MERAYAKAN 2700 TAHUN KEMENANGAN MUSIK MELAWAN PANDEMI!

Indonesia Menyanyi (Virtual Choir). Sumber: YouTube Tommyanto Kandisaputra

“Musik adalah ilmu yang mengajak setiap orang untuk tertawa, bernyanyi, dan menari”, ujar Christopher Macklin, Doktor Musikologi dari Universitas Mercer, Amerika.

Tertawa, bernyanyi, dan menari adalah penawar ultra-herbal bagi jiwa, dan terbukti ampuh membunuh depresi, stres, atau frustasi yang menggerogoti pikiran manusia. Terasa tidak main-main, aktivitas ta-nya-ri itu sudah dilakukan sejak 2700 tahun silam. Untuk apa? Salah satunya melawan pandemi!

Melawan, dalam arti yang paling substansial, bukanlah pertarungan antar muka atau jotos-jotosan dengan pandemi, melainkan menjaga sepenuhnya jiwa-raga supaya tidak ikut remuk tertindas krisis. Kalimat “Musik adalah ilmu” yang diucapkan Chris Macklin saya maknai sebagai semacam penyelamat. Musik itu menyelamatkan. Jika musik adalah ilmu, maka musik harus menyelamatkan.

Bagi saya tak ada ilmu yang pada fungsinya tidak menolong atau menyelamatkan ummat manusia dari berbagai masalah, entah mudah atau sulit. Kalau pun ilmu dipakai sebagai modus demi membuat keadaan makin runyam, sulit, dipakai melukai, itu artinya melanggar segala fitrah ilmu, melepaskan segala kemurniannya.

Nyanyian penyemangat dari balkon

Anda pernah nonton (atau ingat) video-video di Italia yang menunjukkan musisi main musik di balkon atau jendela, saling melempar senyum, berkolaborasi dalam jarak fisik: menyanyi, menari? Yup! Itu dia!  

Nah, apa yang kita saksikan di video-video itu ternyata sudah pernah dilakukan sejak 1576 ketika Milan, Italia, ikut terkena epidemi ganas yang disebut oleh Alessandro Manzoni sebagai Wabah Santo Charles. Dalam waktu kurang dari dua bulan, 6000 nyawa terenggut karena wabah ini.

Uskup Agung Milan, Charles Borromeo, membuat perintah semacam Go Lockdown keseluruh warganya, menganjurkan setiap orang agar tetap di rumah, berdoa dan beribadah di rumah.  Ketika sebagian orang dari pemerintahan gereja berkeliling untuk membagi-bagikan sembako kepada warga, mereka umumnya bersaksi:

“Ini sungguh tidak biasa. Di sepanjang perjalanan, tak ada yang saya dengar selain lagu dan musik yang berkumandang di teras dan balkon.”

Ada oplosan antara kesedihan dan motivasi agar tetap semangat! Pandemi memang identik dengan dua suasana itu.

Orang-orang di Eropa terbiasa menggunakan musik sebagai media untuk saling menyemangati, baik antar keluarga terdekat maupun tetangga atau warga-komunitas. Mereka memainkan atau menyanyikan apa saja yang mereka mampu, namun khususnya lagu-lagu pujian Kristiani dan musik-musik klasik.

Jauh sebelum itu

Ada fakta juga, bahwa sejak zaman Mesir Kuno, Yunani, dan Babilonia, musik memang telah menjadi media andalan yang kerap digunakan sebagai obat penawar bagi masalah-masalah psikologis-spiritual, termasuk berfungsi menjaga ikatan sosial di tengah wabah.

Ketika wabah melanda Sparta pada Abad ke-7 SM, para pemimpin kota mengajukan petisi kepada penyair Thaletus untuk menyanyikan lagu-lagu pujian, dan Terpander (Terpandros), penyair Yunani Kuno yang terkenal, dipanggil saat wabah melanda Lesbos. Bahkan Pythagoras, pencipta teorema favorit bagi setiap anak sekolah, menggunakan musik sebagai alat terapi, ia memainkan kecapi untuk menenangkan para hooligan (penggila sepak bola) yang mabuk!

Oh, ya, ada juga aktivitas unik di Italia pada Abad Pertengahan, dimana ketika warganya mendengar informasi bahwa akan ada wabah dan diminta hati-hati, mereka berbondong-bondong pergi ke tempat suci untuk bernyanyi dan berdoa secara kolektif, menyebar frekuensi positif. Juga di tiap ruas-ruas jalan. Musik dan doa memberi pengharapan.

Ketika Wuhan tertimpa korona dan lockdown,ada muncul pekikan “Wuhan Jiāyóu! Wuhan Jiāyóu!”, yang artinya: “Ayolah, Wuhan!” (Wuhan Semangat!). Itu bukan pekikan biasa. “Pekikan itu simbol semangat”, ujar Remi Chiu, ahli musik dari Universitas Loyola. “Wuhan Jiāyóu” lantas menjadi lagu yang amat membekas bagi warga Wuhan, mudah dinyanyikan siapa saja.

“Musik memang mampu meluluhkan ego di saat masa karantina,” sambung Chiu. “Ketika Anda membuat musik dan menyebarkannya untuk menyemangati setiap orang, Anda telah mengabdikan diri Anda untuk komunitas/kelompok masyarakat yang lebih besar, itu artinya Anda tidak lagi egois,” tegasnya.

Relasi jiwa-raga, fisik dan psikis, atau apa pun itu istilahnya, adalah dua kutub yang senyatanya saling mendukung. Fisik yang kuat namun ditopang jiwa yang lemah akan mengakibatkan kejatuhan, cepat atau lambat! Fisik yang lemah bisa didorong agar tetap kuat dengan jiwa yang sehat.

Dalam konteks terapi musik, Anda akan menemukan banyak fakta mengenai keajaiban musik bagi jiwa manusia, bahkan sejak zaman Renaisans, setiap pasien yang berpotensi “lemah jiwa” selalu diajarkan seni, antara lain menari, bernyanyi, tertawa, bermain musik, supaya kelemahan itu tidak delay berlarut-larut. Untuk pasien kanker dan skizofrenia di zaman modern, musik berpotensi mengurangi kecemasan.

Tetaplah semangat!

Sejak fase-fase awal pandemi korona menjalar di Indonesia (pertengahan Maret 2020), ramai para musikus melakukan kolaborasi virtual di media sosial, hingga tercatat kolaborasi terkolosal sejauh ini adalah paduan suara virtual “Indonesia Menyanyi”, yang melibatkan 2758 penyanyi, menggabungkan 3615 video dan 436 paduan suara! Ada energi saling menyemangati yang terpancar di balik kolaborasi yang dipersembahkan Bandung Choral Society itu. Videonya di sini.

Saat ini dunia musik berbasis panggung dan kerumunan nyata memang tengah sekarat! Saya pun mengalami, beberapa jadwal panggung musik dan kolaborasi seni, setidaknya hingga Juli, tidak bisa dilangsungkan, alias dibatalkan! Selepas bulan itu juga belum tahu kepastiannya. Entah pekerja lapangan atau administratif  kompak mengeluhkan dampak yang sama dari pandemi korona ini. Industri musik khususnya, amat terpukul. Dampak gelobalnya baca ini.  

Di dalam pikiran kita (khususnya yang bekerja independen), memang sedang berjuang mencari berbagai cara untuk menemukan solusi pertahanan diri. Ada yang tetap bertahan “di jalur musik” dengan memanfaatkan tabungan darurat, tetap kreatif posting-posting,hingga tak jarang yang “hijrah” lalu jual sembako, makanan, pakaian, jual ini-itu, dan lain-lain, supaya tetap hidup! Tak sedikit pula yang berada di titik sulit dan benar-benar mengharapkan uluran tangan.

Namun betapa kita wajib untuk tetap bersyukur, bahwa musik masih selalu hadir intim dan hangat dalam mengisi lembar-lembar kesunyian sosial kita, mengisi kekosongan suasana hati, terlepas dari “musik sebagai urusan dompet.” Ini soal “musik adalah ilmu”, sebagai urusan jiwa, sebagai penyemangat, penyelamat.  

Musik, disadari atau tidak, berhasil menyuplai “nyawa cadangan” di tengah dampak pandemi, menjadi bahan bakar atau energi spiritual, agar kita tetap bertahan, berbagi, dan terus menyebarkan semangat satu dengan yang lain dengan berbagai cara. Meskipun semua itu masih ajeg terjadi (hanya) di dinding-dinding virtual.

Musik memungkinkan menjaga nyala api semangat itu, sebuah kemenangan yang indah dari peperangan yang absurd.

(Esai ini disarikan dan diinterpretasikan dari laporan berita The Guardian: https://www.theguardian.com/music/2020/apr/06/stayin-alive-how-music-fought-pandemics-2700-years-coronavirus), dirilis 6 April 2020.

DI DADAKU ADA DIDI

di dadamu mungkin sama

Foto: Agustinus Bambang (UGM, 29 Feb. 2020)

Belum lama ini beberapa wartawan menelpon saya, meminta pendapat tentang sosok Didi Kempot, penyanyi kondang yang baru saja dijemput Sang Khalik. 

Dalam kapasitas saya yang cuma sebagai Kempoters yang terlanjur fanatik dengan lagu-lagu Didi Kempot sejak 1990-an, saya tidak bisa bercerita lebih banyak dari yang sekadar saya rasakan. Sedikit-sedikit bisa menjelaskan dari perspektif ilmu pengetahuan musik. Itu pun dalam kadar yang sederhana saja.

“Apa sih, Mas, istimewanya lagu-lagu dan sosok Didi Kempot dari kacamata panjenengan? Dan mengapa dia bisa sangat terkenal?”

Ada dua pintu untuk menjawab pertanyaan itu: subjektif dan objektif. Tentu saja bagi saya, yang sekali lagi, fanatik, Didi Kempot itu keistimewaannya banyak. Selain fakta umum,dimana lagu-lagu beliau menyentuh berbagai lapis emosional masyarakat tanpa terkecuali, Didi Kempot adalah sosok yang khas dengan berbagai piranti. Mulai dari wajah beserta postur dan gesturnya, suaranya, lagu-lagunya, gayanya, dedikasinya, dan lain-lain.

