Pengamen jalanan di Melbourne tidak seperti di Indonesia. Mereka mendapat ijin resmi dari pemerintah. Mereka tampil profesional di sudut-sudut jalan dengan membawa properti lengkap seperti speakeramplifier, lengkap dengan buku lagu. Bahkan ada banyak pengamen yang sudah menerbitkan rekaman karya-karya mereka ke dalam bentuk CD Audio.

Ada beberapa tips kalau kita ingin jalan-jalan melihat para pengamen itu. Pertama, jika ingin betul-betul jadi penikmat, maka siapkan koin recehan untuk mengapresiasi mereka. Mungkin paling sedikit kita perlu 50 sen atau setengah dollar.Kedua, pengamen jalanan selalu menarik untuk dipotret karena suasana di sekitarnya. Bawalah kamera yang cukup oke untuk mengambil gambar. Ketiga, kita boleh requestlagu yang kita suka, asalkan mereka bisa memainkannya. Kalau kita request sebaiknya berilah mereka koin berlebih.

Setelah puas menikmati musik-musik menarik di tiap jalan, saya kemudian memutuskan untuk mengunjungi sebuah pabrik gitar terkenal bernama Maton di kawasan Box Hill. Bagi para expert guitarist tentu tahu brand ini.

Saya berangkat dari halte Queen Victoria Market. Perjalanan ke Box Hill Station ditempuh sekitar 39 menit. Jalurnya: Queen Victoria Market ke Flinders Street Station menggunakan tram nomor 59, dan dari Flinders Street Station ke Box Hill menggunakan kereta platform 3. Di tiap stasiun ada petunjuk berupa platformdengan nomor 1, 2, 3, dan seterusnya, tiap platform tentu beda tujuan. Ikuti saja.

Perjalanan menuju ke Maton belum selesai, karena dari Box Hill Station perlu disambung lagi dengan bus nomor 733, butuh sekitar 10 menit perjalanan untuk tiba di tujuan. Letak pabrik gitar Maton ini di Clarice Road. Turun di Middlebourgh dan kemudian jalan sedikit sekitar 400 meter. Maka tibalah saya di Maton.

Pada tahun 2016 Maton merayakan ulang-tahunnya ke-70 dengan ditandai penerbitan buku sejarah gitar Maton dan meluncurkan produk terbaru gitar Anniversary 70th. Saya sempat mencoba gitar yang harganya selangit itu dengan perasaan duka-lara karena belum mampu membelinya. Tapi saya sudah sangat senang bisa sampai ke sana.

Akhirnya tuntas sudah seminggu pengalaman saya di Melbourne.Menghabiskan budget sekitar 1600 AUD atau setara 16juta rupiah untuk semua keperluan termasuk tiket PP. Saya kembali dengan menggunakan jalur Melbourne-Denpasar dan Denpasar-Jogja, menginap semalam di Denpasar untuk sekadar istirahat.

Saya sangat menikmati perjalanan musikal ini, bisa mengikuti konfrensi mendapat banyak ilmu, menikmati jazz, menyaksikan pengamen jalanan, mengunjungi museum, dan mampir ke pabrik gitar terkenal.

TIPS:

  • Perjalanan ke suatu tempat mengunjungi tempat bersejarah atau wisata biasa sudah menjadi hal yang sangat umum, tetapi perjalanan musikal masih sangat jarang yang menulis. Setiap negara pasti punya kebudayaan musik yang menarik.
  • Di Melbourne cukup banyak tuna-daksa. Mereka tidak bisa pulang ke negaranya karena banyak alasan. Apabila kita punya dana lebih berilah mereka santunan untuk memperpanjang hidup mereka.
  • Berhematlah untuk bisa menjangkau semua kebutuhan yang kita perlukan di Melbourne. Sekali lagi, Melbourne adalah kota urban dengan biaya hidup yang tinggi. Kalau tidak hati-hati celakalah kita.

*Artikel ini pernah dimuat di Koran Tempo, Februari 2017.

