Djaduk

Kabar berpulangnya Djaduk Ferianto (1964-2019), seniman tinggi besar dan serba bisa itu, memang mengagetkan banyak orang, termasuk saya. Figurnya yang supel, humoris, sekaligus tegas dan perfeksionis—menjadi yang paling utama dikenang oleh para sahabat. Bagi anak muda, Djaduk adalah “pemimpin”—yang rela menghabiskan banyak pikiran dan waktu untuk turut memikirkan kesinambungan kebudayaan musik—melalui festival-festival dan peristiwa-peristiwa lain yang turut ia bina.

Seketika saya ingat alm. Sapto Rahardjo, Wayan Sadra, Ben Pasaribu, Slamet Sjukur, Suka Hardjana, yang kurang lebih mempunyai nafas perjuangan yang serupa. Perbedaannya adalah Djaduk lebih multi-disiplin, selain bermusik ia juga berteater, main film, menggambar, dan beberapa tahun terakhir gemar motret-motret hingga berpameran tunggal.

Pergaulan Djaduk sangat luas. Tidak mengherankan, suasana dalam layatan siang itu (13/11/2019) di Padepokan Bagong Kussudiarjo, terasa layaknya konser. Berjubel berbagai “tipe” manusia. Saya ikut melayat, ikut bernyanyi lantang pujian-pujian yang dinyanyikan saat misa yang dipimpin Romo Budi Subanar itu. Sampai pada lagu “Bapa Kami” saya mbrebes, sedikit berkaca mata ini. Pertama karena koor-nya bagus sekali, kedua karena menghayati kekuatan syair dan lagu itu, dan ketiga karena saya merasa iri sekaligus kagum kepada Pak Djaduk—atas segala prestasi mulianya di akhir hayat. Kepergiannya tidak merepotkan, pelayatnya banyak. Pak Djaduk sudah pasti langsung mendapat tiket ke surga.

Selamat jalan, Pak Djaduk.

Foto: Erie/Forum Musik Jalur Sepi. Radio Sonora Jogja. 2009.

Orkes Pasar Keroncong Feat. Brian Prasetyoadi

Tahun 2019 saya dipercaya oleh panitia Pasar Keroncong Kotagede untuk ikut berkontribusi menyumbangkan pikiran mengenai materi acara. Boleh dianggap semacam “kurator”, meskipun tidak serius-serius amat.  Sejujurnya semua serba mendadak. Saya baru dihubungi oleh Pak Natsir, Ketua Panitia, di sekitar akhir Agustus. Puji Tuhan semua tetap lancer sesuai harapan bersama.

Setelah dua kali tampil berturut-turut, di tahun 2019 saya memutuskan untuk tidak tampil, tidak nabuh. Sebetulnya Pak Natsir meminta Kroncongan Agawe Santosa untuk ikut tampil di tahun ini.  Saya merasa ndak enak saja, tampil terus. Lantas saya mengusulkan kepada Pak Natsir agar PKK membentuk sebuah kelompok yang dinamakan Orkes Pasar Keroncong, sebagai pengganti Kroncongan Agawe Santosa. Orkes Pasar Keroncong saya maksudkan sebagai “branding” untuk event Dinas Pariwisata Yogyakarta yang diselenggarakan tahunan ini. OPK akan tampil tahunan khusus untuk mengiringi penyanyi-penyanyi yang diundang tampil di PKK.

Ide ini disetujui oleh Pak Natsir.

“Lalu siapa ya Mas Erie bintang tamu yang diusulkan untuk tampil tahun ini?” tanya Pak Natsir.

“Brian vokalis Jikustik pak, saya rasa cocok.” usul saya sembari memberi beberapa alasan.

Usul tersebut juga langsung diterima oleh Pak Natsir.

Maka saya mulai “membujuk” Mas Brian, juga melalui Manajernya, Mas Jatie, agar Mas Brian mau bernyanyi di PKK tahun ini. Dan Puji Tuhan lagi, Mas Brian belum ada jadwal manggung di 19 Oktober dan menyanggupi tawaran ini. Kami kemudian mengatur pertemuan demi pertemuan, hingga menyelenggarakan sekali latihan di 18 Oktober.

Saya membentuk tim Orkes Pasar Keroncong dalam formasi yang saya putuskan dalam 6 instrumen. Kibor (Eko), Biola (Pandu), Cak (Revi), Cuk (Theo), Selo (Novti), Bass (Bagas). Terima kasih juga kepada Mas Wawan yang turut merekomendasikan beberapa nama musisi. Pilihan formasi yang saya tentukan ini bagi saya simpel tapi menarik, juga mengakomodasi kebutuhan corak lagu-lagu yang akan dinyanyikan oleh Mas Brian. Terutama keputusan untuk menyertakan kibor.

Tiba juga waktu pentas. Kami tampil untuk menutup penampilan di Panggung Kajengan. Total ada 3 panggung di PKK. Mas Brian tampil sangat interaktif. Suaranya, bagi saya, jernih dan pas. Mas Brian juga merupakan pribadi yang baik dan mau belajar, mau lembur latihan dan memberi banyak masukan untuk tim. Video amatir penampilannya bisa disaksikan di sini, sebelum dirilis video resmi dari panitia.

Acara keseluruhan juga berlangsung sukses. Beberapa hari kemudian saya diberi hadiah oleh Pak Natsir sebuah amplop apresiasi (hehe), ditambah bonus traktir makan dan 5 buah kaos Pasar Keroncong. Senang bukan main pengalaman ini. Dan bahagia bisa berkontribusi lebih intim di PKK 2019 ini.

Foto: Erie.

Diskusi Musik dan Yang Serba Milenial Bersama Gus Fuad Plered

“Zaman sekarang parameter musik adalah HP, seluler, bukan speaker atau panggung,” begitulah keyakinan Gus Fuad, atau KH Muhammad Fuad Riyadi, pemimpin Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah, Bantul, ini.  Selain Kiai, Gus Fuad juga pengarang lagu, pelukis, dan pemikir.

Aku cuma mengangguk-angguk. Tapi benar juga. Setiap orang di zaman sekarang hampir semua memegang HP, terlebih anak muda. Jika mereka tidak sedang memegang  earphone, maka memutar musik langsung dari speaker HP adalah andalan tiap orang. Entah itu untuk YouTube, Instagram, FB, dan lain-lain.

Gus Fuad meyakinkan kembali: “Kalau mau preview hasil rekaman musik yang sudah mixing—untuk melihat ukuran apakah itu kompatibel untuk khalayak—ya jangan pakai speaker atau headphone, pakai lawaran saja, speaker HP. Nanti bisa terdeteksi pas atau nggak-nya.” Kurang lebih begitu.

Lagi-lagi aku cuma “ya ya ya.” Ada benarnya juga.

Memang fakta ini, atau setidaknya pandangan Gus Fuad, adalah bentuk opini atas pergeseran media dengar di dunia musik yang sedang tidak bisa kita hindari. Namun, bagi audiophile (pendengar serius), mendengar musik lewat HP lawaran tanpa earphone adalah masalah besar.  Opini Gus Fuad ini jelas beda konteks. Beliau sedang berusaha menganalisis “persentuhan dan koneksi emosional” milenial dengan musik, lewat cara yang paling dekat dan praktis dengan mereka.