Kebetulan belum lama ini, 29 Februari 2020, Kroncongan Agawe Santosa pentas sepanggung dengan Didi Kempot di Grha Sabha, UGM, Jogja, untuk acara reuni Fakultas Kedokteran, UGM. Kami diundang Prof. Adi Utarini, seorang kolega baik. Kroncongan Agawe Santosa tampil membuka acara, Didi Kempot dan Lare Jawi menutupnya. Saya pun berjoget ria dan bernyanyi sangat keras.

Di fase menunggu giliran sound check yang sedemikian lama dari siang hari, saya dan Mas Agustinus Bambang berdiskusi panjang lebar tentang sosok Didi Kempot, kesibukannya, beserta tarif manggungnya dalam setahun terakhir. Mas Bambang mengenal Didi Kempot secara personal, dan belakangan juga relatif sering bekerjasama. Mas Bambang piawai mengemas lagu-lagu Didi Kempot ke dalam nuansa orkestra. Satu hal yang diceritakan Mas Bambang tentang keistimewaan Didi Kempot: “Nyanyi tidak pernah fals!” Saya setuju, lebih  dari 100%!

Soal kesibukan Didi Kempot? Hmm.. Ini: Sebulan bisa manggung 40 sampai 50 kali dengan tarif rata-rata dalam range 125-150 juta. Soal tarif ini, Mas Bambang juga membocorkan pada saya percakapan langsung dengan Didi Kempot via SMS.

“Maret full, Mas,” kata Didi Kempot.

 *

Secuil teknik intuitif Didi Kempot dalam Mengarang Lagu

Lalu apa yang membuat Didi Kempot jadi sedemikian terkenal? Apakah karena Sobat Ambyar? Apakah karena Gofar Hilman? Bagi saya tidak.  

Didi Kempot terkenal karena lagu-lagunya memang bagus! Nah, momentum-momentum lain yang turut mendongkraknya di media sosial turut melengkapi keistimewaan Didi Kempot dengan lagu-lagunya itu.

Mengarang lagu yang bagus bagi saya tidak mudah. Bagus dalam arti simpel adalah diterima masyarakat dan  menjadi abadi. Soal ini, tidak ada satu pun rumus teoretik yang pernah menjelaskannya. Beberapa buku dan tips-tips yang saya baca tidak pernah dengan gamblang membeberkan “bagaimana menyusun lirik dan kemudian menempatkannya secara pas ke dalam melodi lagu”—misalnya begitu secara teoretik.

Misalnya lagu ini:

Wis, sak mestine, ati iki, nelangsa

Wong sing, tak tresnani, mblenjani janji

Apa, ora eling, nalika, semana

Kebak kembang, wangi, jroning dada

(Perhatikan seluruh tanda koma di penggalan bait itu)

Analisis singkat (satu baris):

Kata (1) Wis, dipenggal sebagai jeda. Baru sesudah itu (2) Sak mestine.

Jika tiga kata itu diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, artinya adalah Sudah Seharusnya. Kata “Sudah Seharusnya” tidak ideal untuk diucapkan dengan dijeda oleh koma:

“Sudah, seharusnya”. Tidak begitu. Pasti penulisannya “Sudah Seharusnya”.

(3) Ati iki. Ini juga hampir sama dengan sebelumnya, dijeda oleh koma, baru kemudian (4) Nelangsa. Untuk penegasan baris pertama.

Dalam kenormalan yang sewajarnya, penulisan atau lafal lisan kalimat ini: Wis sak mestine ati iki nelangsa,hanya terdapat satu koma, yaitu di antara kata mestine dan ati iki. Namun Didi Kempot membuatnya jadi berkoma tiga.

Lalu soal naik-turunnya nada lagu di tiap frase maupun pada relasi keseluruhan baris antar baris, bait dan bait, hingga bentuk utuh. Ini juga unik.

Pilihan melodi lagu berpengaruh besar untuk menyokong lirik yang telah disusun, hingga membuatnya hidup dan mudah lekat di hati. Tentu saja teknik bermain “melodi melangkah” (jarak antar suka kata dalam melodi lagu selalu berdekatan). Ini seperti teknik lagu-lagu anak karangan Pak Kasur, Ibu Sud, dan sebagainya. Teknik-teknik lagu dengan “melodi melangkah” selalu lebih “terkenal” ketimbang sebaliknya. Lagu-lagu Koes Plus adalah contoh yang paling relevan.  Didukung iringan musik yang sederhana dan mudah diingat.

Nah, baru sesudah itu, yang menjadi pendapat umum masyarakat atas lagu-lagu Didi Kempot, adalah syairnya yang mewakili dinamika perasaan masyarakat. Cinta, patah hati, ditinggal pergi… menjadi sangat dekat dengan kebutuhan setiap orang untuk mengigat “kepahitan” dalam momen kehidupan, sekaligus menjaganya agar tetap semangat.

Gofar Hilman bilang: “Hanya Didi Kempot yang bisa membuat puluhan ribu orang bergelora dan tetap semangat walaupun dalam keadaan patah hati”  

Patah Hati Tetep Dijogeti

Dalam banyak alasan, saya kurang setuju dengan pendapat kebanyakan orang yang cuma berkisar pada gelombang lirik Didi Kempot yang bagus dan dekat dengan situasi emosional setiap orang. Selain itu, dalam soal “struktur musik”, Didi Kempot punya kekuatan besar yang ia kerahkan dengan modal “teknik intuitif” yang mumpuni untuk mengarang lagu.

Syair dan cara menempatkannya ke dalam melodi lagu, adalah tantangan dan hubungan yang tarik-ulur terus-menerus bagi setiap pengarang lagu. Tidak ada lagu yang hebat sepanjang sejarah tanpa adanya pemahaman itu, terlepas dari dikarang dengan intuitif atau pun dalam pengalaman empiris dan teoretik.

*

Lalu, Mas, Siapa kira-kira menurut panjenengan, sosok yang bisa menggantikan Didi Kempot?”

“Wah, sejauh ini menurut saya belum ada, mbak. Didi Kempot itu otentik, orisinil. Perjalanan hidupnya, perjuangannya, karakteristiknya. Kalau pun ada momentum suatu ketika nanti, mungkin saja ada sosok yang setenar beliau dan sangat bermanfaat sebagai figur bagi masyarakat. Ya… kita tunggu saja. Yang jelas di dadaku ada Didi, mbak; Di dadamu mungkin sama.”

“Iya, Mas.

MUSICAL DISTANCING

Ilustrasi: Erie Setiawan

Tak ada burung gagak yang melintas di udara, namun laksana gemuruh dari dasar laut, getarannya terasa merobek dada. Pandemi menyiksa semua lini, mengombang-ambingkan musisi, mereduksi estetika musik yang telah dibangun sekian abad lamanya oleh ahli-ahli di jagad raya.  

Ruang nyata yang memantulkan dan mempertemukan antar-bunyi dalam sifat dan dialektika akustiknya, tengah menyerah oleh virtualitas. Namun tempo menjadi penting, metronom sedang dibutuhkan, hitungan ketat adalah mutlak. Kita sedang belajar bijaksana kepada ruang dan waktu. Belajar kembali semua itu.

Foto-foto manggung (musik tanpa bunyi), yang biasanya ramai di media sosial, kini tengah sepi, digantikan massifnya video-video kolaborasi virtual yang dikuasai kuota. Apakah ada revolusi yang tidak memakan korban? 4.0 terdengar enteng dan biasa-biasa saja. Mungkin manusia sudah tidak dipandang kuat dan punya nyali untuk merevolusi? Pada kenyataannya, virus memanuver sistem, bahkan merubah tatanan seketika, seperti kelebat sampur penari tradisi. Virus seakan lebih tangguh dari manusia yang masih merasa perlu menyusun undang-undang atau memasang rambu-rambu lalu lintas.

Sedang sulit dipertanyakan, nasib musisi itu bergantung pada Tuhan atau pada selesainya pandemi? Yang tidak punya gentong penyimpan uang (dan itu masih berisi) memang sedang stres. Tak hanya pedagang yang kerja hari ini untuk hari ini. Banyak kawan 100% hidupnya menggantung di tangkai-tangkai keramaian sosial-musik. Mereka “terhenti nafasnya” sampai sedikitnya Juni 2020 nanti. Seminggu sekarat saja stres, apalagi berbulan-bulan.

Dunia klab malam yang rapat oleh bau-bau menyengat juga tengah lelap, bahkan pemiliknya berencana memborgol pintu besi selamanya dalam waktu dekat. Musik juga hidup di situ.

Kini semua sedang mencari cara, tak terkecuali musisi, agar tetap bisa mengunyah. “Tak masalah, masih ada aset yang bisa dijual,” kata seorang teman. “Bagus!”, kata saya. “Lalu harganya?”, tanya saya. “Ya pasti anjlok!, ujar teman itu sambil tetap terkekeh menghibur kesedihannya.

Barangkali ketenangan adalah kunci penting untuk saat ini dalam segala kepasrahan dan rejeki kiri-kanan, dalam bentuk tak selalu harus uang. Kita juga tengah sedemikian keras berpikir tentang perbedaan mencolok antara rejeki dan uang untuk saat ini. Rejeki membuat kita terus hidup, sementara uang belum tentu, karena multi-efek yang bisa disebabkan olehnya.

Kita mungkin tengah terganjal dengan banyak hal (pertanyaan) yang berat-berat juga: Apa saja aktivitas di dunia ini yang bisa berubah menjadi virtual? Musik? Setengah iya setengah tidak. Sepak bola atau berenang? Tidak mungkin! Revolusi uang misalnya, sudah nyata. Eksekutif tak butuh kertas, sementara simbok-simbok di pasar masih menyumpelkan recehan di sela-sela kebaya. Apakah akan terjadi, pada suatu ketika nanti, tak ada lagi uang dalam wujud fisik?

Memang serba tak habis pikir. Judul tulisan ini pun hanya judul. Tak ada kaitan dengan isi. Ini teknik baru dalam menulis di zaman yang sedang aneh. Tetaplah sehat!