Foto: Erie Setiawan
Attachments area

Oh, Ahmad Dhani…

lagu dan musik

Kiprah Ahmad Dhani sejak Dewa 19 berdiri memang cemerlang sekaligus kontroversial. Baik bagi rekan-rekannya di band maupun di mata khalayak luas. Dia dikenal sebagai musikus yang cerdas dalam karang-mengarang lagu dan olah musik.

Fakta itu diakui pula oleh Aksan Sjuman, mantan drumer Dewa 19 (1995-1998).

“Dhani orang yang sangat berbakat, ide musikalnya banyak, memahami inti sari musik yang dia dengar, dan sensitif terhadap kualitas suatu karya musik,” kata Aksan yang saya wawancarai singkat di tengah kesibukannya di Los Angeles, Amerika Serikat, kemarin (29/1).

Perkara Ahmad Dhani lantas nyebur ke sumur-sumur lain di luar musik, itu urusan sebelah saja. Artikel ini hanya akan membahas sekelumit talentanya di dunia musik.

20 Tahun Silam

Tahun 1997 dalam sebuah konser di Stadion Sriwedari, Solo, saya berada di barisan paling depan, hampir menempel pagar pembatas. Rasanya hampir sekarat karena didesak kerumunan manusia yang bertelanjang dada.

Tersengat bau keringat dan alkohol yang konyol. Mau tidak mau, harus betah dikurung riuh massa selama sedikitnya tiga jam. Setelah sederet band pembuka menunaikan tugas mereka, giliran sang idola tampil.

Ahmad Dhani -waktu itu masih berambut gondrong- masuk ke panggung lebih dulu dengan segala wibawanya, lalu disusul personel lain dari band yang memang merajai skena industri musik Indonesia 1990-an: Dewa 19.

Girang luar biasa karena bisa menyaksikan idola secara langsung. Sederet lagu hit dibawakan Dewa 19 dari album pertama (Dewa 19) hingga yang paling gres saat itu (Pandawa Lima). Namun, jauh sebelum itu saya sudah mengagumi Dewa 19 sejak album pertama.

Karangan Ahmad Dhani, baik bersama Dewa 19 atau proyek-proyek dan besutannya yang lain, menurut saya, adalah lagu-lagu dengan kekuatan musik yang tidak sepele. Benar kata Aksan, Dhani sensitif terhadap kualitas karya musik.

Karya demi Karya

Nah, dalam artikel ini saya sengaja membedakan antara “lagu” dan “musik”, setidaknya karena dua alasan. Pertama, lagu hanyalah syair yang diberi melodi, maka syair menjadi berlagu.

Sementara itu, musik adalah soal lain. Ia mencakup keseluruhan kombinasi elemen, baik lagu, aransemen, pemilihan sound dalam berbagai tafsir impresi maknanya, dan grafik dalam durasi: hidupnya musik dari intro hingga coda.

Kedua, melihat karya-karya Ahmad Dhani tidak cukup hanya berhenti di aspek “lagu”. Sebab, tidak akan mengantarkan kita pada wawasan yang utuh atas suatu karangan musik dan akhirnya cenderung terjebak membahas syair-syair dalam tema/konteksnya.

Kangen (Dewa 19, 1992), siapa yang tak kenal lagu romantis itu? Kangen adalah bukti kecerdasan Dhani mengolah musik di usia yang masih sangat muda, 19 tahun. Lagu tersebut tak pernah bosan dinyanyikan sejak 1990-an hingga hari ini dan mungkin akan menjadi lagu legendaris sepanjang masa.

Di lagu itu, Dhani sudah menggunakan akor-akor balikan (inversi) beserta akor substitusi (pengganti akor pokok). Bisa kita temukan juga secara mencolok di lagu Jalan Kita Masih Panjang (Terbaik Terbaik, 1995) yang perjalanan harmoninya ngalor dan ngidul tapi ketemu. Elemen-elemen seperti itu selalu menjadi ciri khas utama jika melihat karangan-karangan Ahmad Dhani.