Secara teknis, memang suara yang keluar dari speaker HP hanya berada di range hi-frekuensi saja. Tapi masuk akal juga analisis Gus Fuad melihat fakta tentang ukuran “kecepatan dan ke-ada-an” yang menjadi sangat niscaya di zaman sekarang.

Pada kesempatan lain, sahabatku Budi Pasadena, sound engineer dari Solo, beberapa waktu lalu menelponku satu jam. Meminta opini mengenai pergeseran-pergeseran di dunia musik hingga hari ini, sejak 1990an, di mana kami sama-sama mulai “eksis.”

“Banyak!” kataku. “Zaman sekarang yang penting kan cepat dan ada, kualitas nanti dulu. Kalau dulu ukurannya kualitas dan keabadian,” aku menegaskan opini ini.

Jika kita membahas “musik dan kualitasnya”, itu jadi serba relatif saat ini. Ambil contoh dulu musisi rekaman di studio, dimana semua sistemnya analog, maka mereka harus bisa bermain sebagus mungkin, latihan semaksimal mungkin. Kalau keliru mengulang dan repot, mahal biayanya. Sekarang bisa ditambal sulam.

Aku juga menanyakan fakta-fakta kekinian ini kepada Mas Dory Soekamti, owner Euforia Publisher dan gitaris Endank Soekamti, pada suatu kesempatan lain. Aku tanya kepada Mas Dory: “Mas, apa sebetulnya persaingan di dunia industri musik zaman sekarang?” Kutambahkan dikit: “Yang jelek saja disukai, yang bagus juga belum tentu banyak pendengar, kan semua serba blur?”

Mas Dory menanggapi dengan menyatakan: “Betul. Memang sekarang pemainnya banyak sekali, dan menurut saya yang penting saat ini adalah menciptakan karakter dan konsistensi.”

“Apakah dulu karakter tidak penting?”, tanyaku lagi.  

“Sama pentingnya,” lanjut Mas Dory. “Tapi di zaman sekarang, karena itu tadi, adanya banyak pemain, dan itu siapa saja, tidak hanya musisi, tapi juga awam, pekerja pabrik, dll, maka menentukan karakter yang sangat spesifik dan menonjol harus menjadi senjata utama. Dan yang paling penting memang konsisten,” jelasnya lagi.

Memang ada pertempuran dan pertautan yang keras dan dialektis antara elemen estetika musik dan media dengar di zaman milenial ini.

Gus Fuad juga punya opini tambahan, “Bahwa kesenian itu memang harus viral! Viral dalam pengertian bukan sekadar tenar-tenaran. Artinya harus bisa diapresiasi masyarakat luas. Karya seni itu bagi saya ibarat anak-anak kita, dimana kita mengemban tanggung-jawab untuk terus membesarkannya.”   

Soal media dengar HP dan distribusinya pada pendengar milenial ini, untuk tujuan meluaskan pesan-pesan kepada khalayak, memang bisa menjadi metode tersendiri sebagai bagian dari strategi publikasi musik yang praktis.

Di sisi lain akan ada “masalah” tersendiri bagi sound engineer. Karena rata-rata sound engineer melakukan preview di speaker atau monitor headphone. Itu pun ada berbagai kualitas tipe yang berbeda di speksifikasinya, dan memang tidak ada standar yang paling valid untuk mengukur “yang paling standar” dalam dunia industri musik.

Kompleksitas musik (aransemen, instrumentasi), menjadi semacam jembatan untuk mendiagnosa dan menanggapi opini Gus Fuad ini. Tapi bagaimana mungkin itu terjadi untuk musik-musik yang memang perlu range yang luas di aspek sebaran frekuensi-frekuensinya?

Ya, semua memang dekat dengan HP, saban hari, diajak tidur, diajak ngising, diajak bantu cari peta, diajak mendeteksi suhu badan, dan seterusnya.  Opini Gus Fuad sangat menarik untuk diteruskan menjadi diskusi-diskusi lebih detail, terutama menyangkut hal-hal teknis dan menciptakan “daya pikat instan” kepada pendengar milenial, tentu saja tanpa meninggalkan bobotnya.

Geografi Ekonomi Musisi

Apabila musisi disebut sebagai profesi, ia akan menanggung beban simbolik dan status yang menuntut adanya sinergi antara kualitas kerja dan hasil. Wajar jika ada yang menuntut kompensasi tertentu untuk sekali tampil, atau ketika ada kontrak endorsment dalam jangka waktu tertentu. Besaran-nya akan berbeda-beda pada setiap talentanya, termasuk pada posisi geografis dimana pekerjaan itu dilakukan, serta untuk kepentingan “apa” dan “siapa” pekerjaan itu.

Pada lanskap mikro-ekonomi berbasis spiritual, manusia adalah “tubuh tanpa kabel” (the wireless body) yang dibiarkan sekaligus dikelola Tuhan dalam menanggung nasibnya sendiri. Sedangkan pada lanskap makro-ekonomi berbasis sistem politik, manusia—secara sengaja atau tidak—diatur hegemoni maupun norma sosial yang mau tak mau menyeretnya dalam tren dan keseragaman: maka muncul standar tertentu atas hasil kerja profesi yang bisa mutlak atau fleksibel tergantung kesepakatan.

Dari konsep berpikir pada paragraf kedua di atas kita akan selalu berada pada dua kutub pergumulan bercampur tiga irisan orientasi antara: (1) Merencanakan kepentingan “diri sendiri” berdasarkan hak “diri sendiri”, dan (2) Kepercayaan atas sebuah rejeki berlandasan keimanan masing-masing—disambung dengan tiga orientasi, yaitu: (1) Pengulangan yang membosankan yang penting hidup; (2) Perubahan nasib generasi; (3) Buah Surgawi. Masing-masing insan juga akan berbeda, tergantung pemahamannya.

Kita bisa langsung kaya jika mengunjungi suatu daerah tertentu dimana batas antara idealisme dan keniagaan begitu jauh. Berbeda kasusnya pula di sebuah tempat dimana orang tidak mau menganut uang, kecuali lemparan pertanyaan mereka atas sejauh apa dedikasi kita demi membangun nasib bangsa yang sangat membutuhkan wawasan sebagai hak yang sebetulnya ditanggung Negara.

Tidak bisa dipungkiri, banyak yang masih kebingungan tentang konsep apa-saja dari suatu pekerjaan yang melibatkan musik sebagai mesiunya. Yang umumnya dipahami adalah “keranjang-keranjang” tertentu yang mengikat gerak tubuh dan kemudian berakibat bagi ketidak-luwesan orientasi: “Are you jazzer, are you krontjongers, are you raper, etc.”—tetapi mengabaikan bahwa di sebalik kata musik sebagai obyek dan musisi sebagai subyeknya, ada sikap yang harus benar-benar terlatih. Maka pada tingkatan drajatnya, akan muncul istilah musicianship, yaitu hubungan mesra antara ketrampilan, pengetahuan, dan sensitivitas artistik—sebuah perjuangan menggenapkan cipta-rasa-dan karsa.