Pemahaman dan Penerimaan

Rasanya kita selalu “dipaksa” menerima apa saja setiap hari. Soal paham atau tidak itu urusan masing-masing.

Karya: Dodot JD

Suatu ketika saya duduk semeja, makan malam bersama Pak Goenawan Mohamad, Pak Endo Suanda, Mas Wahyudin, dan rekan-rekan lain. Nama besar Goenawan Mohamad sudah saya kenal sejak semasa kuliah, 2000an awal. Baru kali ini mendapat kesempatan lebih intim dengan beliau untuk ngobrol, kurang lebih sekitar 2,5 jam. Cukup lama untuk situasi yang intim.

“Perjodohan” ini berkat tawaran Pak Endo, “bos” saya di Majalah Gong dulu (2008-2010). Sebetulnya pertemuan kami berdua sudah berlangsung sejak sore di “Museum dan Tanah Liat”, Bantul. Kami memang sudah lama tidak berjumpa, maka untuk melepas rindu Pak Endo mengajak saya lanjut makan malam. Saya menyanggupi dengan senang hati.  

Di meja makan itu banyak cerita dialirkan begitu saja. Sejujurnya saya lebih banyak menjadi pendengar pasif, itu pun sudah enak minta ampun. Sesekali saja menanggapi.

Ada satu cerita yang bikin saya penasaran, yaitu soal “pemahaman” dan “penerimaan”.

Singkat cerita waktu itu kami sedang mengobrolkan Catatan Pinggir (Caping), yang rutin ditulis mingguan di Majalah Tempo oleh Pak Goen. Pertanyaan yang muncul: “Apakah generasi milenial saat ini masih mau membaca Caping? Apakah mereka paham?”

Nama Hairus Salim kemudian nongol. Konon, menurut beliau—yang notabene juga penulis  senior yang saya hormati—Caping relatif sulit dipahami, tapi Pak Salim merasa menyukai atau menikmatinya. Dan beliau juga menyampaikan bahwa milenial saat ini “ada” yang baca caping.  

Diskusi menjadi lebih rumit ketika memperbincangkan bahwa suatu objek yang kita lihat, baca, pandang, temui, dan lain sebagainya, memang tidak selalu harus “dipahami”—dalam pengertian sampai ke meaning, sampai ke pemaknaan. Ketika orang sudah menyukai atau menikmatinya, sebetulnya itu sudah cukup.

“Saya tidak paham, tetapi suka.” Mungkin kita cukup sering mendengar kalimat itu.

Lalu saya iseng tanya kepada Pak Goen.

“Lalu Pak Goen, kalau Pak Goen menulis caping itu apakah ada target, atau katakanlah keinginan, agar tulisan Pak Goen dipahami?”

Semua mendadak tertawa.

“Haha, benar juga? Gimana Pak Goen?” Mas Wahyudin  menyaut, menegaskan pertanyaan saya.

“Ya, kadang-kadang. Tapi sering tidak memiliki target itu. Saya menulis saja. Haha.” Jawab Pak Goen dengan sedikit terkekeh.

Seketika saya ingat tentang musik kontemporer.

Kami di komunitas seringkali memperbincangkan bagaimana musik kontemporer harus “hidup” di telinga masyarakat. Artinya, apakah masyarakat dituntut untuk memahami bunyi-bunyian yang konon jauh lebih rumit seribu kali lipat ketimbang musik pop itu? Namun pikiran saya sudah lama sadar, bahwa ketika saya menonton (mendengar) pertunjukan musik kontemporer, sudah sejak dari rumah “tidak ingin punya target memahami.” Menyukai saja sudah bersyukur. Tapi anehnya, banyak juga teman yang trauma bunyi kontemporer. Tak mau lagi dengar musik kontemporer. Alasannya?  Sederhana: bikin pusing dan muntah.

Begitulah. Memang rasanya kita “selalu dipaksa menerima apa saja” setiap hari. Soal paham atau tidak itu memang urusan masing-masing.

PROBLEMATIKA BAHASA DALAM KRITIK MUSIK

Telinga kita sedang menjelajah untuk menggali makna-makna musik. Ada banyak cara. Salah-satunya melalui kritik musik (music criticism). Kritik musik adalah uraian kata-kata untuk mengulas peristiwa musik (auditif) yang diekspresikan melalui tulisan.

Tentu saja ada konsekuensi atas “jenis kata” yang dipakai, yang bisa memunculkan beraneka tafsir bagi pembaca. Salah-satu jenis kata itu adalah “kata sifat”, yang sangat riskan terhadap stigma dan tendensi (norma-norma). Contoh: “Musik itu terdengar begitu segar, manis, dan eksotis; intim sekaligus seksi; unik dan menarik.”

Apakah pembaca bisa membayangkan, bagaimana bunyi yang segar, manis, eksotis, intim, dan seterusnya itu? Mungkin akan sulit. Musik itu sendiri, sebagai seni auditori (pendengaran), sifatnya sudah (sangat) abstrak, tidak bisa diraba (intangible), tidak seperti sastra atau seni-rupa yang terlihat kasat-mata.

Itulah yang mencoba dibahas oleh Kris Budiman dalam ceramahnya yang bertema “Musik dan Kata Sifat Kritik” (Music and Adjectival Criticism) di Wisma Seni, Solo (17/1/2017) dalam rangkaian acara Bukan Musik Biasa ke-56, dipandu Halim HD. Guna mendukung hipotesisnya, Kris Budiman menyampaikan argumen-argumen, terutama dalam konteks semiotika, sebagai disiplin yang ia kuasai.

Menarik, namun ceramah itu juga menuai opini (kritik). Menurut Kris Budiman, makna-makna emosional inilah yang kemudian membuat musik cenderung diper-kata-kan, diterjemahkan ke dalam bahasa, sebagai kata sifat. “Jadi, adalah masuk akal jika kritik musik pun pada gilirannya menjadi sarat dengan kata sifat atau cenderung adjektival”, ujarnya.

Tentu saja—seperti di atas telah disinggung—kata sifat yang dipakai akan bisa berakibat multi-fafsir. Akan tetapi, mana mungkin “kata sifat” diminimalisir, apalagi “dihindari”? Sementara, musik, sebagai bentuk ekspresi manusia, sudah secara kodratnya melekat makna-makna emosional (afektif).

“Adakah sarana-sarana kebahasaan lain untuk membincang musik tanpa menggunakan kata sifat?”, lanjut Kris. Alih-alih merombak bahasa tentang musik, itu merupakan sesuatu yang musykil, lebih baik, menurut Kris yang mengutip Barthes, kita menggeser pemahaman atas objek musikal itu sendiri, yakni musik sebagai teks yang bermakna (Barthes, 1985: 184). Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah sebuah kritik yang mampu merangkul pendekatannya ke dalam sensibilitas atas makna (sensibility of meaning). Di sinilah, sebagaimana pernah dinyatakan oleh Roy Shuker (1994), kajian semiotik terhadap musik memperoleh posisinya sebagai pendekatan yang lebih peka atas makna-makna musikal.

Problematika

Sayangnya, dalam ceramah tersebut Kris hanya mencontohkan fakta-fakta (tulisan-tulisan tentang musik) yang lebih menyoroti musik populer. Sementara, musik yang berkembang di dunia ini begitu bermacam, dan bentuk-bentuk tulisan tentang musik juga sangat banyak macamnya. Sebab itu, pendekatan untuk menelisik setiap jenis musik, menurut pengalaman saya, juga akan menjadi beragam. Kris juga tidak memberikan komparasi yang lain, baik itu tawaran beserta contoh penggunaan jenis kata lainnya, maupun formula lebih detail untuk lebih mendukung argumennya.

Diakui oleh Kris, ia memang tidak menguasai musik, kecuali semiotika dan kajian seni. Sementara, pisau analisis yang paling pas untuk membedah masalah ini adalah disiplin musikologi. Saat ini perkembangan disiplin ini telah begitu luas. Dan kritik musik juga menjadi salah-satu bagian dari sub-disiplin dalam musikologi yang disebut New Musicology (lihat Contemplating Music: Challenges to Musicology, Kerman, 1985).

Dalam New Musicology, tiga pendekatan terintegrasi menjadi satu, yaitu estetika, kajian budaya, dan kritik musik. Tentu saja menjadi tidak masuk akal apabila bobotnya lebih ditekankan pada semiotika saja, sementara dasar musikologisnya tidak dikuasai. Belum lagi Empirical Musicology (Cook, 2004) yang mencoba memahami musik sebagai pengalaman empiris melalui berbagai metode.

Dalam berbagai literatur mengenai bagaimana menulis tentang musik juga sering disebutkan bahwa kita tidak bisa menghindari metafora-metafora (penggambaran atas suatu objek)—bahkan itu subyektif, terkesan seperti prosa yang naratif, bahkan puisi, melibatkan perasaan (DiYanni, 1980). Tak jarang juga, seorang pengaba orkestra yang mencoba memberi instruksi kepada musisi, tentang suatu karya yang tengah diinterpretasikan, juga menggunakan metafor-metafor yang seringkali bermuatan kata sifat: “Coba horn dimainkan lebih gelap; bagian ini violin harus lebih terang dan tajam, dan seterusnya.”

Masalah lain

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika Kris juga tidak menyinggung sama-sekali mengenai posisi “pembaca”, dalam arti elemen masyarakat yang memiliki hak penuh untuk mengapresiasi “kritik musik” demi peningkatan apresiasi (wawasan). Mengingat, bagi Suka Hardjana (2004), kritik musik adalah jembatan yang menghubungkan antara karya musik, musisi, dan publik.

Sebab itu perlu dipahami pula watak audiens kita, yang cenderung (masih) menganggap bahwa musik tidak lebih dari sekadar hiburan daripada pengetahuan. Apakah audiens di Indonesia juga benar-benar membutuhkan “kritik musik”? Yang seperti apa? Jangan-jangan mereka lebih nyaman dengan adanya “kata sifat” di dalam kritik yang lebih mewakili sisi emosional, dibanding kemungkinan lain yang barangkali akan menjadi lebih berat (deskriptif, analisis, kajian musik). Ini juga perlu kita pertanyakan dan butuh studi lebih lanjut lagi.

