Mengapa Kita Malas Membaca dan Lebih Suka Bermain Musik?

Sudah tidak terhitung, berapa banyak teman, kenalan, kolega, dan lain-lain, yang curhat ke saya kurang-lebih begini:

“Aku kok males baca buku, ya? Sumpah males banget!”

Kepada yang mulia para curhater-curhatis, jawabanku sesederhana ini:

“Kalian kan sudah jago main musik, dan waktumu sudah habis banyak untuk latihan dan pentas-pentas, mana sempat membaca? Membaca itu kan butuh waktu, konsentrasi, keheningan, dan seterusnya. Pasti kalau baca baru 1-2 halaman sudah ngantuk, kan? Lalu pilih pegang HP, instagraman, YouTube, cek status WA teman, dll. Ketiduran deh…”

“Yes, bener! Bener banget! 100%!”

Begitulah. Aktivitas membaca, khususnya untuk kehidupan di dunia musik yang serba gedumbreng-gedumbreng dan sound system, memang masih menjadi kegiatan yang minoristik (kayaknya ini diksi aneh, ya? Minoristik. Setelah cek tidak ada di KBBI ternyata). Mbuh, spontan saja nulisnya tadi. Tapi maknanya paham, kan?

Oke.

Nah, itulah. Kalau mau jujur, saya juga lebih seneng main musik ketimbang memelotiti halaman demi halaman, teks demi teks, merangkum, mengambil inti-sari, menulis, berdiskusi, berdebat, dikritik, dibenci, dijatuhkan—yang semua itu berkaitan dengan segala aktivitas membaca (dan kemudian orientasi menulis) yang sudah belasan tahun saya lakukan. Sejujurnya lagi, saya lebih seneng garap musik, komposisi, manggung (anti-grogi), punya fans layaknya Sheila on 7, dan kegiatan yang serba praktis-praktis lainnya.

Membaca itu memang butuh niat, lebih tepatnya memahami apa orientasi kita setelah membaca. Jadi, penyebab utama malas membaca adalah, ya itu tadi, kita tak pernah tahu apa orientasi kita setelah membaca.

Sesederhana kita makan dan minum. Makan-makanan sehat orientasinya agar tubuh juga ikut sehat. Minum air putih hangat tiap bangun pagi agar sirkulasi darah lebih baik. Kalau baca buku, apa kira-kira orientasinya? Agar main musik makin jago? Nggak. Agar pengetahuan makin luas? Belum tentu. Disuruh dosen demi menyelesaikan tugas-tugas kuliah? Mungkin. Tapi apakah kamu ingat semua substansi yang kamu baca setelah mengumpul tugas? Mmm.. nggak juga, karena rata-rata kamu cuma copy paste aja, dan setelah itu kebanyakan lupa!

Itu sebab yang pertama: nihil orientasi. Kita tak tahu, untuk apa kita membaca.

Lalu sebab yang kedua adalah: memang tidak ada waktu atau tidak mau mengkhususkan waktu untuk membaca. Membaca atau tidak itu memang hak prerogratif setiap ummat musikus. Hmm, jangankan gitaris, drummer, vokalis, dan lain-lain yang sehari-harinya memang main musik. Anak-anak kuliahan musik saja (khususnya S1 ya) juga banyak yang malas membaca, lebih suka main musik dan nongki ke kafe bareng temen-temen.

Kalimat “tidak ada waktu”, menurut saya adalah klaim terhadap diri sendiri—yang secara transparan sebetulnya itu suatu ke-engganan karena kita tidak pernah sengaja “meng-ada-kan waktu” untuk membaca, atau memaksakan sekian durasi waktu agar kita khususkan untuk membaca.

Jadi sebab kedua adalah: tidak ada niat mengkhususkan waktu untuk membaca. Entah itu sejam, bahkan cuma 30 menit saja setiap hari.

Sebab ketiga, kamu tidak punya teman atau siapa pun itu, yang menyemangatimu agar mau membaca. Ini penting ga penting juga, sih. Penting karena sejujurnya hidup kita selalu butuh teman yang bersedia menyemangati, untuk banyak hal, kehidupan keluarga, cinta, karir, termasuk membaca. Karena tidak ada yang jadi “satpam”, dan lingkungan kita adalah orang-orang yang juga malas membaca, maka kita pun jadi ketularan malas. Kalau mau memulai membiasakan diri untuk membaca buku, dekatilah orang-orang yang gemar membaca, yang saban hari berselimut dan mandi bersabun buku-buku.

Sebab keempat. Dunia musik pada umumnya memang lebih banyak menguras “motorik dan afektif.” Lebih banyak menyedot otot-otot dan feeling. Kalaupun ada sisi-sisi kognitif yang kita pakai untuk bermain musik (contohnya menghitung, menghafal, mengandai-andai ide-ide musikal), membaca adalah aktivitas yang bisa dilakukan “sambil jalan”—seolah jadi nggak perlu-perlu amat. Dan kita sudah kadung punya klaim juga, bahwa membaca buku-buku tidak akan meningkatkan keterampilan motorik dan afektif itu. Sampai di sini, apa sebetulnya implikasi dari kegiatan membaca kita untuk aktivitas musik yang lebih banyak senam otot dan intuitif itu?