Lagu Air Mata (Cintailah Cinta, 2002) adalah lagu dengan eksperimentasi unik yang rasanya tidak pernah dilakukan oleh band-band lain. Lagu itu diawali introduksi dengan durasi kurang lazim untuk band industrial: 1 menit 42 detik.

Baru disusul senandung lagu yang melodinya persis dengan introduksinya. Durasi keseluruhan lagu tersebut juga jarang-jarang untuk ukuran “standardisasi durasi” band industrial dengan rata-rata 4-5 menit per lagu. Lagu itu menelan waktu 7 menit 28 detik.

Simak juga lagu Roman Picisan (Bintang Lima, 2000). Intoduksi lagu yang diisi chamber orchestra itu juga terasa unik. Dengan dibantu Onny Krisnerwinto dan rekan, konsep penggarapan musik di lagu tersebut menjadi primadona ketika itu. Terutama akor bumbu orkestra yang khas dan sulit dipelajari dalam sekali dengar oleh band-band amatir yang sedang ngulik lagu itu. Singkat cerita: sulit ditiru sama persis.

Kecerdasan “campur tangan” Dhani yang lain bisa kita temukan juga di lagu Keabadian (2000) yang dinyanyikan Reza Artamevia. Ada sukat 1/4 yang menyempil unik di antara sukat 2/4 pada bagian introduksi dan di setiap penggal pertama refrain di lagu tersebut. Selain itu, perjalanan akor (baca: harmoni keseluruhan) lagu tersebut terasa tidak biasa, tapi lagunya mudah dibawakan.

Begitulah sekilas fakta kemampuan musikal Dhani yang menurut saya sangat mampu membedakan sekaligus mengawinkan secara tegas antara “lagu” dan “musik” dalam karya-karya emasnya. Sosok Dhani yang terinspirasi ribuan sumber musik -juga berhasil menelurkan talenta-talenta musik masa depan- adalah sepenggal sejarah fenomenal industri musik di tanah air. Namanya menjadi sejarah dalam bingkai tersendiri. Contoh-contoh lain akan lebih baik diketengahkan dalam sebuah buku khusus yang mendetail.

*artikel ini dimuat di Harian Jawa Pos, 30 Januari 2019.

Terima kasih kepada Mas Tatang Mahardika (Jawa Pos).

Foto: Imam Husein/Jawa Pos

simak tulisan erie setiawan lainnya di :. Artikel by Erie Setiawan

Hidup Tanpa Musik adalah Tidak Mungkin

Hidup Tanpa Musik adalah Tidak Mungkin, Leonard Berstein.

21 Juni rutin diperingati warga dunia sebagai Hari Musik Dunia. Lebih dari 700 kota di seratusan negara merayakannya dengan mendengar dan bermain musik di luar ruangan. Hajatan ini bukan semacam pesta tahun baru yang menghamburkan uang. Misi mulia dua inisiatornya, Yehudi Menuhin dan Boris Yarustowski 44 tahun lalu adalah mendorong setiap manusia untuk meletakkan musik sebagai bagian penting dari kehidupan, musik sebagai pandangan hidup.

Apakah benar musik punya kekuatan, sehingga keberadaannya dianggap penting layaknya hukum dan agama? Sebesar apa kekuatannya hingga rasanya perlu direfleksikan oleh warga dunia? Bukankah (di Indonesia) musik lebih (dianggap) industri hiburan?

Tak terbayangkan betapa riuh dan eksotisnya jika Indonesia turut merayakan Hari Musik Dunia. Seluruh etnis yang ada serentak memainkan alat musiknya di luar rumah, di lapangan, jalanan, ada juga nyanyian-nyanyian tradisi yang unik, yang sengaja dihindari televisi swasta karena dianggap tak laku dibanding pop.

Peristiwa ini akan memantik perhatian setiap orang yang selama ini buta pada kekayaan budaya bangsa sendiri. Sayangnya itu belum pernah. Hari Musik Nasional pun, yang dirutinkan tiap 9 Maret, masih menjadi hajatan yang belum memiliki dampak signifikan.  