Sifat Kata

Sekarang kata sifat akan kita balik menjadi “sifat kata”. Ini tawaran alternatif. Kata, sebagai elemen dari bahasa, memiliki sifat yang bermacam: lentur, kaku, tajam, lembut, menusuk, dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan, sejauh pengalaman saya, adalah masalah fonetik dari tiap kata yang dipakai untuk menafsirkan musik. Ini masalah asosiasi atas “bunyi” kata (pengucapannya) dan konsekuensinya.

Misalnya, bagaimana menggambarkan musik rock yang cenderung “keras” di telinga? Apakah dengan kata “bergemuruh”, “cadas”, “tajam”, “menohok”, mana yang lebih tepat dan “berbunyi” (fonetik), serta lebih analogis untuk membahasakan musik? Inilah yang perlu disiasati dengan memahami “sifat kata”nya. Akan ada banyak contoh lain yang bisa kita cermati lagi.  

Tentu saja, selain menguasai istilah musik, juga dibutuhkan penguasaan (ber)bahasa, kemampuan mendengarkan, imajinasi, memahami pembaca, dan tentu saja teknik menulis (creative writing) yang memadai. Semiotika, yang menganggap musik sebagai teks yang bermakna, akan lebih melengkapi semua itu dan menjadikan “kritik musik” lebih sempurna sesuai porsinya. Bukankah menjauhi atau meminimalisir “kata sifat” dalam kritik musik sama saja dengan mengubur salah-satu nilai alamiah yang dimiliki manusia (dalam hubungannya dengan musik itu sendiri), yaitu ekspresi?

PERKUSI INDONESIA DAN KIBLAT KEBUDAYAANNYA

Pidato Musikal Erie Setiawan (2013)

Ini adalah Pidato Musikal. Saya ngomong diselingi nabuh. Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Pertama-tama kita harus bersyukur,

Bahwa kita, masyarakat perkusi Indonesia, adalah makhluk-makhluk langka yang diciptakan Tuhan secara otentik, makhluk-makhluk istimewa yang dikaruniai warisan sejarah genuine, diberi kemampuan ilmu hitung dan algoritma natural tingkat tinggi dari leluhur, dikarunai telapak dan kepalan tangan yang jauh lebih tebal dan bergengsi dibanding tukang kredit, maka— seperti para pekerja pembuat dek kapal, pandai besi, tukang bor sumur, pemahat relief di candi-candi, pencetak patung-patung raksasa, pembuat menara pencakar langit, penanam jagung, pembajak sawah—masyarakat perkusi Indonesia yang maritim dan agraris ini, adalah manusia paling kuat dan unggul, yang berpotensi besar untuk berkontribusi pada sejarah kebudayaan dunia, dan ini jauh lebih termasyur dibanding presiden SBY yang hanya mengarang lagu melow.

Begitupun para instrument maker-nya, para pengrajin bunyi, para Empu-empu gamelan; bisa dibayangkan betapa kuatnya mereka menarik tali di selingkar membran, begitu betahnya memukul-mukul pencon tanpa takut tuli, begitu nekatnya bekerja di tengah bara api, begitu sabarnya mengukir ornamen pada bilah-bilah kayu, nggraji kayu bahan marimba sampai subuh, mengamplas bilah-bilah dan tak bisa korupsi satu mili-meter pun, dan seterusnya. Semua itu dilakukan hanya untuk sekadar mengejar frekuensi yang tepat bagi telinga dan hati ummat manusia, yaitu frekuensi yang Rahmatan Lil’Alamin: lahir batin dunia akherat.

Yang lebih dulu ingin saya tekankan, bahwa kita, masyarakat perkusi, haruslah menjadi makhluk yang semangat, optimis dan penuh percaya diri, karena peradaban perkusi adalah peradaban purba, pra-sejarah, lebih tua dibanding era Phytagoras, Plato, Socrates, Aristoteles, dan sederet ahli pikir Skolastik Yunani.

Kita jauh lebih senior dibanding ilmu etnomusikologi yang baru lahir Abad ke-20. Kita juga lebih senior dari ahli musik Barat seperti Henri Cowell yang memukul langsung dawai piano seperti perkusi, atau John Cage yang menyulap kaleng dan metal menjadi melodius dalam Third Construction. Dan kita jauh lebih uzur lagi dibanding Guido d’Arezzo, yang pada abad ke-11 menciptakan melodi do-re-mi-fa-sol-la-ti-do, yang kita kenal mendunia dan dipakai universal. Syailendra yang konon pelopor slendro-pun kalah tua oleh peradaban perkusi.

Maka, optimis dan percaya diri adalah bekal utama kita sekalian untuk bisa makin berwawasan, bukan hanya mengagungkan kelincahan teknik setinggi langit tanpa dasar-dasar sejarah dan falsafah yang jelas sebagai masyarakat perkusi.

Sekaligus, rasa optimis dan percaya diri ini juga harus dibarengi dengan kemampuan metafisika, spiritual, dan ilmu klenik yang cukup, karena sejarah perkusi sangat berhubungan dengan roh magis, dewa-dewa intangible yang dipanggil dengan hentakan kaki dan tepuk tangan, dan demit-demit yang sukses berbisnis seperti Ciputra. (Demit saja bisa sukses jadi demit, kenapa Institut Seni yang dikelola manusia berakalbudi luhur dan memiliki program perkusi tidak pernah bisa sukses membuat sejarah pembaharuan teknik-teknik?).

Ya, karena mereka tidak pernah memahami leluhur mereka secara baik, tidak pernah belajar mantra-mantra atau mengamini ranah gaib tempat dimana perkusi pada mulanya lahir. Hentakan kaki adalah nominasi tertua seperti suara manusia maupun tiupan sangkakala atau nyanyian Mazmur Nabi Daud. Maka, kesadaran sejarah dan falsafah itu sungguh penting. Tetapi, ini seringkali dilewatkan begitu saja oleh pemain perkusi yang hanya sibuk latihan dan main.

Teman-teman yang saya hormati, rasanya akan terlalu mubazir jika pidato ini saya isi dengan penjabaran sejarah perkusi dari zaman pra-sejarah hingga hari ini. Dan itu jelas bukan wewenang saya untuk menyampaikannya.

Saya hanya ingin membatasi pidato ini dengan tiga kerangka mendasar. Pertama, adalah bagaimana membedakan perkusi dan konsepsi kita tentang perkusi. Kedua, strategi yang berhubungan dengan mekanisme pengembangan perkusi. Ketiga, perkusi Indonesia dan kiblat kebudayaannya. Mudah-mudahan pidato ini tidak teoritis, dan kita sekalian mudah untuk mencernanya secara adil untuk saling belajar menjadi ber-ilmu melalui pemikiran ini.**

Baiklah, BAB I.

Perkusi dan konsepsi kita tentang perkusi

Perkusi dan konsepsi kita tentang perkusi terinspirasi dari pemikiran brilian Cak Nur (Nurcolish Madjid), yang secara jelas membedakan antara Tuhan dan konsepsi kita tentang Tuhan. Tafsirannya kira-kira demikian: Tuhan yang kita pahami secara tepat tidak pernah terikat oleh dogma atau doktrin fundamentalis atau isme-isme tertentu, tidak terbunuh oleh cap atau kategori-kategori yang melemahkan kita sendiri, tidak bergantung pada konspirasi politik, serta tidak dibatasi oleh stigma-stigma salah kamar yang sering melampaui logika umum.

Gampangnya, hasil dari Tuhan yang dikonsepsi oleh pikiran manusia adalah lahirnya seribu aliran agama, kostumnya orang ber-agama juga seribu teknik obras, sembahyangnya bisa jutaan aturan, saling pukul antar orang ber-agama (bahkan se-agamapun) melampaui jurus termahir Bruce Lee dalam dunia persilatan. Mudah-mudahan, komunitas perkusi yang sulit terhitung jumlahnya di Indonesia ini tidak bertujuan untuk mengkonsepsikan perkusi sesuai pikiran individual egosentris, atau kepentingan kelompok masing-masing yang arahnya menuju fundamentalisme, seperti yang dikhawatirkan ahli astronomi Prof. Karlina Supelli sebagai bencana moral terbesar abad ini.

Perkusi yang khas Indonesia adalah perkusi liberal, yang peka terhadap segala macam kondisi, serta berbakat menyebar perdamaian antar ras seperti para penerima nobel.

Sudah jelas dalam pentas-pentas dan kitab-kitab perkusi, kita yang lahir modern dikenalkan pada ribuan teknik main perkusi, berbagai rhythm untuk dimainkan dan dikembangkan bersama, beragam teknologi mekanikal organologis perkusif dari Sabang hingga Merauke, yang satu-sama lainnya genuine, dan seterusnya. Perkusi Indonesia adalah sebuah ruang kehidupan tak terbatas, dan bukan labelisasi ilmiah-akademis demi mencapai tujuan tertentu yang hanya bisa dipahami oleh kelompok tertentu saja. Sungguh, dan tolong kali ini percayalah saya, bukan itu perkusi Indonesia.

Untuk menjadikan perkusi Indonesia punya identitas dan ciri-khas, pandangan saya, kita harus segera mengubur dalam-dalam semua konsepsi kita tentang perkusi, karena itu tidak akan melahirkan kreativitas apapun. Sebaliknya, perkusi hanyalah perkusi, yang kita junjung bersama secara jujur demi merayakan keberagaman, terlebih lagi, ini seperti sebuah refleksi terdalam dari hati kita: apakah kita benar-benar mencintai perkusi dengan tulus dan sungguh-sungguh?

Kita bisa sepakat dengan pandangan Horace Kallen salah satu pelopor pluralisme budaya, dimana berbagai etnis dan budaya adalah kontributor dalam drajat yang sama untuk mencapai variasi dan kekayaan budaya. Maka, jika berbagai lapis etnik di sini berkumpul untuk sama-sama merayakan dan menimba ilmu perkusi, tidaklah tepat kita saling mengunggulkan interlocking ritme antara rebana Kuntulan dan rampak kendang, atau sama-sama berlomba supaya menjadi seorang Afro-Indonesian dengan dalih supaya bisa bermain djembe layaknya djembefola yang mahir seperti Mamady Keita (Cak Mamad), sosok yang kita muliakan bersama, tetapi tidak wajib kita tiru begitu saja seperti lembaran kertas yang keluar dari mesin scanner atau foto-kopi. Dan para djembefola Indonesia sudah banyak yang memiliki grade tinggi, lolos ujian sosial di mana-mana, menguasai speed dan banyak rhythm.