Menurut saya—ini pandangan subjektif saja—implikasinya adalah terciptanya kontrol terhadap seluruh aktivitas musikal kita. Maksudnya? Kita jadi tahu batas-batas, punya porsi, tidak lebay, dan selalu bisa mengukur segala fungsi dan peran kita sebagai musikus, baik secara individual maupun ketika bekerjasama dengan kelompok. Dan, kalau diajak berdiskusi dengan teman se-band atau sekomunitas, kita jadi punya jawaban-jawaban yang menarik dan tidak hanya pada ukuran-ukuran emosional saja. Seringkali, karena minimnya wawasan, kita main musik juga jadi serba ngegas begitu saja, lupa diri bahwa kita sedang berinteraksi dengan banyak orang. Lalu pengetahuan seperti apa yang kita baca? Tidak ada saran pasti, ini sangat tergantung kebutuhan kita pada teritori di mana kita berada dan bekerja.

Btw, apakah harus buku-buku musik yang kita baca? Tidak. Justru sangat tidak disarankan bahwa kita mempersempit pikiran kita sendiri dengan hanya membaca tentang musik saja. Almarhum penyanyi David Bowie adalah seorang kutu buku dengan bacaan-bacaan yang bervariasi, mulai dari novel hingga buku-buku filsafat. Di Indonesia, Cholil Mahmud dari band Efek Rumah Kaca, juga seorang kutu buku, sampai-sampai beliau dan kawan-kawan punya kolektif Kios Ojo Keos di Jakarta yang membaca dan menjual buku-buku sekaligus mendukung pertumbuhan kreatif dengan berbagai cara yang mandiri dan tangguh.

Didolani Etnomusikolog Kondang Pak Philip Yampolsky. Istri Beliau Ternyata Temannya Ibuku di SD Santa Maria Solo Angkatan 60-an

Saya bersama Pak Philip, sosok yang menginspirasi sejak aku kuliah dulu.

Masih dalam suasana Lebaran 2019, minggu pertama di bulan Juni itu, Pak Philip Yampolsky bersama istrinya, bu Tinuk, berkunjung ke gubuk saya. Pak Philip adalah etnomusikolog kondang se-jagat raya. Beliau punya fokus dominan untuk meneliti musik-musik Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Hasil risetnya yang terkenal, yang dikerjakan bersama tim, adalah Seri Musik Indonesia, rekaman 20 CD Audio “Music of Indonesia” terbitan Smithsonian Folkways. Rekaman ini banyak dipakai menjadi rujukan berharga untuk penelitian tentang musik Indonesia sesudahnya.

Siapa yang tidak senang kedatangan sosok ini, dalam suasana yang akrab dan intim. Pak Philip dan Bu Tinuk kubuatkan teh hangat dan kujamu dengan Kue Monde butter yang khas itu. Pak Philip bercerita banyak tentang proyek penelitiannya di Pulau Timor, yang saat ini tengah ia kerjakan. Kami ngobrol hampir 2 jam.

Kedatangan Pak Philip bermaksud untuk melihat koleksi buku-buku yang kukerjakan dan kuterbitkan. Dan beliau juga berniat membelinya sebagai bacaan pelengkap dan referensi penelitian.

Kebetulan waktu itu ibuku sedang dolan ke Jogja, dan sudah dua hari menginap di tempatku. Menjelang beliau berdua pamitan, aku memperkenalkan Pak Philip dan Bu Tinuk kepada ibuku. Caraku memperkenalkan beliau berdua kepada ibuku tentu bukan menyebut “Pak Philip sebagai etnomusikolog”, pasti ibuku bingung.

“Buk, ayo kukenalkan, ini Pak Philip, profesor musik, dan ini Bu Tinuk, istrinya.” Mereka pun mengobrol, sampai tiba pada suatu momen bercerita tentang tanah kelahiran. Ini sangat umum, ya..

“Panjenengan dari mana?” tanya Ibuku.

“Saya asli Solo,” jawab bu Tinuk.

“Lho, lha sama. Nuwun sewu (maaf), dulu ibu SD di mana?” tanya ibuku.

“Saya di SD Santa Maria, Bu.” jawab bu Tinuk lagi.

“Lah, kok sama lagi? Ealah…” (Pak Philip manggut-manggut sambil tersenyum).

“Wah, kalian teman SD, ya?” sahut Pak Philip.

Maka pembicaraan demi pembicaraan tentang memori masa silam pun berlanjut. Mereka bercerita tentang guru sekolah, kisah-kisah di sekolah pada waktu itu. Menarik sekali. Aku cuma menyimak saja. Dunia ini sangat mini.

Setelah cukup puas bernostalgia, beliau berdua akhirnya pamit pulang. Mobil gocar sudah menunggu di depan. Terima kasih banyak, Pak Philip dan Bu Tinuk. Tak bisa digambarkan lebih panjang lagi kebahagiaan ini. Semoga Anda berdua terus diberi kesehatan dan berkat. Amin. Amin. Amin.