Komponis Paul Hindemith sejak tahun 1946, dari buku karangannya Elementary Training For Musicians sudah mengingatkan para musisi untuk terampil secara menyeluruh dan seimbang dalam teori dan prakteknya. Kemampuan komprehensif tersebut menyangkut kesabaran atas detail apa yang tengah dipelajari, baik materi-materi musikal maupun korelasi prosedural beserta tata-cara standar atas perwujudan kerja para musisi. Berdasarkan fatwanya pada buku tersebut sebetulnya tersirat makna bahwa tidak ada demarkasi antara musisi otodidak dan musisi berpendidikan formal! Semua musisi menanggung beban kesetaraan antara kemampuan praktis, wawasan, dan pengalamannya.

Tidak ada yang benar-benar berhasil, dan tidak ada pula yang benar-benar gagal. Semua dalam sejarah telah dituliskan berbagai garis nasib yang masing-masing telah menemui bentuknya sendiri-sendiri.

Antonin Dvorak jenius dalam melodi, semua kritikus mengakui, meskipun ia diyakini mengekor Brahms atau Smentana. Betapapun keseluruhan karya Simfoni Beethoven mampu menggambarkan secara jelas gradasi nasib awal karir hingga puncaknya, estetika harmoni dan intensitas tensinya tidak segarang Shostakovich yang hidup dan bertahan dalam goncangan mirisnya Perang Dunia II.

Betapa sulit pula dibayangkan keahlian seorang Carl Stumpff yang pakar dalam bidang musik, fisika, dan hukum. Melalui penemuannya yang terkenal:Tonspsychology (tone and psychology) Stumpff meneliti bagaimana kaitan antara fenomena musikal dan fungsi mental dari bekerjanya syaraf-syaraf dan jiwa dalam merespon musik sebagai salah-satu rekomendasi dasar acuan ilmu-akustik modern. Bukti konkritnya adalah tentag pertanyaan kenapa kita tidak bisa tenang bekerja dalam lingkungan yang noise dan tidak nyaman bagi telinga?

Implikasi Nyata

Implikasi nyata atau dampak serius dari konsep geografi ekonomi dalam pemahaman makro-dan-mikro ini adalah sekarang kita semakin menyaksikan fakta tentang sulitnya menyatakan kemerdekaan ber-ekspresi dan sulitnya berpikir sederhana akibat rayuan informasi sesaat dan simultan yang sangat jarang mengandung kedalaman di era internet ini. Struktur kerja otak yang kompleks adalah indikasi ketidakcerdasan manusia, sama seperti ruwetnya kemacetan lalu-lintas.

Setiap orang yang saya temui terlalu sulit percaya pada kemampuannya sendiri. Betapapun mereka adalah musisi, mereka tidak yakin akan masa-depannya yang mandiri dan kemudian memilih melamar menjadi pengikut Negara atau ide orang lain tanpa didasari panggilan yang tumbuh dari hati terdalam. Ironisnya, keputusan tersebut hanya karena alasan ketidakstabilan grafik ekonomi mikro pada tataran kasat-matanya (tanpa berkaca pada kualitas keahlian yang dimiliki). Pola-pola jalan pintas seperti ini secara tidak langsung menggambarkan hipotesa bahwa ketekunan dan kesabaran ada batas waktunya, padahal tidak. Dan banyak contoh lain yang serupa.

Sebagai curhat selingan, saya ingin berbagi cerita bahwa saya memiliki sebuah teori yang sudah saya buktikan dengan cara mengalaminya secara langsung. Teori ini saya istilahkan dalam bahasa Inggris, yaitu “Five to Five”. Five yang pertama adalah lima tahun pertama, dan five yang kedua adalah lima tahun berikutnya. Lima tahun pertama adalah penggemblengan atas wawasan dan konsep berpikir; dan lima tahun berikutnya adalah mengelola kepercayaan publik atas kemampuan yang saya miliki. Buah rejekinya ada di lima tahun kedua.

Jadi, sedikitnya saya memerlukan waktu sepuluh tahun untuk merasa semakin menguji panggilan dan meyakinkan kata hati. Pada saat usia saya memasuki kepala tiga saya memutuskan untuk tidak mau mencari-cari lagi apa yang ingin saya capai, dan kemudian saya tidak percaya dengan apa yang sering dibilang orang-orang dengan istilah “profesi”, meskipun pada momen tertentu saya harus menyebut status profesi A atau B hanya lantaran kebutuhan ber-interaksi dengan orang lain, karena tidak setiap orang bisa menerima konsep tersebut.

Pengalaman demi pengelaman tentu saja bukan merupakan final, tetapi setidaknya, berdasarkan parameter kedewasaan secara psikologis, saya diuntungkan oleh momen-momen yang disengaja maupun tidak atas hidup dan karir saya. Beberapa sahabat menolong dan memberi jalan terang. Wangsit Illahiah memayungi segala keputusan demi keputusan yang diambil, datangnya kadang menjelang subuh di saat semua tetangga lelap tertidur. Maka saat ini saya merasa sebagai pribadi yang merdeka untuk menentukan apa yang saya mau tanpa ditekan siapapun. Sebagai musisi, penulis, bakul, instruktur, konsultan, dan lain-lain tidak saya anggap sebagai profesi, melainkan hanya implikasi dari laku dan kepercayaan.

Pada posisi mikro kita akan senantiasa bertarung dengan keberanian memutuskan sesuatu yang memang kita yakini membawa hikmah yang tepat, dan pada posisi makro kita diatur norma dan sistem dalam masyarakat.

Pemahaman yang runtut atas pengertian bahasa sebagai beban harafiah, terminologis, etimologis, epistemologis, ontologis, atau tentang hakikat-hakikatnya sangatlah penting untuk menakar kedalaman dan keseimbangan atas gagasan ini.

InsyaAllah kita dimudahkan. Salam hangat.

Gambar: Colour Study – Squares And Concentric by Wassily Kandinsky http://www.easyart.com/scripts/zoom/zoom.pl?pid=6715

Bersama Ibu Suciwati dan Pak Nanang Garuda

Pengalaman dan berkah luar biasa memandu diskusi bersama dua beliau ini: Ibu Suciwati Munir dan Bapak Nanang Garuda, 11 November 2017, dua tahunan yang lalu. Saya mendapatkan pelajaran berharga tentang konsistensi sebuah perjuangan, ketulusan, dan keseriusan. Pak Nanang adalah seorang seniman, dosen, dan kolektor simbol garuda. Beliau sangat dalam dan teguh memaknai Pancasila, menyebarkan virus positif kepada siapa saja yang ditemuinya. Beliau juga paham sejarah lambang Negara kita itu. Dan Ibu Suciwati, dengan segala ketegarannya pasca dibunuhnya Munir, suaminya, hingga kini terus berjuang melawan ketidakadilan. Salut dan hormat.