Apakah kita harus memperjuangkan ciri kita sendiri? Ciri Indonesia yang maritim dan agraris, seperti fenomena alee tunjang atau arumba? Seperti apa perkusi Indonesia itu? Dan, apakah kita di sini perlu untuk menciptakan definisi dan teori? Tidak. Sama sekali tidak. Justru itulah yang menjebak kita sehingga makin terkungkung lagi dalam konsepsi yang menyesatkan.

Berikut ini beberapa fakta yang obyektif:

Perkusi Indonesia, contohnya, adalah harmonisnya antara minuman berjenis ciu lokal dan kendang koplo dari pralon, yang populer pada awal millenium baru. Kendang koplo-nya dimainkan sambil minum ciu dalam kondisi fly, lalu sampai ke gorong-gorong bus kota, perempatan jalan, perumahan-perumahan. Muak setiap orang…bunyinya yang membangunkan orang tidur adalah teror bagi yang tidak suka. Perkusi di Indonesia tak ubahnya wujud kebencian, tapi itu bagi yang tidak peduli kenikmatan aksen-aksennya, dan peluang transvesti yang sangat jarang terjadi pada manusia normal, kecuali ketika njathil, kuda lumping, ebek Banyumasan, atau jaranan Turangga Safitri Putra Tulungagung.

Perkusi Indonesia adalah tren perabot rumah tangga yang digunakan sebagai medium. Gampang. Perkusi adalah paling aman, karena diam-diam kalau kita punya sedikit bakat ritmis suka pukul-pukul, apa saja yang di depan mata adalah anugerah bagi kita. Ibu marah-marah, panci hilang, dandang hilang, sotil hilang. “Wahhh kemanaaa? Anakku yang bawa.” Diam-diam anaknya ikut lomba seni kreatif 17-an tingkat RT, dan alhamdulillah, ya Allah, menang! Kemarahan ibunya berubah jadi bangga dan lega. Batin si ibu: “Hadiahnya bisa untuk (nyicil) beli perabot lagi.” Cicilan pertama anaknya, berikutnya sampai pelunasan ibunya. Hrggghhhhh……. Tak pentung kowe…!!

Perkusi Indonesia adalah pengamen calung perkusif urban di Malioboro, laris disawer wisatawan yang nggumunan melihat gentong bisa direkayasa jadi bunyi bum-bum-bum-bum, atau bilah bambu yang ditata rapih sehingga melodi lagunya memunculkan aura “bibit-bibit syahwat” bagi lelaki yang berbakat membayangkan goyangan bokong Putri Panggung Dewi Persik, Asyik Jos Junita Bahar, hingga Via Vallen.

Perkusi Indonesia adalah yang diletakkan begitu saja di pinggir jalan, bonang dan kempul dipukul sesukanya, mengiringi lelaki berjoget ndolalak asli Purworejo dengan make-up yang bebas dari perawatan wajah berjenis Martha Tilaar atau Natasha.

Perkusi Indonesia adalah musik rebana Seni Trunthung-nya Sutanto Mendut dan masyarakat desa Tutup Ngisor Magelang. Suatu ketika saya berkesempatan mewawancarainya untuk sebuah liputan. Kata Tanto Mendut, budayawan Magelang itu: “Ini lebih sebagai semangat kerakyatan-kolektif, multi-tafsir, masyarakat pedesaan yang peka kepada sosial-politik. Petani, tukang tambal ban, blantik, ibu-ibu, korban PHK, semua main.” Sungguh khas Indonesia.

Perkusi Indonesia adalah jur-sang-seng mulut musikalnya A Capella Mataraman besutan mbah Pardiman Djoyonegoro dan kawan-kawan yang sehati dengannya. Saya menyebutnya seperti sebuah artefak arkeomusikologis yang hidup pada masa sekarang, tapi peka terhadap sejarah purba, yang jelas dalam prosesnya menjadi lebih sulit karena ada sistem bagaimana menyusun harmoni untuk sekelompok mulut beda timbre dan bentuk itu. Mulut, yang notabene hanya berperan sebagai penyanyi, kini harus merangkap jadi perkusi, harus berkalkulasi atas ritmis, durasi, dan ragam bakat bunyi alami yang bisa dihasilkan.

Perkusi Indonesia adalah ketika para guru SD dan SMP sangat bersemangat mendorong murid-muridnya yang berbakat seni untuk membuat drum-set dari sisa kaleng cat tembok, merekayasa galon air mineral, mencuri tutup panci tetangga dan menyulapnya jadi cymbal, dan aneka macam trik yang lain untuk sekadar supaya anak-anak yang orang-tuanya tidak mampu beli drum-set merk Tama atau Ludwig, tetap bisa mencicipi nikmatnya main drum-set layaknya Tony Royster, Jr.

Perkusi Indonesia adalah otak-atik-gathuk-nya kawan-kawan dari Jatiwangi, Majalengka yang sanggup dan sangat percaya diri merekayasa tanah liat menjadi Gender seperti dalam gamelan Jawa. Membuat ansambel genteng dimana seribu ibu-ibu PKK memukulnya sambil bernyanyi. Dipimpin seorang kondakter yang berdiri di atas meja, merayakan alam semesta tropis yang musikal.

Perkusi Indonesia adalah pengusaha alat-alat drum band yang dikonsumsi siswa-siswi sekolah, dan kerap menjadi rebutan tender para makelar karena nilai proyeknya cukup besar. Bagi anak-anak, bisa bermain di kelompok drum band adalah kebanggaan, apalagi bisa menjadi mayoret yang memimpin pasukan.

Perkusi Indonesia adalah dinamika Marching Band yang konon menurut instrument maker Tuan Fataji sulitnya seperti layaknya mengelola sebuah perusahaan. Kita ingat betapa riuhnya mereka di aksi pembukaan kompetisi olah raga bergengsi semacam PON atau Sea Games. Tidak hanya teknik mukul, tapi juga stamina, kostum, kerja-sama, dan rupa-rupa atraksi spektakuler yang dibutuhkan untuk memukau. Kadang-kadang perkusi yang satu ini tidak hanya bunyi saja yang diperjuangkan, tetapi juga kolosalitas yang tidak bisa dipelajari sehari-semalam.

Perkusi Indonesia adalah gamelan gentanya A.L. Suwardi yang orisinal, yang ikut muncul dalam Pekan Komponis Indonesia besutan Suka Hardjana. Gamelannya cukup mencengangkan banyak orang pada dekade 80-an, ketika banyak orang masih terlena dengan film Ratapan Anak Tiri yang dibintangi Tanty Joshepa.

Perkusi Indonesia adalah ketika orang-orang memakai jas rapih dengan dibalut dasi Hugo Boss, berdiri di tengah orkestra besar, tapi mainnya…lagu pop-popan yang melayani pemuda-pemudi galau, haduuuhhh….jadi bunyinya hanya “sol-do sol-do…” dengan ritmis seperdelapanan, atau seperenambelas yang hanya tahan empat detik, ditambah tiga detik tremolo. Amplop dua juta potong pajak.

Perkusi Indonesia adalah abrakadabra cumalakunceng wala’isiya arhumindalib gugon tuhon pojok beteng, wujud kolonialisasi impor “persekongkolan” budaya antara Raja-raja dan kaum Belanda di kampung Musik Kanan Yogyakarta, dimana abdi dalem main tambur untuk Pisowanan Ageng, Grebeg Maulud atau ngunduh mantu putri Kerajaan yang berjodoh dengan anak Raja lain daerah.

Dan masih banyak fakta lain…

Semua yang tersebut tadi adalah perkusi Indonesia yang “nyaris urban”, “nyaris hibrida”, “nyaris tidak murni”, tetapi khas dan beda dengan Negara lain. Itu bukan tradisi, tapi sebuah akal-akalan sedemikian rupa yang tidak terlalu terbebani logika-logika tradisional yang ewuh-pekewuh atau adiluhung, harus dirawat, dilestarikan, dijamasi setiap malam jumat kliwon, atau disusun rapi tidak boleh dilangkahi. Sakral, kata antropolog Mercia Elliade.

Sudah tentu, ini belum yang tradisi yang semua entri A sampai Z bisa terisi? Jawa, Sunda, Banyuwangi, Bali, Sumatra, Kalimantan, Makassar, Papua, Nias, Flores, Maluku, Ternate, Jidor, Kromong, Bedug, Talempong, Taganing, Gondang, Ceng-ceng, Ciblonan, Wilet, Dodogan, Gong ganjur, dan gong dalam banyak sebutan, gong, o’gong, ogung, go’ong, dan seterusnya. Berapa banyak macamnya? Semua perkusif.

Pertanyaannya: Apakah kita kuasa untuk memberikan konsepsi tunggal tentang perkusi? Kuatkah otak kita untuk menampung kekayaan yang menarik minat penjajah zaman dulu dan sekarang? Beranikah Total Perkusi untuk bikin tur perkusi keliling semua daerah di Indonesia, capeknya jauh melebihi keliling Eropa.

Perkusi sungguh peradaban yang ajaib. Dan jangan-jangan dunia gaib juga begitu, lepas dari sekat sosiologi-politik dan derajat frekuensinya memiliki kadar perkusi ritmikal dan ngeses tingkat bisik-bisik, seperti mantra doa, hanya gaib yang mafhum terhadapnya. Masya Allah, goyangnya bokong ritmikal Jaipongan apakah juga termasuk perkusikah? Gebrakan kakinya penari striptis yang terbit tiap jam dua dini hari? Es dong-dong? Telur busuknya Wayan Sadra almarhum yang dilempar ke lempeng panas… cuahhh….cuaahhhhh….cuahhhhh…. begitu bunyinya.