Daaahhh…

Sampah dan Bunyi

Aner pentas musik rangkas pertama di halaman kantor pusat pegadaian Solo.

Sampah dan bunyi adalah dua subjek yang sangat menarik untuk dikombinasikan. Sampah adalah barang/benda yang “dianggap” sudah tidak terpakai, maka ia dibuang, menjadi sampah. Dan bunyi adalah zat/materi, yang sama sekali tidak berhubungan dengan sampah, namun bunyi bisa dihasilkan dari sampah.

Kemudian kita akan bertemu kata kreativitas untuk menjembatani kaitan antara sampah dan bunyi itu. Ya, mana mungkin tanpa kreativitas—dalam kadarnya yang sederhana maupun kompleks—bisa mewujud suatu bentuk “estetika” yang bersumber dari sampah dan bunyi?

Sangat luar biasa kreativitas, misalnya, Pak Asep Nata dari Bandung, yang menyulap pelok (biji mangga), menjadi instrumen tiup yang ia namakan pelokarina, adaptasi dari ocarina. Tak hanya menyulap pelok, ia juga mengkreasi karinding yang menggunakan bahan kartu sim. Ia sebut hasil kreativitasnya itu dengan nama karinding kartu.

Pada Yogyakarta Gamelan Festival 2017 saya diminta untuk ikut menulis catatan kuratorial untuk sebuah sesi pameran Gamelan Limbah Berbunyi. Sangat unik semua yang ditampilkan di sana. Kita akan menemukan berbagai jenis instrumen yang dikreasi menyerupai gamelan.

Kedua contoh di atas adalah antara kreativitas “sampah dan bunyi” yang terhitung cukup kompleks karena prosesnya membutuhkan waktu dan pikiran lebih banyak.

Ada juga contoh yang sangat simpel, yaitu “perkusi barang bekas.” Bahan-bahan yang digunakan antara lain: galon, ember, drum, gentong. Singkat cerita, anak saya Aner masuk Sekolah Dasar. Oleh sekolah tiap siswa baru diberi kesempatan mengambil dua ekstrakulikuler. Aner memilih taekwondo dan musik rangkas (barang bekas). Taekwondo latihan tiap Senin, dan musik rangkas tiap Jumat.

Ketika pertama kali mengantar Aner untuk latihan, dan musik rangkas itu bergaung di aula, sejujurnya “telinga” ini tidak sanggup mendengar dari dekat. Hal ini karena banyak faktor. Salah satu contohnya adalah: galon yang ditabuh dengan stick drum kayu. Ealah.. lha kok sepulangnya latihan Aner minta galon bekas dan stick untuk latihan di rumah. Praktis—dan coba dibuktikan sendiri—galon yang dipukul pakai stick kayu itu akan punya bunyi yang sangat tajam. Suasana di rumah jadi mendadak noise. Tapi apa daya, Aner sedang asyik-asyiknya menikmati dunianya. Mungkin seperti galon itu lebih pas kalau dipukul dengan stick yang diberi gulungan lembut di ujungnya. Bunyinya akan lebih bersahabat di telinga.

Anyway, akhirnya Aner pentas juga untuk pertama kalinya di bulan Oktober 2019. Melihat (mendengar) musik rangkas ini dimainkan di atas pentas terbuka, langsung beda rasanya. Dan Aner, yang terjatah main ember cat besar, terlihat bersemangat, sangat berkonsentrasi di atas panggung. Saking konsentrasinya, ia tampak terlihat tegang.

Berkat Musik di Hari Natal

Natal adalah sebuah momen dimana kebahagiaan selalu hadir, meskipun tak selalu harus ada musik sebagai syarat wajibnya. Namun, apakah kita bisa menghindar dari Jingle Bells, Gita Surya Bergema, Malam Kudus, Gloria, dan seterusnya—yang meskipun bernyanyi rada fals pun, kita tetap menganggap itu semua adalah lagu suka-cita, untuk merayakan kembali inisiasi yang kudus.

Musik di hari Natal memberikan keteduhan batin, terutama karena syair-syairnya yang menggugah semangat. Tak ada lagu sedih di hari Natal, tak ada lirik yang provokatif di hari Natal, tak ada lagu yang melampaui batas kewajaran di hari Natal. Semuanya hadir dalam porsi yang sama-sama kita harapkan. Maka, musik di hari Natal juga bisa dimaknai sebagai kemenangan batin, karena kita telah berhasil memelihara kelembutan hati.

Setiap Hari adalah Natal

Seharusnya di dalam hidup kita, setiap hari adalah Natal. Sama seperti musik yang juga merupakan elemen pendamping hidup yang selalu bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Maka kebijaksanaan sangat dibutuhkan, sama seperti kebijaksanaan untuk memperjuangkan kemenangan batin yang tidak hanya terjadi pada hari Natal saja.