Senangnya Jumpa Bu Nana

Ibu Harmunah, atau hangat disapa Bu Nana, adalah pribadi tangguh luar biasa. Setelah saya selidiki, usianya ternyata “18”, bukan 81 seperti yang diungkapkannya. Saya semakin yakin, bahwa umur di mata beliau itu fiktif, tapi kesehatan dan produktivitas itu nyata!

“Ada kuncinya, Bu?”
“Ada. Itu kuncinya saya taruh di laci.”

Ha.ha.ha.

Di ruang tamu yang simpel, dengan sebuah piano Jepang di sudut, saya dijamu cerita-cerita, tidak hanya seputar romantisme masa lalu, tapi juga soal kompetisi vokal-vokal kekinian dari dan di televisi Indonesia, yang menurut beliau: Tidak Menarik Ditonton!

“Lha, kenapa, Bu?”
“Ndak ada yang bener!” jawabnya dengan lantang.

Bagi sosok yang pernah meraih Juara 2 Bintang Radio Nasional Kategori Seriosa pada 1975 di Jakarta ini, usaha manusia untuk menyanyi dan terus memperbaiki teknik-tekniknya, adalah perjuangan yang wajib disangga sepanjang usia.

“Penyanyi zaman sekarang, kalau dia, maaf ya, sudah merasa hebat, payu, tenar, lantas malas belajar teknik-teknik, pinginnya instan,” tegas Bu Nana yang juga Ibunda dari Adit kibordis “Jikustik” ini.

Hebatnya, kritik itu langsung diikutinya dengan contoh-contoh konkrit, dengan menyanyi, memeragakan, menunjukkan referensi, dan seterusnya. Nukilan contoh-contoh beliau nyanyi itu menggetarkan.

Bu Nana, yang juga penulis buku Musik Keroncong (1987) yang diterbitkan Pusat Musik Liturgi ini juga membeberkan resep-resep “Awet Tua.”

Hu’um.
Awet Muda kan sudah umum, yang ini Awet Tua.

“Gimana, itu, Bu? Saya kok penasaran.”
“Ya terus berjuang saja, pasrah, ikhlas.”

Dalam jarak 1,5 meter kami bercakap, syaraf-syaraf di telinga beliau masih fasih menangkap. Karunia Illahi tersurat jelas dalam lika-liku lekuk garis pembentuk senyumnya. Bu Nana memang sangat mengerti bagaimana menerjemahkan tugas hidup (harus selalu bahagia), sehingga saya pun sampai ngeyel tidak setuju kalau umurnya baru 81.

(Terimakasih, Ibu Ike Kusumawati).

Solo, Kuliner, dan Musik (Bagian 1)

Solo

Begitu banyak yang bisa kudongengkan tentang Solo, kota kelahiranku ini. Setiap jengkal aspal dan bangunan-bangunannya adalah kenangan: pahit dan manis, seperti umumnya kenangan manusia. Solo adalah ketika aku harus terus mengingat perjuangan bapak dan ibu, menyekolahkan aku hingga tamat SMA.

Aku ingat sekali, Ibu Juwita, wali kelasku di SMK N 8 waktu itu, duduk di depanku pada saat acara wisuda. Aku juga ditemani ibu yang duduk di sebelahku. Gerak-gerik Bu Juwita terlihat aneh, sering melirik kepadaku sambil tersenyum kecil. Aku tidak tahu apa maksudnya. Sesaat kemudian Bu Juwita bilang:

“Erie, siap-siap, ya!”

“Ada apa, Bu?” tanyaku.

“Ya, siap-siap saja pokoknya.”

“Opo, sih?” gumamku makin heran.

Jujur aku tak tahu apa-apa. Beberapa saat kemudian ada pengumuman dari panggung, pengumuman tentang penghargaan yang akan diberikan untuk beberapa lulusan berprestasi dari semua jurusan. Dan ternyata …. namaku ikut dipanggil untuk maju ke depan, diumumkan sebagai Tamatan Terbaik! Seketika Ibu Juwita ikut berdiri dan kemudian mendatangiku memberi ucapan selamat. “Sana kamu maju, naik dari sebelah kiri panggung,” pintanya.

Tepuk tangan riuh ratusan orang di gedung mengiringi langkah kaki ini menuju panggung. Ibu menciumku. Momen itu membuat aku terharu, bahkan sampai hari ini. Bukan karena aku meraih penghargaan, tetapi karena aku berhasil melewati segala kesulitan belajar waktu itu. Sebagai angkatan ke-3 di Jurusan Musik Diatonis, kami semua adalah “korban uji coba!” Waktu itu benar-benar minim guru, minim sarana, sistem pendidikan pun masih belum jelas. Kulihat sangat berbeda dengan zaman sekarang, lebih banyak pintu untuk berkembang.

Semua guruku mengenalku sebagai siswa yang “mbeling, egois, kemaki, dan semaunya sendiri.” Saksi utamanya adalah Bu Rini dan Pak Bertus. Tanyalah ke beliau. Di sisi lain semua guru juga memahami bahwa aku memiliki niat yang sangat sungguh-sungguh dan serius untuk menekuni bidang musik. Aku berprestasi di seluruh pelajaran musik sejak kelas 1. Dan ini yang penting: tidak pernah membolos (untuk pelajaran musik), kecuali yang lain-lain. Hehe. Aku juga senang diperhatikan semua guru, terutama perhatian Pak Mursid Hananto dan alm. Pak WS Nardi. Aku dibimbing oleh mereka dengan segala dedikasi.

Begitulah secuil momentum yang tidak hanya membikin haru bagi perjalanan awalku bermusik, tapi juga menginspirasi dan menjadikan aku menjadi pribadi tangguh sampai hari ini.

Sisi Lain

Sebelum tiba di fase SMA itu, aku memiliki rentetan perjalanan panjang sejak aku kanak-kanak, terutama yang berkaitan dengan musik. Sebetulnya aku tidak tumbuh dari keluarga pemusik. Bapak ibu hanya gemar mendengarkan lagu-lagu.

Namun ada momen-momen yang selalu berkesan semasa aku kanak-kanak. Aku ingat sekali ketika umurku masih 5 tahun, tahun 1989. Setiap kali diajak bapak-ibu jalan-jalan ke Sriwedari, aku selalu tertarik dengan satu benda: ukulele mainan. Aku (selalu) memintanya kepada bapak. Selalu? Maksudnya berkali-kali beli? Betul. Karena setiap kali dibelikan, selang beberapa hari ukulele itu rusak, kumainkan sambil kupukul-pukul ke lantai. Lalu aku merengek meminta dibelikan lagi. Dan aku masih ingat sekali berapa harga ukulele itu, 2500 rupiah.

Momen lain adalah ketika ke gereja, aku selalu bernyanyi lagu Bapa Kami paling keras, sampai-sampai ummat di kanan-kiriku menengok kepadaku, dan ibu berbisik: “boleh nyanyi, tapi jangan keras-keras.”