Sekali lagi saya ingin menegaskan, setidaknya supaya pikiran saya juga tidak lari kemana-mana, bahwa perkusi dan konsepsi kita tentang perkusi adalah dua hal yang wajib kita pahami dengan sungguh-sungguh, terutama oleh para pemula yang baru akan menerjuni dunia antah-berantah tak terhitung bernama perkusi. Perkusi adalah karena hati kita yang tulus bekerja, atau suatu aturan main dalam logika konsepsi yang definitif?

Kita bisa merenung sejenak untuk ini, sebelum menyinggung masalah transformasi dan adaptasi perkusi dari dekade 1950-an hingga saat ini, juga tentang fenomena perkusi dunia dalam kerangka world music yang sangat populer di banyak tempat, tak terkecuali Indonesia. Juga tentang tiruan teknologi virtual perkusi, gamelan elektronik dan seterusnya. Uakeeehhheeee reeeek…. Saya nembang dulu.

Lagon:

Santiswaran iku arane,

Sang Hyang muni rupa lan bentuk e,

Malaikat lan para sing ngawal,

Wis mersudi, njunjung kaluhuran.

Bab II.

Strategi dan mekanisme pengembangan perkusi

Jika Tony Maryana, “Bapak Djembe Jogjakarta” ini, berpesan pada saya untuk ngomong soal transformasi dan adaptasi, saya malah menganggap itu omong-kosong belaka. Itu hanya sulapan para antropolog pada awalnya yang ngecuprus soal teori perubahan, yang lalu diadaptasi oleh musikolog, etnomusikolog, dan para peneliti musik, atau yang kebingungan mencari bahan apa yang mau diteliti untuk skripsi, tesis, bahkan disertasi doktoral, atau sekedar laporan penelitian untuk meningkatkan poin mendongkrak kenaikan golongan bagi Pegawai Negri.

Transformasi dan adaptasi sesungguhnya tak pernah ada dalam sejarah perkusi yang sesungguhnya, yang ada hanyalah rekayasa ide, permainan otak-atik gathuk, sehingga perkusi muncul dalam rupa-rupa bentuknya, seperti yang juga termuat pada relief-relief candi Hindia Kuno.

Memang, soal transformasi dan adaptasi ini agaknya lebih populer di mata orang perkusi. Semenjak maklumat Marshall McLuhan yang mengatakan the medium is the message, sebetulnya perkara ini sudah kurang populer. Sedikit paralel kurun waktunya dengan munculnya fluxus dan dadaisme pada wilayah pop art, ditambah seni abstrak seperti happening art, yang secara gamblang melegalkan apa yang disebut transformasi dalam pengertian normatifnya sebagai perubahan bentuk, sifat, dan fungsi.

Makanya, dalam musik, gong bisa diseret-seret sesukanya, Jody Diamond menabuh bonang secara terbalik, serta Lou Harrison menabuh gamelan sesuai kehendaknya. Djembe mau kita banting dan kita siram air kembang supaya menghasilkan bunyi ya sah-sah saja. Panci yang dipukul itu juga transformasi karena merubah fungsinya dari untuk nggodog tela jadi untuk bikin nggondog atau jengkel ibu.

Transformasi adalah sejarah yang panjang dalam perkusi, terutama karena tiga sebab utama. Pertama, peningkatan akal-budi manusia, kedua, perubahan zaman, dan ketiga, sebab geo-politik dunia dan terbukanya kran dagang ekspor-impor lalu-lintas kapal zaman dulu, dan kontainer lintas-perdagangan industri modern.

Misalnya instrumen Tabla, bisa kita temukan dimana-mana, meskipun teknik mainnya berkiblat India, tetapi jodohnya bisa flute Barat dan saluang Padang ditambah bas listrik untuk main komposisi sendiri, dan tidak harus terikat pada hukum-hukum musik karnatik, dandiya, atau uttarakhandi sebagai tradisi India. Rhythms Meeting, bertemunya musisi dari Swiss, Korea, Prancis, dengan Djaduk Ferianto di Yayasan Bagong Kussudiarja, sama-sama bisa berkomunikasi musikal.

Inilah yang disebut transformasi idiomatik, dimana pengertian mendasarnya adalah perjodohan subsidi-silang dan pembebasan fungsi-fungsi dasar dari tiap instrumen, untuk bisa digunakan secara fleksibel di berbagai ruang dan kondisi. Ada pula yang disebut sebagai transformasi medium, seperti kita melihat selo keroncong yang dimainkan secara ditamplek menyerupai kendang. Tetapi titik pentingnya dari semua ini bisa kita telusur setidaknya mulai dari dekade 50-an, yang nanti akan saya singgung sedikit tentang penyebaran rhythm-rhythm universal.

Lalu yang kemudian, soal adaptasi. Adaptasi adalah perpanjangan dari apa yang disebut transformasi, yang sebelumnya semua itu wajib melewati apa yang disebut transmisi. Adaptasi dalam pengertian normatifnya adalah “penyesuaian.” Beradaptasi dengan lingkungan berarti menyesuaikan diri dengan situasi, cara hidup, jenis makanan, dan seterusnya. Gigin, seorang pemain kendang, konon siap ditanggap pemusik dari genre apapun. Dia yakin, kendang bisa masuk ke sana. Biasanya, hampir setiap tahun muncul skripsi-skripsi perkusi dengan judul seperti ini: adaptasi rhythm ini-itu pada drum-set. Medium berubah, teknik berubah, bunyi berubah—tanpa merubah sifat dasar idiomatik dan fungsi dari medium masing-masing (tetap sebagai instrumen), dan ini sangat berbeda dengan transformasi.

Nah, apa perlunya kita ngomong soal transformasi dan adaptasi ini? Teori perubahan? Etnografi lingkungan? Dasar-dasar Antropologi Budaya? Musikologi? Etnomusikologi? Psikologi Pembangunan Perasaan Manusia? Politik Hukum? Atau perkusi abdomen? Sebuah tindakan klinis yang mempelajari bunyi krucuk-krucuk di dalam rongga-rongga tubuh untuk mengetahui apakah ada hambatan serius di dalam tubuh.

Jantung kita terus beradaptasi setiap hari, yang dalam dokumenter Stomp Out Loud buatan HBO sudah dijelaskan secara metafor. Konon, jantung adalah cikal bakal pulse, yang lalu jadi beat atau ketukan, dan secara kompleks diisi ritme-ritme. Musik jelas sebuah tiruan dari kronik biologis manusia. Perkusi alamiah beradaptasi dengan cara memanggil otak kiri untuk menghitung 1-2-3, mengajak otak-kanan untuk merasakan betul-betul sensasinya, dan mengajak hati untuk menjunjung tinggi kaidah Rasa, yang dalam Jawa maknanya Rasa Jati, dimana kemahiran yang sesungguhnya bukan lagi teknis yang melampaui seratus grade, tetapi ketika kita berhasil beradaptasi kepada Yang Maha Kuasa, memelihara keikhlasan yang kita refleksikan di atas tadi. Rasa dalam musik India juga memiliki tujuh tingkatan. Ini semua proses adaptasi non-teknikal yang dahsyat bukan main.

Nah, apa pentingnya membongkar sesuatu yang sudah mapan dalam kodrat terminologinya? Kadang-kadang ini adalah ulah kita sendiri, yang kadung terperangkap dalam konsepsi akademik dan makin jauh dari rasa tulus kenapa harus bermain perkusi. Kadang-kadang, teman yang sudah jauh senior daripada saya mengeluh, tidak bangga dan percaya diri: “Wah, sekarang aku kesulitan main, temponya lari, ambyar, ritmisnya kecontalan, mati rasa, mati obsesi, tone color-nya jauh dari pulen seperti beras nDelanggu.” Ini sebuah gejala yang harus diatasi dulu sebelum penyakit, makanya muncul gejala flu sebelum kita dinyatakan flu. Muncul demam sebelum malaria.

Sebelum lebih jauh lagi menyinggung perkusi dan kebudayaan serta soal-soal yang berhubungan dengan kultur perkusi dalam arti habit atau perilaku musikal dan dialog antar kebudayaan dalam world music, sedikit saya akan menyinggung komunitas perkusi sebagai sebuah strategi. Ini penting untuk saya sampaikan. Sekali lagi: Penting! Tidak bisa diperoleh di kampus tempat kita sekolah.

Apa itu yang disebut komunitas? Komunitas berbeda dengan komunis, tapi prinsipnya sama, yaitu sama-sama kumpul untuk tujuan tertentu. Asalnya dari kata komunal, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia JS Badudu diartikan sebagai: milik rakyat atau umum. Tapi komunitas jelas berbeda watak dengan komunis, yang fahamnya mengekor Karl Marx atau Mao Zedong, memperjuangkan hak buruh, memperjuangkan kesetaraan dan demokrasi. Diikuti Tan Malaka, Pramoedya, atau aktivis Munir yang terbunuh.

Komunitas, seperti Total Perkusi ini tidak berhubungan dengan masalah vertikal atau perlawanan terhadap kebijakan industrial negara, seperti melawan bom mobil murah yang sampai Februari 2014 sudah sold-out dipesan para OKB: Orang Kaya Baru. Boediono wakil presiden melawan Jokowi gubernur. Hasilnya? “Sudahlah, jangan halangi orang beli mobil.” Rakyat kere menolak, pedagang asongan dan pejalan kaki makin terancam diserempet. Hidup mereka makin direstui oleh teror humanisme. Komunitas perkusi semoga lebih tangguh mengurusi kemuliaan manusia, daripada perut sendiri, dan komunitas sudah menjadi takdirnya menjadi milik rakyat atau umum. Jadi, bebaskan segalanya tanpa terikat tendensi kontra-produktif yang membebani.

Bagas, Manajer Total Perkusi, pernah curhat pada saya. Bahwa selama ini ia masih dibayang-bayangi bahwa “Total Perkusi” identik Djembe, bahkan ada pula yang menganggap Total Perkusi sebagai kelompok musik seperti band Wali karena Total Perkusi sering meng-upload foto-foto pentas di sana-sini. Stigma bisa macam-macam rupanya. Tapi janganlah dipikir. Bagas yang sedang studi S-2 manajemen seni saya yakin bisa mengatasi kegalauan ini.