Musik-musik di hari Natal jelas merupakan musik-musik yang terikat momen. Sangat tidak pas rasanya apabila kita bernyanyi lagu-lagu Natal di luar bulan Desember. Sebab itu, waktu yang sedikit ini adalah peluang penting untuk kembali meresapi lagu-lagu Natal, yang maknanya harus sampai pada tataran inti-sari, dan bukan klise semata.

Apabila kita sebut lagu-lagu Natal sebagai lagu rohani, maka urusan badaniah menjadi tidak penting, tetapi sebaliknya, dan lagu-lagu itu bukan menjadi inti-sarinya, melainkan hanya perantara, untuk menuju apa yang dikehendaki rohani itu sendiri.

Pemaknaan terhadap lagu-lagu Natal setidaknya harus melampaui level harafiah, terminologi, etimologi, hingga epistemologinya, sehingga pemaknaan kita tidak sekadar kulit (harafiah), tidak sekadar pori-pori (terminologi), tidak sekadar faktor genetik (etimologi), namun melampaui semuanya hingga pada unsur-unsur filofofis dan jiwa (epistemologi). Beberapa hal itu adalah drajat dalam upaya kita memaknai fenomena atau peristiwa. Allah telah mencapai tahap yang tak bisa diwakili oleh pikiran logis manusia, maka kita merasakan mukjizat-mukjizat. Sakit parah disembuhkan, bahkan mati dibangkitkan. Natal memberikan penyadaran kembali akan kemuliaan itu. Lagu-lagu Natal melalui syair-syairnya harus kita maknai ulang dan tidak sekadar kita nyanyikan sembari makan-makan.

Djaduk

Kabar berpulangnya Djaduk Ferianto (1964-2019), seniman tinggi besar dan serba bisa itu, memang mengagetkan banyak orang, termasuk saya. Figurnya yang supel, humoris, sekaligus tegas dan perfeksionis—menjadi yang paling utama dikenang oleh para sahabat. Bagi anak muda, Djaduk adalah “pemimpin”—yang rela menghabiskan banyak pikiran dan waktu untuk turut memikirkan kesinambungan kebudayaan musik—melalui festival-festival dan peristiwa-peristiwa lain yang turut ia bina.

Seketika saya ingat alm. Sapto Rahardjo, Wayan Sadra, Ben Pasaribu, Slamet Sjukur, Suka Hardjana, yang kurang lebih mempunyai nafas perjuangan yang serupa. Perbedaannya adalah Djaduk lebih multi-disiplin, selain bermusik ia juga berteater, main film, menggambar, dan beberapa tahun terakhir gemar motret-motret hingga berpameran tunggal.

Pergaulan Djaduk sangat luas. Tidak mengherankan, suasana dalam layatan siang itu (13/11/2019) di Padepokan Bagong Kussudiarjo, terasa layaknya konser. Berjubel berbagai “tipe” manusia. Saya ikut melayat, ikut bernyanyi lantang pujian-pujian yang dinyanyikan saat misa yang dipimpin Romo Budi Subanar itu. Sampai pada lagu “Bapa Kami” saya mbrebes, sedikit berkaca mata ini. Pertama karena koor-nya bagus sekali, kedua karena menghayati kekuatan syair dan lagu itu, dan ketiga karena saya merasa iri sekaligus kagum kepada Pak Djaduk—atas segala prestasi mulianya di akhir hayat. Kepergiannya tidak merepotkan, pelayatnya banyak. Pak Djaduk sudah pasti langsung mendapat tiket ke surga.

Selamat jalan, Pak Djaduk.

Foto: Erie/Forum Musik Jalur Sepi. Radio Sonora Jogja. 2009.

Orkes Pasar Keroncong Feat. Brian Prasetyoadi

Tahun 2019 saya dipercaya oleh panitia Pasar Keroncong Kotagede untuk ikut berkontribusi menyumbangkan pikiran mengenai materi acara. Boleh dianggap semacam “kurator”, meskipun tidak serius-serius amat.  Sejujurnya semua serba mendadak. Saya baru dihubungi oleh Pak Natsir, Ketua Panitia, di sekitar akhir Agustus. Puji Tuhan semua tetap lancer sesuai harapan bersama.

Setelah dua kali tampil berturut-turut, di tahun 2019 saya memutuskan untuk tidak tampil, tidak nabuh. Sebetulnya Pak Natsir meminta Kroncongan Agawe Santosa untuk ikut tampil di tahun ini.  Saya merasa ndak enak saja, tampil terus. Lantas saya mengusulkan kepada Pak Natsir agar PKK membentuk sebuah kelompok yang dinamakan Orkes Pasar Keroncong, sebagai pengganti Kroncongan Agawe Santosa. Orkes Pasar Keroncong saya maksudkan sebagai “branding” untuk event Dinas Pariwisata Yogyakarta yang diselenggarakan tahunan ini. OPK akan tampil tahunan khusus untuk mengiringi penyanyi-penyanyi yang diundang tampil di PKK.

Ide ini disetujui oleh Pak Natsir.

“Lalu siapa ya Mas Erie bintang tamu yang diusulkan untuk tampil tahun ini?” tanya Pak Natsir.

“Brian vokalis Jikustik pak, saya rasa cocok.” usul saya sembari memberi beberapa alasan.