Ketika kelas 3 SD aku dibelikan bapak keyboard kecil semi-mainan, merknya Casio. Waktu itu harganya sudah relatif mahal, Rp. 144.000,-. Sudah cukup untukku bermain-main melodi lagu-lagu kesukaan. Bapak yang mengajari. Dan di kelas 3 SD itu pula aku tampil di depan kelas, solo keyboard.

Gamelan juga menjadi bagian sejarah indah masa kecilku. Khusus ini, momennya hanya terjadi ketika libur lebaran. Di rumah simbahku di daerah Klegung, Gunung Kidul, tersimpan satu set gamelan yang biasa digunakan masyarakat untuk klenengan, hingga mengiringi pergelaran wayang. Setiap kali ke sana, kami, cucu-cucu simbah, selalu bikin berisik. Nabuh gamelan sesuka hati, sekencang-kencangnya. Momen ini begitu membekas. Tapi entah kenapa, waktu itu aku kurang tertarik dengan gamelan. Hanya suka bikin gaduh saja. Hehe.

Ketika naik ke kelas 5, ada momen yang lebih berkesan ketimbang sebelum-sebelumnya. Momen itu bisa dibilang terus kupertahankan sampai detik ini. Gitaran! Begitulah singkatnya. Yups. Naik kelas dan libur panjang adalah momen yang paling dinanti oleh siswa-siswi sekolah. Aku beli gitar untuk pertama kali. Tahun 1993.

Aku bermain gitar karena terinspirasi oleh dua kakakku, Mas Ayik, kakaku mbarep, dan Mas Nanang, adiknya. Mas Ayik terampil memainkan gitar sejak SMP. Ia gemar lagu-lagu Iwan Fals dan Sawung Jabo. Lalu kubelilah gitar dengan memesan di pengrajin dekat rumah, di Sekar Pace. Namanya Mas Hendra. Gitar yang kupesan ini harganya Rp. 25.000,-. Aku lupa uang dari mana untuk membeli gitar itu. Yang kuingat aku boleh memesan model sesuai keinginan. Aku pun custom ukuran, lebih kecil dari yang standard. Cat dan tampilannya juga agak nyentrik. Dan warnanya, kalau tidak salah ingat, ungu gelap. Aku harus sabar menunggu sekitar sebulan sampai gitarnya jadi. Baiklah. Akhirnya waktu yang kutunggu datang juga. Aku senang sekali dengan gitar baruku ini. Dan mulailah aku belajar pada kakakku.

Lagu pertama yang kupelajari adalah lagu “Yakinlah” karangan Iwan Fals. Nada dasarnya A minor. Kakakku dengan sabar mengajariku cara memetikknya. Sampai aku benar-benar bisa. Akibat dari seringnya latihan pencat-pencet senar kawat, ujung jari-jariku jadi memar dan merah-merah semua, bahkan sampai membekas seperti tersilet. Aku tidak pantang menyerah, belajar lagi lagu-lagu yang lain (bersambung bagian 2).     

Musik Keroncong di Hati dan Pikiran Saya

Alangkah merdunya musik satu ini. Keroncong, begitulah biasa disebut. Kadang-kadang ditulis mengikuti pelafalannya: kroncong.

Meskipun tampaknya saya bukan pemain keroncong yang ahli dan mumpuni, tapi saya mencintai keroncong dan memainkannya tiap hari. Ada ikatan batin dan emosional dengan musik ini sejak SD. Lulus SD sunatan, bapak nanggap keroncong, masih ingat nama orkesnya: O.K. Irama ‘Mas. Lalu SMP-SMA saya pernah ngamen di jalanan, nyanyi sambil main kencrung/ukulele/kroncong itu. Berlanjut sampai sekarang, punya pengalaman panggung, rekaman, mikir, nulis, ceramah, dan lain2.

Hmm.. kalau disuruh milih, sebetulnya lebih enak main saja, nabuh, begitu. Tapi kalau kembali ingat curhatan dari teman-teman, bahwa di dunia musik keroncong itu krisis pemikir, atau seniman yang juga berpikir, hati ini rasanya gemes.

Saya membaca artikel-artikel mengenai Kusbini, sosok yang dikenal sebagai “Buaya Keroncong” itu. Lalu saya berpikir, sangat hebat beliau ini. Pada masanya sangat dikagumi sebagai seniman, dan dibutuhkan sebagai pemikir. Contoh lain adalah sosok Budiman B.J. yang menulis buku “Mengenal Keroncong dari Dekat” (1979). Keduanya bagi saya figur, yang produktif berkarya, sekaligus mau mendedikasikan diri di dunia pemikiran mengenai perkembangan/kemajuan musik keroncong. Mereka berdua memulai pergulatan dua kutub itu sejak usia muda, ya kurang lebih seperti usia saya saat ini, 30an tahun, bahkan mungkin sebelumnya. Saya pun mulai hobi mengoleksi buku-buku tentang keroncong, dan juga artikel-artikel atau laporan penelitian.

Maka bagi pikiran saya saat ini, musik keroncong tak cukup hanya dilestarikan (artinya dipanggungkan saja). Butuh kontribusi lain di wilayah pemikirannya. Pertanyaannya? Mengapa repot-repot memikirkan musik keroncong? “Kurang kerjaan,” kata teman saya. Ya, ini mungkin pilihan dan kesukaan saja. Pertama, bahwa saya sangat yakin, musik keroncong terus ada sampai saat ini bukan hanya karena peran senimannya saja, melainkan juga sosok-sosok lain, yang ikut berpikir, menulis, meneliti, merilis pirangan hitam, kaset-kaset, penyelenggara lomba bintang radio, bahkan pengrajin alat musik keroncong juga tak boleh luput dari perhatian. Tanpa mereka semua mustahil musik keroncong tetap ada. Saya masih percaya itu semua adalah ekosistem yang terintegrasi.

Alasan kedua adalah “beban saya” sebagai sarjana musik. Selain merasa “terjerumus,” saya juga “menjerumuskan” diri dan menganggap bahwa beban sarjana musik itu, yang notabene dianggap masyarakat adalah “orang berwawasan”, adalah tidak cukup hanya menghibur dan cari duit semata. Saya merasa perlu berpikir, karena saya ada niat di wilayah ini.

Lalu yang ketiga adalah soal masa depan musik ini, yang memang harus dipikirkan. Saya sering ngalamun, merasa tidak rela kalau musik keroncong punah. Lalu saya berpikir, apa yang bisa saya berikan untuk perkembangan musik keroncong di masa depan? Sejujurnya mimpi saya banyak sekali: membuat buku modul dan video-video yang berisi tutorial lengkap dan kemudian bisa dipakai untuk memberi workshop-workshop di seluruh Indonesia.