Musik adalah peristiwa bunyi yang senyatanya mampu menembus ruang, waktu, bahkan sekat-sekat fisik dan psikologis—menjadikan segala sesuatu yang tadinya terasa mustahil menjadi mungkin. Mempertemukan Israel dan Palestina dalam satu panggung misalnya, adalah bukan perkara mudah.

Pada tahun 1999 pianis dan komposer Daniel Barenboim dan ahli teori budaya Edward Said mewujudkan niat yang terasa mengada-ada itu, mereka membidani lahirnya West-Eastern Divan Orchestra, sebuah orkestra yang terdiri dari musisi Palestina, Israel dan negara-negara Arab lainnya.  Harapan untuk memberikan dorongan, pengetahuan, dan niat mewujudkan masa depan yang lebih baik menjadi cita-cita orkestra ini. Singkatnya, terwujudnya perdamaian antar ummat manusia. Sampai sekarang orkestra ini bertahan dengan tagline luar biasa: Equal in Music.

Begitu banyak contoh lain tentang kekuatan musik selain mendorong perdamaian. Tak terbayangkan betapa penatnya kehidupan di dalam penjara atau panti rehabilitasi, misalnya. Musik mampu hadir menghibur dan melembutkan perasaan penghuninya. Musik mengurangi stres, memanjangkan umur, melatih kepekaan diri, sosial, emosional, bahkan meningkatkan kecerdasan, karena bunyi yang sifatnya langsung menembus area psikologis dan neurologis manusia. Anda tentu juga punya pengalaman tersendiri dengan musik.

Tentu saja kita semua menghindari perayaan sebagai semata euforia. Lalu sesungguhnya apa substansi perayaan Hari Musik Dunia? Apakah kita sudah benar-benar menghargai musik sebagai hasil daya cipta manusia (Indonesia) secara proporsional? Artinya, bahwa apa yang dinamakan “musik” itu fitrahnya sangat luas seperti samudra, bukan pada pengerdilannya dalam keranjang industri yang mengakibatkan genre-genre, golongan,dan fanatisme.

Dalam surat yang ditulis Menuhin dan Yarustowski (1975) kepada International Music Council, jalan panjang misi Hari Musik Dunia adalah mendorong penyelenggaraan event-event musik yang berbobot, di mana di situ harus ada pertemuan antara seluruh ekosistem pendukung kebudayaan musik, baik komposer, musisi, musikolog, dan tentu saja masyarakat. Yang menarik lainnya adalah usulan untuk bersinergi dengan seni visual, yaitu perlunya diselenggarakan pameran baik poster, lukisan, patung, karikatur, maupun fotografi yang bertemakan musik.

Program radio dan televisi (yang ketika itu memang menjadi primadona) ditantang untuk lebih produktif menyiarkan dialog-dialog musik. Upaya itu juga perlu dilengkapi dengan produktivitas di dunia penerbitan dan rekaman.  

Bagaimana masyarakat Indonesia menanggapi misi-misi brilian dalam momen Hari Musik Dunia ini, terutama meletakkan musik sebagai pandangan hidup manusia, melengkapi hukum, agama, kebudayaan, dan lain-lain? Bukankah upaya ini perlu pemikir dan pemikiran serius?

Suatu ketika alm. Gus Dur berbicara empat mata pada Mahfud MD. “Pak Mahfud, PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) sekarang sedang butuh banyak pemikir, bukan cuma pekerja, Anda harus gabung PKB,” kata Gus Dur. Itu hanya ilustrasi bahwa jika obrolan itu kita geret ke soal musik, maka faktanya sama saja: banyak pekerja musik dan langka pemikir musik.

by eriesetiawan

Di Tangan Suka Hardjana, Musik Menjelma Ilmu Pengetahuan

Remy Sylado menyebut Suka Hardjana sebagai seorang dengan empat identitas: musikus, pedagog, pemikir, dan penulis musik.