Usul tersebut juga langsung diterima oleh Pak Natsir.

Maka saya mulai “membujuk” Mas Brian, juga melalui Manajernya, Mas Jatie, agar Mas Brian mau bernyanyi di PKK tahun ini. Dan Puji Tuhan lagi, Mas Brian belum ada jadwal manggung di 19 Oktober dan menyanggupi tawaran ini. Kami kemudian mengatur pertemuan demi pertemuan, hingga menyelenggarakan sekali latihan di 18 Oktober.

Saya membentuk tim Orkes Pasar Keroncong dalam formasi yang saya putuskan dalam 6 instrumen. Kibor (Eko), Biola (Pandu), Cak (Revi), Cuk (Theo), Selo (Novti), Bass (Bagas). Terima kasih juga kepada Mas Wawan yang turut merekomendasikan beberapa nama musisi. Pilihan formasi yang saya tentukan ini bagi saya simpel tapi menarik, juga mengakomodasi kebutuhan corak lagu-lagu yang akan dinyanyikan oleh Mas Brian. Terutama keputusan untuk menyertakan kibor.

Tiba juga waktu pentas. Kami tampil untuk menutup penampilan di Panggung Kajengan. Total ada 3 panggung di PKK. Mas Brian tampil sangat interaktif. Suaranya, bagi saya, jernih dan pas. Mas Brian juga merupakan pribadi yang baik dan mau belajar, mau lembur latihan dan memberi banyak masukan untuk tim. Video amatir penampilannya bisa disaksikan di sini, sebelum dirilis video resmi dari panitia.

Acara keseluruhan juga berlangsung sukses. Beberapa hari kemudian saya diberi hadiah oleh Pak Natsir sebuah amplop apresiasi (hehe), ditambah bonus traktir makan dan 5 buah kaos Pasar Keroncong. Senang bukan main pengalaman ini. Dan bahagia bisa berkontribusi lebih intim di PKK 2019 ini.

Foto: Erie.

Diskusi Musik dan Yang Serba Milenial Bersama Gus Fuad Plered

“Zaman sekarang parameter musik adalah HP, seluler, bukan speaker atau panggung,” begitulah keyakinan Gus Fuad, atau KH Muhammad Fuad Riyadi, pemimpin Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah, Bantul, ini.  Selain Kiai, Gus Fuad juga pengarang lagu, pelukis, dan pemikir.

Aku cuma mengangguk-angguk. Tapi benar juga. Setiap orang di zaman sekarang hampir semua memegang HP, terlebih anak muda. Jika mereka tidak sedang memegang  earphone, maka memutar musik langsung dari speaker HP adalah andalan tiap orang. Entah itu untuk YouTube, Instagram, FB, dan lain-lain.

Gus Fuad meyakinkan kembali: “Kalau mau preview hasil rekaman musik yang sudah mixing—untuk melihat ukuran apakah itu kompatibel untuk khalayak—ya jangan pakai speaker atau headphone, pakai lawaran saja, speaker HP. Nanti bisa terdeteksi pas atau nggak-nya.” Kurang lebih begitu.

Lagi-lagi aku cuma “ya ya ya.” Ada benarnya juga.

Memang fakta ini, atau setidaknya pandangan Gus Fuad, adalah bentuk opini atas pergeseran media dengar di dunia musik yang sedang tidak bisa kita hindari. Namun, bagi audiophile (pendengar serius), mendengar musik lewat HP lawaran tanpa earphone adalah masalah besar.  Opini Gus Fuad ini jelas beda konteks. Beliau sedang berusaha menganalisis “persentuhan dan koneksi emosional” milenial dengan musik, lewat cara yang paling dekat dan praktis dengan mereka.

Secara teknis, memang suara yang keluar dari speaker HP hanya berada di range hi-frekuensi saja. Tapi masuk akal juga analisis Gus Fuad melihat fakta tentang ukuran “kecepatan dan ke-ada-an” yang menjadi sangat niscaya di zaman sekarang.

Pada kesempatan lain, sahabatku Budi Pasadena, sound engineer dari Solo, beberapa waktu lalu menelponku satu jam. Meminta opini mengenai pergeseran-pergeseran di dunia musik hingga hari ini, sejak 1990an, di mana kami sama-sama mulai “eksis.”

“Banyak!” kataku. “Zaman sekarang yang penting kan cepat dan ada, kualitas nanti dulu. Kalau dulu ukurannya kualitas dan keabadian,” aku menegaskan opini ini.

Jika kita membahas “musik dan kualitasnya”, itu jadi serba relatif saat ini. Ambil contoh dulu musisi rekaman di studio, dimana semua sistemnya analog, maka mereka harus bisa bermain sebagus mungkin, latihan semaksimal mungkin. Kalau keliru mengulang dan repot, mahal biayanya. Sekarang bisa ditambal sulam.