Komunitas musik yang sesungguhnya bukan dalam wujudnya sebagai sebuah kelompok. Kita-kita yang tergabung dalam komunitas di daerah masing-masing sedang memperjuangkan apa yang dinamakan strategi. Maknanya ada dua yang penting untuk digarisbawahi. Pertama, strategi pribadi, yaitu merawat kecintaan akan perkusi dengan kesadaran teknik, sejarah dan falsafah. Kedua, strategi sosial, dimana para pengurus inti dan pendukung komunitas ini harus mampu mewadahi animo masyarakat dan membongkar bakat-bakat terpendam masyarakat sehingga mereka bisa percaya diri bahwa kodrat DNA masing-masing orang itu sebetulnya sudah perkusif, tapi itu jarang diketahui. Jadi, ini adalah tugas yang cukup berat, yaitu menjadikannya jembatan menuju kemuliaan banyak orang.

Main perkusi di area publik sangat bagus sebagai sebuah rumus “algoritma sosial” untuk menghitung dan mencocokkan pelan-pelan, apakah benar komunitas perkusi punya pendukung apresiatif yang matching dengan misi-misi penggagasnya, ada sisi lain selain hiburan, yang kodratnya perkusi bergemuruh gampang memancing awam untuk mendekat. Pelan-pelan, jika perlu, mungkin kita bisa tanya ke mereka, apa kebutuhan awam akan perkusi?

Oleh sebab itu, riset sangatlah penting. Bukan riset ilmiah. Bahasa orang Samin yang kepercayaannya Kejawen riset adalah laku, melek bengi, itu riset alamiah, dimana keterjagaan dan kewaspadaan menjadi kunci utama. Merenungi segala peristiwa, sambil berkontemplasi untuk memanggil inspirasi dan menerima wahyu. Makanya ide seringkali datang pada jam 1 dinihari hingga imsak, karena frekuensi alam raya yang hening mendukung masuknya gelombang-gelombang terkonsentrasi.

Riset bagi para komunitas bukan seperti riset ilmiah para ahli, tetapi sebuah upaya untuk menjaga daya-pikat sosial terhadap nilai dan makna yang bisa dihadirkan melalui perkusi yang sudah tentu lebih dari sekadar hapalan atas rhythm djembe seperti djagbe, yangkadi-makru, marakadon, moribayasa, soli, kuku, sorsonet, dan seterusnya, atau pola-pola ritmis irama dunia lain seperti latin, yang akan kita pelajari bersama.

Nah, sampai di sini semoga kita bisa lebih jelas memahami, betapa kompleksnya perkusi dan kaidah-kaidah yang menyertainya. Sungguh, cerita panjang tentang perkusi telah bertransformasi dan beradaptasi secara besar-besaran, seperti imigrasi burung merpati dari satu benua ke benua lain, melampaui batas-batas geografi, karena sekali lagi, perkusi bisa memanggil Roh, mesra dengan jagad metafisika karena multi-frekuensi yang bisa dihasilkannya.

Persoalan strategi pengembangan perkusi ini, saya kira, juga harus didukung adanya Sumber Daya yang cukup, baik dari lingkungan hobi, akademik, pendidik, maupun yang terbebas dari itu, dengan sama-sama memiliki kualitas militansi mandiri dan sanggup bertahan tanpa terus-menerus bergantung proyek.

Kadang-kadang saya bertanya, apakah cukup seorang perkusionis hanya terampil jari-jarinya dan melalap habis banyak rudiment. Bahwa seampuh-ampuh apapun skill saudara sekalian, tetap tidak bisa hidup tanpa adanya networking kebudayaan yang kita bangun sedari dini.

Tetapi faktanya, sebetulnya banyak juga yang sudah berhasil melampaui teori ini. Contohnya proses kreatifnya Mas Denny Dumbo ini, yang sangat Indonesia, khas, mandiri, bertahan walau tidak punya gelar S.Sn atau nomor induk pegawai. Kesenian hidup bukan karena setting industri akademis dan dengan tergopoh-gopoh kita menerima begitu saja. Tetapi, kesenian, sekali lagi, adalah sebuah kesadaran untuk saling berdialog.

Seni, seperti nasihat Romo Dick Hartoko (alm.) dalam buku legendarisnya “Manusia dan Seni”, adalah sarana untuk mencapai derajat rohani, tentang kejiwaan yang dipelihara dengan rasa indah, saling menghormati, penuh makna, dan inilah yang bisa secara otak-atik kita tafsirkan sebagai manunggaling kawula (lan) seni, bersatunya kita dan seni. Masyarakat yang memiliki seni berarti memiliki keindahan, kedamaian, kejujuran dan ketulusan. Sangat tidak disarankan oleh lembaran sejarah ataupun Sultan Agung bahwa seni bisa dipakai untuk korupsi atau berbuat jahat. Dosa besar hukumnya. Kuwalat, jare wong Jawa. Ini teori lama, tapi ingin saya kemukakan kembali kepada saudara sekalian.

Tidak mengherankan pula, bahwa kombinasi multi-rasial yang ada di Nusantara ini akan makin menyadarkan kita untuk tidak sanksi lagi dengan hipotesis yang saya kemukakan di awal pidato ini, bahwa Indonesia sangat geniune dengan banyak ragam perkusinya, dan semua ini tinggal soal bagaimana mengelola dan menciptakan inovasinya. Kita pun senantiasa berkesempatan menggaulinya satu-persatu hingga ke ujung-ujung, dan ini lebih dari cukup untuk bicara kepada forum dunia, tentang apa saja kekuatan perkusi Indonesia.

Pertanyaannya kemudian, siapa yang berkewajiban meneliti dan memetakan kekuatan itu? Apakah Pemerintah dan Taman Budayanya? Bukan, ini adalah tugas kita sendiri, Masyarakat Perkusi Indonesia, yang bisa disingkat menjadi MPI, bukan FPI. Hanya individu yang tulus dan komunitas yang bisa menyebarkan niat baik ini.

Marilah di forum langka ini, kita bahu-membahu, tidak hanya jam session saja, tetapi mengatur sebuah strategi, minimal bagaimana usaha untuk membentuk plat-form ekosistem yang jelas, antara perkusi, perkusionis, masyarakat, seniman pembuat karyanya, sponsor dan investor, ruang seni, dan sektor-sektor lain yang berhubungan.

***

Bab III

Perkusi Indonesia dan kiblat kebudayaannya

Sudah tentu, dari sekian perspektif yang muncul mengenai perkusi, pembaharuan teknik-tekniknya, serta upaya organologis yang mandiri khas Indonesia, perkusi masih menghadapi banyak tantangan dalam upaya melihat ke arah mana tujuan kebudayaannya. Sejauh saya tahu, belum ada satupun pemikiran serius semacam ini yang menguraikan bagaimana perkusi Indonesia harus mengambil peran penting dalam kebudayaan manusia. Maka, tugas saya ini tergolong sulit. Dan Tony sebagai ketua program telah berhasil menjebak saya. Tetapi saya berterima-kasih, karena dari sini saya bisa ikut belajar, setidaknya dimulai dengan pemetaan dasar menyambung diaspora perkusi di Indonesia.

Salah-satu pemikiran teknis yang masih saya ingat, kira-kira pada awal tahun 2007, Tony Maryana menulis tentang bagaimana membangun ansambel perkusi yang seimbang. Itupun saya “terpaksa” memuatnya karena saya kepala redaksinya, dan Tony adalah senior yang sangat saya hormati. Ini penting juga bagi kita semua, sebelum memperdalam hakikat kebudayaan, sebaiknya yang teknis dan kaidah ensambleship dirampungi dulu sewajarnya, tidak harus dalam tingkatan mahir.

Tony bagus sekali, ngomong bagaimana memilih literatur untuk ansambel perkusi. Jadi, alurnya, dari individu, bermain bersama, memilih repertoar, mempertimbangkan penonton, membandingkan karya satu dengan yang lain, evaluasi, dan terakhir menyeleksi sesuai kebudayaan dan asal-usul yang pas. Dahsyat pokoknya, tidak ada yang menandingi pikiran Tony. Dosen perkusi ISI lewat jauh. Dalam kebudayaan, banyaklah yang harus kita pikir. Individu, grup, penonton, apresiasi, dan seterusnya. Soal ekosistem tadi. Terutama idenya.

Pertanyaan kemudian sangat sederhana: puncak dari segala aktivitas budaya perkusi yang berdiaspora secara amat banyak di Indonesia ini nantinya akan menghasilkan apa? Cukupkah sekadar dokumentasi foto-foto, audio, video, yang bisa diunggah secara mudah di facebook atau situs komunitas? Apakah akan menghasilkan teori-teori baru di bidang ilmu perkusi atau organologi? Apakah akan menghasilkan Laboratorium Perkusi Indonesia yang tidak hanya menampung benda mati layaknya museum, tetapi semua aktivitas di dalamnya akan hidup, yaitu kegiatan riset terkini tentang perkusi, seperti halnya laboratorium biologi, yang bekerja dengan mikroskop untuk memantau kehidupan bakteri zaman modern? Atau, kita akan menghasilkan album-album musik perkusi dari A-Z untuk ditawarkan ke label Major? Atau Ensiklopedi Perkusi, yang sedang ditulis Natha H.P. Dwi Putra? Akan menghasilkan warisan apa dari semua aktivitas ini untuk anak-cucu kita nanti?

Kalau belum ada jawaban yang jelas, bisa dikatakan bahwa kita belum memahami hakikat ber-kebudaya-an dalam arti yang sesungguhnya, karena kebudayaan adalah akal-budi manusia yang senantiasa berpikir kemana harus pergi dan kemana harus hidup, mempertahankan generasi. Budaya, budi dan daya, kekuatan budi, pikiran, ilmu, knowledge, culture, kultura—hanya bisa lahir atas falsafah dan dorongan untuk menciptakan perubahan dengan cara pandang baru, lebih dari sekadar mengikuti apa yang sudah mapan dan establish, atau ikut arus. Dan ingat, peluang ini hanya dimiliki oleh anak muda kisaran 20-an sampai 40 tahun. Pada usia paling produktif itulah perubahan-perubahan besar selalu diciptakan, di bidang apapun.