Oya, beberapa bulan lalu saya juga berdiskusi empat mata dengan Bp. Singgih Sanjaya di Wisma Seni Taman Budaya Surakarta, hingga jam 3 dini hari. Beliau menyampaikan ide kepengen ada “Museum Keroncong” di Solo. Ide yang sangat bagus. Sampai rumah saya memikirkan juga, apa yang harus ada di sana, bagaimana mewujudkan ide itu menjadi nyata, bagaimana pengelolaannya, dan seterusnya. Tentu saja butuh “tim pemikir” yang cukup dan penyokong dana yang besar untuk bisa mewujudkannya. Salah satu perhatian besar saya adalah pada literasi musik, dan sangat bahagia sekali belum lama ini saya bisa menyunting dan menerbitkan buku “Keroncong Gadhon” karya sahabat alm. Raprika Bangkit, turut berkontribusi melengkapi khazanah literatur keroncong. Mimpi lainnya? Membuat Ensiklopedi Musik Keroncong. Masih angan-angan, suatu ketika saya yakin ada jalan. Biaya riset dan produksinya sudah saya itung-itung, dan itu besar sekali. Belum mampu untuk saat ini.

Namun beruntung ada teman-teman penyelenggara festival-festival keroncong di banyak kota di Indonesia yang terus semangat meluaskan segmentasi musik keroncong melalui panggung-panggung populer berskala (massa) yang besar, misalnya Solo Keroncong Festival, Symphony Keroncong Moeda, Keroncong Plesiran, Pasar Keroncong Kotagede, dan lain-lain. Ada juga beberapa “forum serius” yang diselenggarakan demi mewadahi diskusi mengenai musik keroncong. Ibnu Amar, sahabat saya, adalah salah satu penggeraknya, juga Mas Parto yang dedikasinya luar biasa, Pak Wartono, Mas Danis, Pak Sapto di Solo, dan lain-lain. Ada pula grup WhatsApp Jagat Keroncong Nusantara (JKN) yang dipimpin Gus Ugeng, dengan 200an anggota. Grup WA “Edan Keroncong” di Solo juga berisi ratusan seniman yang sangat gayeng, happy dan guyub untuk menyatukan pikiran mengembangkan musik keroncong dengan cara mereka.

Menurut pikiran saya, dunia musik keroncong memang harus seimbang di dua sisi: kesenian dan pemikirannya. Dan saya masih sangat optimis bisa berkontribusi sebagai seniman maupun pemikir. Pelan-pelan, karena berpikir memang tak semudah memainkan crung-crung-crung.

Cover-Coveran

Hakikat sebuah musik yang diaransemen—selain membuat lagu menjadi (nampak) lebih indah—juga memperpanjang usianya. Inilah yang membuat musik bisa menjadi “abadi”, turun-temurun dari turunan ke turunan.

Sebetulnya, kalau kita membahas urusan cover-mencover ini, sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam. Karya Mussorgsky berjudul Pictures at an Exhibition(1874) yang awalnya dikerjakan untuk piano, kemudian “dicover” menjadi orkestra dan banyak lagi format lainnya, seperti chamber music, bahkan untuk instrumen solo yang lain. Begitupun karya-karya musik Spanyol yang semula dikerjakan untuk piano, kemudian banyak dicover untuk instrumen gitar yang rata-rata dikerjakan maestro tersohor Andres Segovia.  

Dalam bahasa musik klasik, cover ini disebut re-arrangement. Tak tahu, istilah cover yang belakangan sangat ngetren datang dari mana, mengingat arti istilah cover hanyalah “sampul”. Sejauh penelusuran, belum ada penjelasan yang gamblang mengenai istilah tersebut. Umumnya ulasan-ulasan hanya berisi tentang pra-syarat untuk mengover sebuah lagu, atau tips-triknya.

Maka, saya iseng-iseng memberi kepanjangan untuk istilah Cover: COpy-paste VERsion, atau versi salin-tempel untuk memberikan asosiasi bahwa itu adalah kegiatan “pengulangan kembali lagu orang lain dengan inti yang sama namun terdapat perbedaan pada perwajahannya”. Nah, mungkin dari situ muncul istilah cover (sampul/perwajahan).

Entahlah, yang jelas, dalam tulisan ini akan disinggung sekelumit mengenai (khususnya) aspek kreativitas dari sebuah produk musik masa kini yang kian digemari siapa saja ini.

Ada kasus antara sekelompok perusahaan penerbit musik di Amerika Serikat (salah satunya adalah Warner/Chappell Music milik Warner Music Group) yang diwakili oleh the National Music Publishers’ Association, menggugat Fullscreen, salah satu perusahaan pemasok video terbesar ke YouTube yang berkantor di Los Angeles, di pengadilan distrik di Manhattan, Amerika Serikat.

Alasannya adalah bahwa banyak dari video-video pasokan Fullscreen, terutama versi cover dari lagu-lagu hits dari artis-artis mereka, melanggar hak cipta mereka. Dalam hukum, ini diistilahkan dengan fair use (penggunaan atas karya orang lain secara fair). Meskipun konon, dalam Undang-Undang Hak Cipta No.19 Tahun 2002 hal itu tidak diatur. Di Indonesia kita bisa ambil contoh perseteruan antara Hanin Dhiya dengan Is, juga Via Vallen dan Jerinx. Kita coba sedikit bergeser di artikel ini, tidak membahas kasusnya, melainkan di aspek kreativitasnya.

Pertama-tama adalah tentang aransemen itu sendiri, yang mau tidak mau jadi penanda penting dari aspek kreatif kerja cover-mengcover lagu ini. Video klip adalah kreatifitas kedua. Dan keduanya bisa musnah begitu saja apabila karya cover yang dihasilkan memang jelek. Itu menjadi boomerang sendiri bagi pembuatnya. Kebanyakan orientasi cover-mengover sekarang adalah popularitas, yang ditandai dengan banyaknya jumlah pendengar atau penonton di situs sosial. Namun tak jarang juga yang mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.

Berdasarkan laporan Ni Made Marianda Fridayanti yang di sebuah situs yang ia kelola, www.mademarianda.com, ada sedikitnya 13 video klip cover yang terbaik, bahkan ia mengklaim lebih baik dari versi aslinya. Made Marianda pun menyertakan tayangan semua link YouTubenya untuk bisa ditonton. Daftar ke-13 yang direkomendasikan, baik lagu mancanegara maupun Indonesia, adalah sebagai berikut:

Cobalah menyimak satu-persatu, dan tentu saja, harus pernah mendengar versi aslinya terlebih dulu, supaya kita memiliki gambaran komparasi dan penilaian. Mungkin selera kita subyektif dan tidak begitu saja setuju dengan rekomendasi tersebut. Namun, yang penting dalam hal ini adalah, bisa dipastikan bahwa masing-masing memiliki “karakteristik” tersendiri yang unik.

Karakteristik tersebut bisa dipunyai pada masing-masing talent karena memang mereka berusaha mendalami sebuah lagu secara sungguh-sungguh, sebagai bekal awal aransemen. Yang tampak sekali nyata adalah suasana yang ditampilkan. Meski secara garapan musik tergolong biasa-biasa  saja, namun pengolahan suasana yang ingin ditonjolkan memiliki ciri-khas yang unik. Itulah karakteristik, dimana skill bermusik seringkali tidak terlalu penting tetapi lebih kepada keunikannya. Lagu Chrisye Seperti yang Kau Minta hanya diiringi oleh dua buah gitar, mereka menurunkan tempo, memetik gitar sesuai karakter dari tempo tersebut, dan vokalisnya bernyanyi cukup stabil dengan karakter suara vokal yang cukup menarik pula.