Aku juga menanyakan fakta-fakta kekinian ini kepada Mas Dory Soekamti, owner Euforia Publisher dan gitaris Endank Soekamti, pada suatu kesempatan lain. Aku tanya kepada Mas Dory: “Mas, apa sebetulnya persaingan di dunia industri musik zaman sekarang?” Kutambahkan dikit: “Yang jelek saja disukai, yang bagus juga belum tentu banyak pendengar, kan semua serba blur?”

Mas Dory menanggapi dengan menyatakan: “Betul. Memang sekarang pemainnya banyak sekali, dan menurut saya yang penting saat ini adalah menciptakan karakter dan konsistensi.”

“Apakah dulu karakter tidak penting?”, tanyaku lagi.  

“Sama pentingnya,” lanjut Mas Dory. “Tapi di zaman sekarang, karena itu tadi, adanya banyak pemain, dan itu siapa saja, tidak hanya musisi, tapi juga awam, pekerja pabrik, dll, maka menentukan karakter yang sangat spesifik dan menonjol harus menjadi senjata utama. Dan yang paling penting memang konsisten,” jelasnya lagi.

Memang ada pertempuran dan pertautan yang keras dan dialektis antara elemen estetika musik dan media dengar di zaman milenial ini.

Gus Fuad juga punya opini tambahan, “Bahwa kesenian itu memang harus viral! Viral dalam pengertian bukan sekadar tenar-tenaran. Artinya harus bisa diapresiasi masyarakat luas. Karya seni itu bagi saya ibarat anak-anak kita, dimana kita mengemban tanggung-jawab untuk terus membesarkannya.”   

Soal media dengar HP dan distribusinya pada pendengar milenial ini, untuk tujuan meluaskan pesan-pesan kepada khalayak, memang bisa menjadi metode tersendiri sebagai bagian dari strategi publikasi musik yang praktis.

Di sisi lain akan ada “masalah” tersendiri bagi sound engineer. Karena rata-rata sound engineer melakukan preview di speaker atau monitor headphone. Itu pun ada berbagai kualitas tipe yang berbeda di speksifikasinya, dan memang tidak ada standar yang paling valid untuk mengukur “yang paling standar” dalam dunia industri musik.

Kompleksitas musik (aransemen, instrumentasi), menjadi semacam jembatan untuk mendiagnosa dan menanggapi opini Gus Fuad ini. Tapi bagaimana mungkin itu terjadi untuk musik-musik yang memang perlu range yang luas di aspek sebaran frekuensi-frekuensinya?

Ya, semua memang dekat dengan HP, saban hari, diajak tidur, diajak ngising, diajak bantu cari peta, diajak mendeteksi suhu badan, dan seterusnya.  Opini Gus Fuad sangat menarik untuk diteruskan menjadi diskusi-diskusi lebih detail, terutama menyangkut hal-hal teknis dan menciptakan “daya pikat instan” kepada pendengar milenial, tentu saja tanpa meninggalkan bobotnya.

Geografi Ekonomi Musisi

Apabila musisi disebut sebagai profesi, ia akan menanggung beban simbolik dan status yang menuntut adanya sinergi antara kualitas kerja dan hasil. Wajar jika ada yang menuntut kompensasi tertentu untuk sekali tampil, atau ketika ada kontrak endorsment dalam jangka waktu tertentu. Besaran-nya akan berbeda-beda pada setiap talentanya, termasuk pada posisi geografis dimana pekerjaan itu dilakukan, serta untuk kepentingan “apa” dan “siapa” pekerjaan itu.

Pada lanskap mikro-ekonomi berbasis spiritual, manusia adalah “tubuh tanpa kabel” (the wireless body) yang dibiarkan sekaligus dikelola Tuhan dalam menanggung nasibnya sendiri. Sedangkan pada lanskap makro-ekonomi berbasis sistem politik, manusia—secara sengaja atau tidak—diatur hegemoni maupun norma sosial yang mau tak mau menyeretnya dalam tren dan keseragaman: maka muncul standar tertentu atas hasil kerja profesi yang bisa mutlak atau fleksibel tergantung kesepakatan.

Dari konsep berpikir pada paragraf kedua di atas kita akan selalu berada pada dua kutub pergumulan bercampur tiga irisan orientasi antara: (1) Merencanakan kepentingan “diri sendiri” berdasarkan hak “diri sendiri”, dan (2) Kepercayaan atas sebuah rejeki berlandasan keimanan masing-masing—disambung dengan tiga orientasi, yaitu: (1) Pengulangan yang membosankan yang penting hidup; (2) Perubahan nasib generasi; (3) Buah Surgawi. Masing-masing insan juga akan berbeda, tergantung pemahamannya.

Kita bisa langsung kaya jika mengunjungi suatu daerah tertentu dimana batas antara idealisme dan keniagaan begitu jauh. Berbeda kasusnya pula di sebuah tempat dimana orang tidak mau menganut uang, kecuali lemparan pertanyaan mereka atas sejauh apa dedikasi kita demi membangun nasib bangsa yang sangat membutuhkan wawasan sebagai hak yang sebetulnya ditanggung Negara.