Seperti petani, lahanku kecil, tapi harus diolah dengan sabar, telaten, agar tumbuh tunas muda.

suka hardjana
suka hardjana

Bagi Suka Hardjana, hampir setiap malam selama puluhan tahun adalah gundah-gelisah tak berkesudahan. Lelaki Jawa kelahiran Jogja ini punya jadwal rutin termangu di depan mesin ketik, lalu menuliskan ide-ide, membayangkan masa depan. Sesekali menyentuh tuts piano lawas koleksinya sambil bernyanyi lirih, atau cukup mendengarkan musik klasik dari telefunke.

Dituliskannya nama-nama, sejarah, peristiwa, momen-momen, dalam sudut pandang yang seringkali tak terpikirkan orang. Namanya mulai sering muncul di koran-koran sejak 1972, hingga tiba fase produktivitas yang menyurut pada 2004 dan sesudahnya. Sedikitnya 30 tahun pemikirannya yang khas mewarnai ulasan-ulasan musik di lembar-lembar opini media massa Meski diakuinya: “Menulis adalah kecelakaan sejarah.” Pernyataan itu disampaikan kepada putra semata wayangnya yang kini menjadi dosen sosiologi di Jerman. Suka (merasa) “gagal” menjadi musikus tersohor, seperti dicita-citakannya sejak remaja.

Dalam karir kepenulisan yang dianggapnya sebagai kecelakaan itu, ia malah merambah ke topik-topik di luar musik, seperti politik, sosial, hukum, dan kebudayaan. Selama sekian tahun ia dipercaya sebagai kolumnis untuk Kompas, nangkring bergantian bersama Harry Roesli dan Mohamad Sobary, membahas berbagai dinamika kehidupan masyarakat dengan bahasa yang kritis, lugas, sederhana, namun esensial. Hasil buah pikirannya tersebut dikumpulkan menjadi dua buku terpisah: Jas, Wakil Rakyat, dan Tiga Kera: Percikan Kebijaksanaan (Kompas, 2008), Prof. Dr. Miecky Mouse dan Human Error: Percikan Kebijaksanaan (Laras, 2017).

Sabtu, 7 April 2018 pukul 3 dini hari, Suka Hardjana wafat di RS Cikini, Jakarta karena sakit, pada usia 79 tahun. Jenazahnya dibawa ke Solo via jalur darat dan kemudian dimakamkan di TPU Triyagan, Jaten, Karanganyar. Pemakaman dihadiri oleh kolega-kolega dekatnya, para seniman dan akademisi: Sal Murgiyanto, Endo Suanda, Bre Redana, Rahayu Supanggah, Sutanto Mendut, Djohan Salim, dan lain-lain.

Seluruh rencana yang tengah disusun untuk kelak memperingati 80 tahun usianya pada 17 Agustus 2018 mendatang—terutama penerbitan buku biografi yang rencananya sebagai kado ulang tahun—seketika buyar, berganti ratapan. Istri Suka, Mugiyarsi, sangat menyesali kenyataan ini, karena ialah yang paling mengidam-idamkan momen spesial untuk suaminya ini. Sementara itu, pianis senior segenerasi dengan Suka, Iravati Sudiarso, masih tetap ingin mempersembahkan sesuatu kepada almarhum pada Agustus nanti, berupa pertunjukan musik.

Figur Lengkap

Suka Hardjana adalah gelora api yang terus membara hingga detik ini, dan akan terus berkobar sepanjang musik dan pengetahuan bersemayam di batin manusia. St Sunardi, dosen di Program Doktor Kajian Budaya (Kajian Seni dan Masyarakat) menyebut Suka sebagai jembatan emas yang menghadirkan musik sebagai pengetahuan dan ilmu. Tidak sekadar bunyi-bunyian yang kemudian hilang tanpa warisan.