Carissa Ade, dalam cover See you Again, memiliki karakter suara yang agak bindeng tapi justru itu yang menjadi kekuatan, didukung penggarapan video yang serius, membuat video mereka di youtube ditonton tak kurang dari 48juta orang! Jumlah yang sangat fantastis!

Pada zaman sekarang ini yang amatir dan yang profesional bertumpuk-tumpuk, karena video bisa dibuat oleh siapa saja dan di mana saja, bahkan cukup menggunakan ponsel pintar. Banyak studio musik “banting harga” menawarkan jasa produksi video cover. Oya, kalau membahas video klip, contoh lagu Chrisye yang dicover di atas tentu kurang memenuhi standar. Dan lebih cenderung “amatiran”. Namun agaknya dari sisi audio tergarap cukup serius. Nah, ngomong-ngomong soal kualitas, tentu saja kita juga harus fair, karena ini semacam gizi bagi telinga dan pikiran kita. Memilih yang tidak hanya berdasarkan tren di pasar, namun juga mempertimbangkan banyak aspek.

Saya ingat ketika ngeband tahun 1990-an, ada stigma kalau membawakan lagu orang lain dianggap tidak kreatif, bahkan bisa dijauhi. Namun segala pergeseran yang saat ini terjadi juga musti kita sambut. Perlu juga kita saring dengan perspektif yang tajam untuk bisa mendeteksi: mana yang serius dan mana yang hanya main-main dengan musik.

Perjalanan Musikal Melbourne

Perjalanan Musikal Melbourne – 6 Desember 2016 adalah hari yang sangat saya nantikan. Pasalnya, pada hari itu saya akan mengunjungi sebuah kota sentral di Australia yang konon punya banyak cerita menarik: Melbourne!

Ya, meskipun kota ini sudah tidak asing lagi bagi banyak orang, namun cerita perjalanan ini mungkin baru bagi pembaca. Kunjungan ini bukan dalam rangka berwisata atau liburan, melainkan untuk mengikuti sebuah konfrensi musik yang membahas tentang sejarah gitar. Jadi tepatnya, ini adalah perjalanan musikal. Tentu saja, di sela-sela kegiatan serius yang saya ikuti ini, terasa tidak lengkap jika tidak mencuri waktu untuk jalan-jalan. Tepatnya berpetualang musikal sesuai dengan kegemaran saya.

Karena panitia tidak menyediakan dukungan finansial sepeserpun atas kegiatan ini, maka saya wajib berhemat ala backpacker. Alhasil, untuk keberangkatan, saya musti pindah pesawat empat kali, akal-akalan cari yang (paling) murah. Dari Yogyakarta ke Singapura via Jakarta, menunggu di Jakarta sekitar empat jam; dan selanjutnya Singapura ke Melbourne via Kuala Lumpur. Di Singapura saya menunggu sekitar enam jam.Total perjalanan berangkat beserta transit sekitar 24 jam! Terasa cukup melelahkan.

Akhirnya saya tiba di Bandara Tullamarine, Melbourne, pada 7 Desember pukul 21.30 waktu setempat dalam kondisi sangat kurang tidur selama perjalanantujuh jam dari Kuala Lumpur. Sempat melewati tiga kali pemeriksaan petugas imigrasi yang bertanya macam-macam kepada saya (tentang tiket PP, tujuan kedatangan, dimana tinggal, dsb). Tetapi, begitu mereka mengetahui bahwa saya akan menjadi salah-satu pembicara di konfrensi tersebut, mereka akhirnya meloloskan saya. Sangat maklum kalau petugas imigrasi pada rewel karena dalam perjalanan ini saya tidak declare apapun di kartu kedatangan, karena memang tidak membawa apa-apa yang menurut mereka wajib dilaporkan.

Di pintu keluar saya sudah dijemput oleh seorang kawanyang baru saja lulus Master dari kampusRMIT, Melbourne.Namanya Mbak Titis. Atas jasa baiknya saya diperbolehkan menginap dua malam di Elsternwick, di sebuah rumah nyaman belakang stasiun yang ia sewa selama studi di Melbourne. Perjalananan dari Bandara ke Elsternwick memakan waktu sekitar 45 menit dengan menggunakan Sky Bus ke Southern Cross Station,disambung dengan Grab Car, karena kereta sudah habis. Tiket Sky Bus untuk sekali jalan harganya 19 dollar Australia, atau sekitar 190ribu rupiah. Malam pertama saya lewati tanpa cerita apapun tentang Melbourne, kecuali merasakan hawa cukup dingin sekitar 12-14 derajat.

Menikmati jazz

Di sela-sela ngebut menyelesaikan slide presentasi, saya ditawari oleh mbak Titis untuk menikmati musik jazz di Uptown Jazz Cafe di Brunswick Street, Fitzroy. Di kawasan Fitzroy ini terkenal sebagai pusat gaul anak-anak muda yang mengikuti bermacam tren.Yang tampil malam itu adalah sebuah komunitas jazz anak muda dari Melbourne. Mereka membawakan karya-karya standar dan juga komposisi karangan mereka sendiri. Selain dengan mba Titis, saya juga ditemani oleh sahabat-sahabatnyayang berasal dari Jepang, Iran, Korea, dan Inggris. Jazz dan segelas wine malam itu adalah paduan yang begitu hangat dan akrab. Perjalanan dari Elsternwick ke Fitsroy ini ditempuh dengan menggunakan kereta yang transit di Flinders Street Station. Dari Flinders Street Station ke Fitsroy bisa ditempuh dengan berbagai moda transportasi,antara laintram, kereta yang berjalan bersama kendaraan bermotor di jalan raya.

Sekadar tips, jika ingin jalan-jalan di Australia dengan transportasi umum, kita perlu membeli tiket berupa kartu yang bisa diisi ulang. Konter pembelian tiket terdapat di tiap stasiun dan di area-area tertentu. Kartu itu bisa digunakan untuk naik kereta, tram, maupun bus. Karena transportasi di Australia tergolong tidak murah, juga tidak terlalu mahal, maka usahakan kantong kita cukup. Setidaknya dalam sehari kalau kita wara-wiri bisa menghabiskan sedikitnya 8 sampai 15 dollar. Selain itu, unduhlah aplikasi Public Transport Victoriadi ponsel pintar, maka segala urusan perjalanan menjadi mudah, karena di aplikasi tersebut ada panduan lengkap untuk berbagai tujuan perjalanan. Aplikasi ini harus dijalankan secara online.

Agenda yang saya ikuti di Melbourne akan berlangsung tiga hari penuh dari tanggal 9-11 Desember. Tempat konfrensi tersebut adalah di Melbourne Conservatorium of Music, yang terletak di Royal Parade, Parkville, tak jauh dari Queen Victoria Market yang sangat terkenal seperti Malioboro di Yogyakarta.