Tidak bisa dipungkiri, banyak yang masih kebingungan tentang konsep apa-saja dari suatu pekerjaan yang melibatkan musik sebagai mesiunya. Yang umumnya dipahami adalah “keranjang-keranjang” tertentu yang mengikat gerak tubuh dan kemudian berakibat bagi ketidak-luwesan orientasi: “Are you jazzer, are you krontjongers, are you raper, etc.”—tetapi mengabaikan bahwa di sebalik kata musik sebagai obyek dan musisi sebagai subyeknya, ada sikap yang harus benar-benar terlatih. Maka pada tingkatan drajatnya, akan muncul istilah musicianship, yaitu hubungan mesra antara ketrampilan, pengetahuan, dan sensitivitas artistik—sebuah perjuangan menggenapkan cipta-rasa-dan karsa.

Komponis Paul Hindemith sejak tahun 1946, dari buku karangannya Elementary Training For Musicians sudah mengingatkan para musisi untuk terampil secara menyeluruh dan seimbang dalam teori dan prakteknya. Kemampuan komprehensif tersebut menyangkut kesabaran atas detail apa yang tengah dipelajari, baik materi-materi musikal maupun korelasi prosedural beserta tata-cara standar atas perwujudan kerja para musisi. Berdasarkan fatwanya pada buku tersebut sebetulnya tersirat makna bahwa tidak ada demarkasi antara musisi otodidak dan musisi berpendidikan formal! Semua musisi menanggung beban kesetaraan antara kemampuan praktis, wawasan, dan pengalamannya.

Tidak ada yang benar-benar berhasil, dan tidak ada pula yang benar-benar gagal. Semua dalam sejarah telah dituliskan berbagai garis nasib yang masing-masing telah menemui bentuknya sendiri-sendiri.

Antonin Dvorak jenius dalam melodi, semua kritikus mengakui, meskipun ia diyakini mengekor Brahms atau Smentana. Betapapun keseluruhan karya Simfoni Beethoven mampu menggambarkan secara jelas gradasi nasib awal karir hingga puncaknya, estetika harmoni dan intensitas tensinya tidak segarang Shostakovich yang hidup dan bertahan dalam goncangan mirisnya Perang Dunia II.

Betapa sulit pula dibayangkan keahlian seorang Carl Stumpff yang pakar dalam bidang musik, fisika, dan hukum. Melalui penemuannya yang terkenal:Tonspsychology (tone and psychology) Stumpff meneliti bagaimana kaitan antara fenomena musikal dan fungsi mental dari bekerjanya syaraf-syaraf dan jiwa dalam merespon musik sebagai salah-satu rekomendasi dasar acuan ilmu-akustik modern. Bukti konkritnya adalah tentag pertanyaan kenapa kita tidak bisa tenang bekerja dalam lingkungan yang noise dan tidak nyaman bagi telinga?

Implikasi Nyata

Implikasi nyata atau dampak serius dari konsep geografi ekonomi dalam pemahaman makro-dan-mikro ini adalah sekarang kita semakin menyaksikan fakta tentang sulitnya menyatakan kemerdekaan ber-ekspresi dan sulitnya berpikir sederhana akibat rayuan informasi sesaat dan simultan yang sangat jarang mengandung kedalaman di era internet ini. Struktur kerja otak yang kompleks adalah indikasi ketidakcerdasan manusia, sama seperti ruwetnya kemacetan lalu-lintas.

Setiap orang yang saya temui terlalu sulit percaya pada kemampuannya sendiri. Betapapun mereka adalah musisi, mereka tidak yakin akan masa-depannya yang mandiri dan kemudian memilih melamar menjadi pengikut Negara atau ide orang lain tanpa didasari panggilan yang tumbuh dari hati terdalam. Ironisnya, keputusan tersebut hanya karena alasan ketidakstabilan grafik ekonomi mikro pada tataran kasat-matanya (tanpa berkaca pada kualitas keahlian yang dimiliki). Pola-pola jalan pintas seperti ini secara tidak langsung menggambarkan hipotesa bahwa ketekunan dan kesabaran ada batas waktunya, padahal tidak. Dan banyak contoh lain yang serupa.

Sebagai curhat selingan, saya ingin berbagi cerita bahwa saya memiliki sebuah teori yang sudah saya buktikan dengan cara mengalaminya secara langsung. Teori ini saya istilahkan dalam bahasa Inggris, yaitu “Five to Five”. Five yang pertama adalah lima tahun pertama, dan five yang kedua adalah lima tahun berikutnya. Lima tahun pertama adalah penggemblengan atas wawasan dan konsep berpikir; dan lima tahun berikutnya adalah mengelola kepercayaan publik atas kemampuan yang saya miliki. Buah rejekinya ada di lima tahun kedua.

Jadi, sedikitnya saya memerlukan waktu sepuluh tahun untuk merasa semakin menguji panggilan dan meyakinkan kata hati. Pada saat usia saya memasuki kepala tiga saya memutuskan untuk tidak mau mencari-cari lagi apa yang ingin saya capai, dan kemudian saya tidak percaya dengan apa yang sering dibilang orang-orang dengan istilah “profesi”, meskipun pada momen tertentu saya harus menyebut status profesi A atau B hanya lantaran kebutuhan ber-interaksi dengan orang lain, karena tidak setiap orang bisa menerima konsep tersebut.