Ia menempuh perjalanan panjang dan serius demi meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap musik. Oleh para kolega, hidupnya dikenal lurus, tidak aneh-aneh, penuh karya, menerangi, dan yang penting: memberi contoh.
Pada usia senja dengan kualitas syaraf pendengaran dan detak jantung yang terus melemah, ia masih ditodong ke sana-sini untuk berceramah maupun membimbing mahasiswa musik, meladeni sepenuh hati.

Sosoknya yang tangguh adalah figur yang lengkap piranti keterampilan dan pengetahuan musiknya, layaknya Amir Pasaribu, Slamet Abdul Sjukur, Ben Pasaribu, Sapto Raharjo, Harry Roesli, dan sekian tokoh musik garda depan berpengaruh lainnya yang lebih dulu berpulang.

Dari tangan dingin Suka banyak orang bisa menyaksikan bagaimana perjalanan musik Indonesia dituliskan secara jernih. Kita bisa membaca dalam dua buku utama, arsip tulisan khusus musik di koran-koran yang juga telah menjadi buku: Musik, Antara Kritik dan Apresiasi (Kompas, 2004) yang memuat 82 artikel, serta Esai dan Kritik Musik (Galang Press, 2004) yang memuat 69 artikel. Pemikirannya di dua buku itu sangat sering dikutip untuk keperluan karya tulis.

Satu bulan sebelum wafat, Suka masih menulis sebuah artikel sepanjang 2.058 kata untuk melengkapi buku karangannya, Estetika Musik, sebuah buku yang telah terbit 1983 silam dan diterbitkan ulang pada 2018 karena bobot relevansinya. Sepenggal bagian artikel tersebut seperti sebuah isyarat, membahas kaitan antara gerak dan musik:

“Tubuh terus bergerak sebagaimana bunyi: dan itulah yang disebut sebenar-benarnya musik! Seperti gerak orbit bumi-bulan dan matahari: gerak adalah musik! Bunyi dan gerak adalah kesatuan organik yang tak terpisahkan. Dari sanalah awal-mula dan akhir kehidupan di semesta bumi (AMT, 2018: 162-163).”

Pemikiran terkini (dan terakhir) Suka tersebut menyiratkan sebuah pandangan futuristik mengenai musik. Bahwa intinya dalam segala (yang ber)gerak terkandung musik. Gerak jantung adalah musik, gerak kaki yang meritmis adalah musik, hela nafas, tiupan angin, gerak daun, ombak, dan sebagainya; kendati semua itu seakan “diam” dan tak terdengar begitu saja oleh kemampuan telinga manusia yang terbatas. Tetapi gerak, bagi Suka, telah menjadikan musik ada. Gerak dialami oleh semesta dan isinya, sampai seluruhnya hilang tak lagi menyisakan ruang. Tanpa menyebut diri sebagai pemusik pun, setiap manusia “selalu bermusik” karena fitrahnya.

Menempuh Perjalanan Panjang

Selama hidupnya, sosok ini banyak menerima keberuntungan tak terduga. Seperti dikisahkan di buku Manusia Anomali Tanpa Kompromi (2014), di suatu sore tahun 1964, saat Suka sedang mencuci pakaian, datang petugas pos membawa kiriman berisi berkas-berkas. Saat itu ia masih duduk di semester akhir Sekolah Musik Indonesia (SMIND) Yogyakarta. Setelah dibaca, isi berkas-berkas itu menerangkan bahwa Suka telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan belajar musik ke Jerman. Berita ini tentu saja sangat mengherankan, karena Suka tidak pernah sekalipun mengajukan lamaran.

Usut punya usut, kejutan ini adalah “ulah” dari Rene Baumgartner, guru klarinetnya semasa di SMIND. Ia diam-diam merekomendasikan Suka untuk mendapat beasiswa belajar klarinet. Suka hanya memiliki kesempatan beberapa hari untuk pergi ke Jakarta mengurus keberangkatan. Ia tidak mempersiapkan apa-apa dengan matang, hanya membawa empat potong pakaian, klarinet, dan beberapa buku. Koper bagus yang dibawanya pun adalah pemberian Rene, gurunya yang mulia itu.