Konfrensi yang khusus membahas puncak perkembangan sejarah gitar antara tahun 1870-1945 ini tergolong konfrensi yang memiliki tema sangat spesifik, didukung oleh 41 pembicara dari berbagai negara, antara lain Australia, Inggris, Spanyol, Amerika, dan lain-lain. Saya adalah satu-satunya delegasi dari Indonesia yang berkesempatan berangkat atas inisiatif pribadi,karena paper yang saya ajukan berhasil lolos seleksi dan diperkenankan menyampaikan presentasi sekitar 30 menit.

Setelah dua malam saya menginap di Elsternwick, lalu di malam selanjutnya saya pindah ke sebuah penginapan murah di Jalan Elizabeth, pusat kota. Dari Elsternwick ke Elizabeth menggunakan kereta disambung tram.Saya menyewa sebuah dormitori dengan delapan bed yang sudah terbookingsebelum saya berangkat. Lagi-lagi ini akal-akalan supaya hemat, mengingat Melbourne termasuk kota dengan biaya hidup yang cukup mahal untuk ukuran orang Indonesia.Kalau tidak hati-hati dalam mengatur uang bisa-bisa kita jadi homeless (tuna wisma) untuk selama-lamanya.

Tiga hari yang serius

Tibalah saatnya hari konfrensi yang cukup membuat saya deg-degan, meskipun jadwal presentasi saya masih di hari terakhir dan di sesi terakhir. Dari hostel ke kampus perjalanan cukup ditempuh sekitar 5 menit menggunakan tram. Kalau niat, jalan kaki pun akan nyampai, hanya sekitar 20 menit tanpa belok.

Kampus Melbourne Conservatorium of Music ini sekompleks denganUniversity of Melbourne yang sebagian besar merupakan bangunan menawan warisan Inggris Abad ke-19. Gedung pertunjukan musiknya juga sangat indah dengan organ pipa yang bertengger megah di panggung. Akustiknya juga bagus untuk musik-musik klasik.

Saat itu adalah musim libur bagi mahasiswa konservatori, sehingga tidak ada aktivitas musik apapun seperti latihan atau kegiatan lainnya di sana. Tiga hari dikhususkan untuk penyelenggaraan konfrensi ini. Yang menarik adalah topik yang dibawakan oleh para pembicarasangat bervariasi. Saya sendiri membawakan topik mengenai hubungan antara gitar Portugis, Hawaii, dan Indonesia melalui musik kroncong. Tidak hanya konfrensi saja, di sela-sela waktu ada juga pertunjukan gitar yang menarik dan kunjungan ke museum komponis Percy Grainger. Dan pengalaman ini benar-benar membuat kepala saya penuh.

Pengamen jalanan berkelas

Selesai konfrensi saya menyempatkan jalan-jalan keliling ke beberapa titik untuk menyaksikan sajian musik para pengamen jalanan berkelas, antara lain di Flinders Street Station, Bourke Street, dan sekitaran Queen Victoria Market. Letak ketiganya cukup berdekatan.

Pengamen jalanan di Melbourne tidak seperti di Indonesia. Mereka mendapat ijin resmi dari pemerintah. Mereka tampil profesional di sudut-sudut jalan dengan membawa properti lengkap seperti speakeramplifier, lengkap dengan buku lagu. Bahkan ada banyak pengamen yang sudah menerbitkan rekaman karya-karya mereka ke dalam bentuk CD Audio.

Ada beberapa tips kalau kita ingin jalan-jalan melihat para pengamen itu. Pertama, jika ingin betul-betul jadi penikmat, maka siapkan koin recehan untuk mengapresiasi mereka. Mungkin paling sedikit kita perlu 50 sen atau setengah dollar.Kedua, pengamen jalanan selalu menarik untuk dipotret karena suasana di sekitarnya. Bawalah kamera yang cukup oke untuk mengambil gambar. Ketiga, kita boleh requestlagu yang kita suka, asalkan mereka bisa memainkannya. Kalau kita request sebaiknya berilah mereka koin berlebih.

Setelah puas menikmati musik-musik menarik di tiap jalan, saya kemudian memutuskan untuk mengunjungi sebuah pabrik gitar terkenal bernama Maton di kawasan Box Hill. Bagi para expert guitarist tentu tahu brand ini.

Saya berangkat dari halte Queen Victoria Market. Perjalanan ke Box Hill Station ditempuh sekitar 39 menit. Jalurnya: Queen Victoria Market ke Flinders Street Station menggunakan tram nomor 59, dan dari Flinders Street Station ke Box Hill menggunakan kereta platform 3. Di tiap stasiun ada petunjuk berupa platformdengan nomor 1, 2, 3, dan seterusnya, tiap platform tentu beda tujuan. Ikuti saja.

Perjalanan menuju ke Maton belum selesai, karena dari Box Hill Station perlu disambung lagi dengan bus nomor 733, butuh sekitar 10 menit perjalanan untuk tiba di tujuan. Letak pabrik gitar Maton ini di Clarice Road. Turun di Middlebourgh dan kemudian jalan sedikit sekitar 400 meter. Maka tibalah saya di Maton.

Pada tahun 2016 Maton merayakan ulang-tahunnya ke-70 dengan ditandai penerbitan buku sejarah gitar Maton dan meluncurkan produk terbaru gitar Anniversary 70th. Saya sempat mencoba gitar yang harganya selangit itu dengan perasaan duka-lara karena belum mampu membelinya. Tapi saya sudah sangat senang bisa sampai ke sana.

Akhirnya tuntas sudah seminggu pengalaman saya di Melbourne.Menghabiskan budget sekitar 1600 AUD atau setara 16juta rupiah untuk semua keperluan termasuk tiket PP. Saya kembali dengan menggunakan jalur Melbourne-Denpasar dan Denpasar-Jogja, menginap semalam di Denpasar untuk sekadar istirahat.

Saya sangat menikmati perjalanan musikal ini, bisa mengikuti konfrensi mendapat banyak ilmu, menikmati jazz, menyaksikan pengamen jalanan, mengunjungi museum, dan mampir ke pabrik gitar terkenal.

TIPS:

  • Perjalanan ke suatu tempat mengunjungi tempat bersejarah atau wisata biasa sudah menjadi hal yang sangat umum, tetapi perjalanan musikal masih sangat jarang yang menulis. Setiap negara pasti punya kebudayaan musik yang menarik.
  • Di Melbourne cukup banyak tuna-daksa. Mereka tidak bisa pulang ke negaranya karena banyak alasan. Apabila kita punya dana lebih berilah mereka santunan untuk memperpanjang hidup mereka.
  • Berhematlah untuk bisa menjangkau semua kebutuhan yang kita perlukan di Melbourne. Sekali lagi, Melbourne adalah kota urban dengan biaya hidup yang tinggi. Kalau tidak hati-hati celakalah kita.

*Artikel ini pernah dimuat di Koran Tempo, Februari 2017.

Foto: Erie Setiawan
Attachments area