Pengalaman demi pengelaman tentu saja bukan merupakan final, tetapi setidaknya, berdasarkan parameter kedewasaan secara psikologis, saya diuntungkan oleh momen-momen yang disengaja maupun tidak atas hidup dan karir saya. Beberapa sahabat menolong dan memberi jalan terang. Wangsit Illahiah memayungi segala keputusan demi keputusan yang diambil, datangnya kadang menjelang subuh di saat semua tetangga lelap tertidur. Maka saat ini saya merasa sebagai pribadi yang merdeka untuk menentukan apa yang saya mau tanpa ditekan siapapun. Sebagai musisi, penulis, bakul, instruktur, konsultan, dan lain-lain tidak saya anggap sebagai profesi, melainkan hanya implikasi dari laku dan kepercayaan.

Pada posisi mikro kita akan senantiasa bertarung dengan keberanian memutuskan sesuatu yang memang kita yakini membawa hikmah yang tepat, dan pada posisi makro kita diatur norma dan sistem dalam masyarakat.

Pemahaman yang runtut atas pengertian bahasa sebagai beban harafiah, terminologis, etimologis, epistemologis, ontologis, atau tentang hakikat-hakikatnya sangatlah penting untuk menakar kedalaman dan keseimbangan atas gagasan ini.

InsyaAllah kita dimudahkan. Salam hangat.

Gambar: Colour Study – Squares And Concentric by Wassily Kandinsky http://www.easyart.com/scripts/zoom/zoom.pl?pid=6715

Bersama Ibu Suciwati dan Pak Nanang Garuda

Pengalaman dan berkah luar biasa memandu diskusi bersama dua beliau ini: Ibu Suciwati Munir dan Bapak Nanang Garuda, 11 November 2017, dua tahunan yang lalu. Saya mendapatkan pelajaran berharga tentang konsistensi sebuah perjuangan, ketulusan, dan keseriusan. Pak Nanang adalah seorang seniman, dosen, dan kolektor simbol garuda. Beliau sangat dalam dan teguh memaknai Pancasila, menyebarkan virus positif kepada siapa saja yang ditemuinya. Beliau juga paham sejarah lambang Negara kita itu. Dan Ibu Suciwati, dengan segala ketegarannya pasca dibunuhnya Munir, suaminya, hingga kini terus berjuang melawan ketidakadilan. Salut dan hormat.

Senangnya Jumpa Bu Nana

Ibu Harmunah, atau hangat disapa Bu Nana, adalah pribadi tangguh luar biasa. Setelah saya selidiki, usianya ternyata “18”, bukan 81 seperti yang diungkapkannya. Saya semakin yakin, bahwa umur di mata beliau itu fiktif, tapi kesehatan dan produktivitas itu nyata!

“Ada kuncinya, Bu?”
“Ada. Itu kuncinya saya taruh di laci.”

Ha.ha.ha.

Di ruang tamu yang simpel, dengan sebuah piano Jepang di sudut, saya dijamu cerita-cerita, tidak hanya seputar romantisme masa lalu, tapi juga soal kompetisi vokal-vokal kekinian dari dan di televisi Indonesia, yang menurut beliau: Tidak Menarik Ditonton!

“Lha, kenapa, Bu?”
“Ndak ada yang bener!” jawabnya dengan lantang.

Bagi sosok yang pernah meraih Juara 2 Bintang Radio Nasional Kategori Seriosa pada 1975 di Jakarta ini, usaha manusia untuk menyanyi dan terus memperbaiki teknik-tekniknya, adalah perjuangan yang wajib disangga sepanjang usia.

“Penyanyi zaman sekarang, kalau dia, maaf ya, sudah merasa hebat, payu, tenar, lantas malas belajar teknik-teknik, pinginnya instan,” tegas Bu Nana yang juga Ibunda dari Adit kibordis “Jikustik” ini.

Hebatnya, kritik itu langsung diikutinya dengan contoh-contoh konkrit, dengan menyanyi, memeragakan, menunjukkan referensi, dan seterusnya. Nukilan contoh-contoh beliau nyanyi itu menggetarkan.

Bu Nana, yang juga penulis buku Musik Keroncong (1987) yang diterbitkan Pusat Musik Liturgi ini juga membeberkan resep-resep “Awet Tua.”

Hu’um.
Awet Muda kan sudah umum, yang ini Awet Tua.

“Gimana, itu, Bu? Saya kok penasaran.”
“Ya terus berjuang saja, pasrah, ikhlas.”

Dalam jarak 1,5 meter kami bercakap, syaraf-syaraf di telinga beliau masih fasih menangkap. Karunia Illahi tersurat jelas dalam lika-liku lekuk garis pembentuk senyumnya. Bu Nana memang sangat mengerti bagaimana menerjemahkan tugas hidup (harus selalu bahagia), sehingga saya pun sampai ngeyel tidak setuju kalau umurnya baru 81.

(Terimakasih, Ibu Ike Kusumawati).