Keberuntungan kedua hampir sama ceritanya. Kali ini Suka ketiban berkat melanjutkan kembali studi conductorship (ilmu mengaba) di Ohio, Amerika. Juga melalui beasiswa yang tanpa melamar. Yang kedua ini karena “rayuan” Paul Wolfowitz, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia. Di Amerika itu Suka juga berkesempatan belajar manajemen seni. Zona pergaulannya semakin luas, dan tentu saja pengetahuannya semakin lengkap karena kesempatan demi kesempatan itu.

Sepulang dari rangkaian perjalanan luar negeri, Suka kemudian berkarya di Indonesia. Ia terus-menerus mendapat keberuntungan–yang sebenarnya adalah hasil tak langsung dari kerja keras dan dedikasinya.

Suka turut membidani berdirinya LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) yang sekarang menjadi IKJ (Institut Kesenian Jakarta), terutama memikirkan program studi musik di sana. Ia kemudian mendirikan Ensembel Jakarta; menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta—yang kemudian menginisasi Pekan Komponis Muda mulai 1979; mendirikan Klinik Musik Suka Hardjana: Pusat Studi dan Orientasi Musik—Suka rutin memberi bimbingan kepada para jurnalis musik; mengajar untuk program pascasarjana di kampus seni; menjadi kolumnis—adalah sebagian besar jejak penting pengalaman Suka di tanah air.

Remy Sylado (1992: 194), menyebut Suka Hardjana sedikitnya punya empat identitas kunci: musikus, pedagog, pemikir, dan penulis musik. “Dalam memandang musik, ia kritis dan realistis,” kata Remy. Suka juga tidak memandang remeh musik-musik lain selain yang ia tulis.

“Suka termasuk salah seorang pemikir musik yang baik yang pernah dipunyai Indonesia. Artinya, ia berpikir sebagai orang Indonesia dengan melihat sepenuhnya kepentingan Indonesia di tengah bangsa-bangsa lain,” lanjut Remy. Idris Sardi, violinis kenamaan yang juga sahabat dekatnya, menilai Suka adalah orang yang mau bersusah-susah, supaya orang lain ketiban “suka-nya.”

Namun rasanya banyak yang mengatakan Suka Hardjana seakan “gagal” melahirkan generasi penulis musik dalam kapasitas yang lengkap, terutama yang sering disebut kritikus—meski Suka sendiri tak pernah mau mengakui bahwa dirinya adalah kritikus musik. Memang benar, apa yang selama ini dilakukan Suka Hardjana tidak selalu paralel dengan stereotipe yang beredar.

Apalagi di Indonesia, profesi kritikus musik kurang mendapat tempat dan pengakuan. Area kerjanya masih serba abu-abu, masih terasa asing di telinga masyarakat. Suka menyebut dengan tegas: “ada kesenjangan antara kritik, karya seni, dan masyarakat pendukungnya” (2004: xv).

Suka hanya bermodal ketulusan dan kecintaan bahwa apa yang selalu ditulisnya (ia juga percaya) akan menjadi faedah di masa mendatang, terutama bagi tunas muda yang silih berganti mewarnai dinamika musik dari hari ke hari. Maka, sekiranya kita juga perlu lebih pandai dalam memetik pelajaran penting dari tokoh satu ini, bukan hanya soal “kata-kata pedas” yang sering mengalir di tulisannya, melainkan harga sebuah dedikasi untuk generasi. Apakah kita mampu menulis tanpa henti selama 30 tahun?

Suka Hardjana berhasil mengangkat derajat peristiwa musik hingga menjadi sebuah pengetahuan yang abadi—dinikmati oleh berbagai generasi, lebih dari sekadar euforia dan caci-maki antar sesama yang mewarnai hari-hari kita saat ini.

Selamat jalan, Pak Suka. Sungkem dari saya.
*Artikel ini telah dimuat di tirto.id pada 22 April 2018.

Reporter: Erie Setiawan
Penulis: Erie Setiawan
Editor: Nuran Wibisono