Maka dari itu, jika kita masih nanggung tidak total seperti pahlawan revolusi Moamar Kadafi, Mahatma Gandhi, Che Guevara, dan seterusnya, kita hanya akan menjadi bulan-bulanan masyarakat, tanpa peduli bahwa perkusi sebetulnya punya peluang menghasilkan nilai kebudayaan yang lebih dahsyat dari sekadar main pukul-pukul secara regular di pusat keramaian publik. Alat musik lain tidak bisa melakukannya, gitar tidak bisa, suling tidak bisa, dan yang lain-lain tidak bisa. Hanya perkusi.

Rasanya perlu untuk mencari apa yang saya sebut sebagai kiblat kebudayaan? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab sekarang, tetapi selama beberapa hari dalam kegiatan ini, setidaknya kita akan punya fokus refleksi yang lebih mendalam lagi, mulai pelan-pelan mencari benang merah keterhubungan antara teknis, sejarah, falsafah, dan memutuskan masa depan kita sendiri, seperti yang pernah diperjuangkan Ki Hadjar Dewantara melalui padepokan Taman Siswa dan pemikiran nasionalismenya meskipun pada akhirnya itu kalah oleh globalisasi.

World Music dan Tren Perkusi Dunia

Kita akan beralih sebentar ke soal world music (musik dunia), dan tren perkusi dunia saat ini. Terlalu luas, kita semua tahu. Merenungi perkusi Indonesia saja saya jadi kurang tidur selama menulis risalah pemikiran ini. Prof. Vincent McDermott juga bilang, musik klasik itu musik dunia. Gamelan itu klasik, gamelan itu world music, ada di mana-mana. Kompleks dan sangat rumit untuk kita pelajari satu-persatu runtutannya.

Tetapi, Michael Bakan, dalam bukunya yang berjudul World Music: Traditions and Transformation yang terbit 2011 mempunyai pandangan yang sangat mudah dipahami, sehingga kita akan dengan mudah mencermati gejala yang paling update muncul di seantero jagad raya. Mudah-mudahan di antara kita ada yang pernah membacanya, atau setidaknya melihat covernya.

World Music adalah salah satu buah dari diaspora yang begitu besar melanda dunia selama setidaknya limapuluh tahun terakhir. World Music adalah karung besar dimana perkusi (sangat) bisa ikut ambil bagian. Diaspora oleh Afrika pada dekade 50 sampai 60-an misalnya, yang dibidani oleh para budak yang berasimilasi di banyak tempat, telah berhasil membawa misi komunitas dan budayanya ke benua Amerika dan kemudian disusul Eropa, lantas Asia, lantas saat ini menjadi bahasa universal.

Musik blues dengan blue note hanyalah sebagian kecil yang kita tahu. Selebihnya, mereka telah berhasil membangun komunitas di Brazil, hingga kita mengenal hibrida Samba. Mereka membangun komunitas di Cuba, lalu kita mengenal Rumba. Lalu itu semua digiring ke jazz, masuk ke Inggris, Prancis, bahkan muncul juga album bossanova Jawa di Surakarta yang sudah sampai seri ke-3. Inilah wujud asimilasi kebudayaan musik yang berhasil. Afrika memegang peran penting untuk kasus ini. Turki juga pemasok budaya perkusi yang khusus, hingga kita mengenal drum-set.

Sama berhasilnya ketika orang Portugis mempengaruhi bangsa-bangsa di sudut timur. Dan hingga kini, sudah kodratnya orang Minahasa, Manado, Flores, Ambon, Maluku, sudah tertanam bibit-bibit nyanyi yang bagus sejak lahir, karena gen dan DNA-nya dikaruniai warisan kepemimpinan rohani dan musikal yang luar biasa dari Fransiscus Xaverius, tentang ilmu dagang dan nyanyian katolik yang diturunkan hingga ke pelosok kabupaten dan kecamatan. Indonesia baru ketiban tren world music ini dan salah-satunya langsung kecangkok di musik jazz-world music hibrdia Pra-Budi Dharma dan Dwiki Dharmawan bersama Krakatau, yang mencoba-coba pada waktu itu, tahun 80-an, mendialogkan kendang, suling, bonang, dan rebana untuk berpadu dengan suara kecil Trie Utami, alat band, dan arppegio piano dari tuts paling kiri hingga ujung kanan.

Lalu melompat ke dekade 2000-an, tren world music dengan bumbu pop, jazz, etnik, contemporary, dan progresif di Indonesia luar biasa bertumbuh. Kita bisa sebutkan beberapa contoh saja: Kua Etnika, Anane, Suarasama, Samba Sunda, Balawan Etnik Fusion, Saharadja, Gangsadewa, Sono Seni, Mellaca Ansambel, Atmoschestra, dan masih banyak lainnya.

Mereka-mereka ini saban harinya suka mengkoleksi berbagai instrumen dari mana-mana, untuk sekadar dicoba disilangkan dengan alat yang sudah mapan lainnya. Mereka hobi mengkoleksi ingatan idiomatik akan irama dunia tertentu. Dan world music sama halnya dengan demokrasi bunyi yang sama-sekali tidak butuh teori kecuali bahasa musikal antara satu dengan lainnya. Nah, Indonesia sangat lebih dari sekadar punya peluang untuk berada pada wilayah ini. Banyak sekali forum dunia yang menempatkan world music sebagai judul. Kita ingat WOMAD (World of Music, Arts, and Dance) yang riuhnya seperti Woodstock. Wolrd Music menjadi salah satu kesempatan emas bagi kita, seperti dalam politik ada PBB atau perserikatan bangsa-bangsa, dan dalam perkusi juga ada PBB = Perkusi Bangsa-Bangsa.

Tetapi, go international seperti Agnes Monica bukanlah puncak dari segala aktivitas kita. World music sebagai sebuah bahasa universal silaturahmi budaya saat ini hanyalah sekadar apa yang disebut dengan melting-pot, ruang kumpul budaya, sama hebohnya ketika New Orleans menjadi tempat kumpulnya Louis Amstrong dan kawan-kawan. Prinsipnya, kita akan terus menerus mencari ruang hidup kita sendiri, yang sebetulnya tidak bisa dibatasi oleh kelokalan, regional, nasional, internasional, dan seterusnya.

Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,

Yang kita simak panjang lebar di atas belumlah menyinggung soal apa yang paling baru kita istilahkan dengan digitalisasi, yang berasal dari bahasa Yunani digitus, artinya “jari-jemari”, yang terselenggara atas hitung-hitungan, dukungan buah ilmu matematika dan algoritma, serta kode-kode bahasa komputer, 0 dan 1 yang disebut biner, lalu jadi C-Sound, Pure Data, MAX/ MSP, dan open source lain. Gampangnya, tidak usah mumet-mumet, sebut saja dengan istilah perkusi elektronik, electronic drum and percussion instruments yang dikembangkan oleh banyak produsen teknologi abad modern. Bunyinya macam-macam, ada yang sudah template dan ada juga yang harus kita buat sendiri dengan cara sampling. Kita bisa membelinya di toko musik terdekat di kota kita. Ini diaspora perkusi terbesar di zaman industri berbasis truk kontener.

Bahkan, yang terbaru, ada penelitian soal digitalisasi gamelan dan penyebaran Islam Jawa menggunakan algoritma Back Propagation Artificial Neural Network. Wah opo meneh kuwi

Juga ada kisah tentang Joko Triyono, guru kesenian di Kebumen, yang karena ingin sekali melihat muridnya bisa main gamelan tapi seperangkat gamelan di sekolahnya sudah jebol, maka ia membuat aplikasi gamelan digital menggunakan adobe flash. Alhasil, atas usahanya membuat remaja lebih jatuh cinta pada gamelan dibanding televisi ini berbuah penghargaan dari Direktorat Hak Atas Kekayaan Intelektual dan Museum Rekor Indonesia.

Imbas lain lagi, belum kita singgung yang berbau disco-disco di remang-remang, produsen Numark misalnya, membuat equipment DJ berharga murah, dan semakin banyak diburu untuk keperluan dugem atau kolaborasi musik elektronik industri paling mutakhir. Dan sederet pembaruan teknologi terkini lainnya.

Nah, kita sudah lebih jelas mengetahui, ternyata banyak sekali yang bisa kita gali dari perkusi. Yang saya kemukakan di atas barulah sejengkal dari langkah kita. Masih perlu diteruskan dan dimediasi oleh berbagai lini. Tak akan cukup melalui forum yang hanya berjalan singkat ini.

Yang jelas dibutuhkan, sekali lagi, selain kesadaran teknik, adalah kesadaran sejarah, falsafah, kebudayaan, serta pelan-pelan mencari cara untuk menentukan masa depan kita bersama, masa depan perkusi Indonesia. Kadang-kadang ini kurang diperhatikan, dan sekaranglah saatnya untuk memulai semua.

Sebagai penutup, saya berkewajiban untuk menyampaikan terima-kasih dan mohon maaf yang besar kepada seluruh yang hadir menyimak pidato dan aksi perkusi ngawur saya ini, kepada Total Perkusi yang baru saja memulai sebuah peristiwa langka yang akan bergulir lebih panjang ke depan, dan kepada semua pihak yang mendukung perkusi Indonesia supaya diridhoi tugasnya oleh Yang Maha Seni, Allah SWT.

Amin.

(Pidato Musikal ini telah dibaca-pentaskan di acara Kemah Total Perkusi di Bangunjiwo, 2013 silam. Telah dimuat juga di buku saya SMS #2/Memahami Musik dan Rupa-rupa Ilmunya, 2014).

Mengapa Kita Malas Membaca dan Lebih Suka Bermain Musik?

Sudah tidak terhitung, berapa banyak teman, kenalan, kolega, dan lain-lain, yang curhat ke saya kurang-lebih begini:

“Aku kok males baca buku, ya? Sumpah males banget!”

Kepada yang mulia para curhater-curhatis, jawabanku sesederhana ini:

“Kalian kan sudah jago main musik, dan waktumu sudah habis banyak untuk latihan dan pentas-pentas, mana sempat membaca? Membaca itu kan butuh waktu, konsentrasi, keheningan, dan seterusnya. Pasti kalau baca baru 1-2 halaman sudah ngantuk, kan? Lalu pilih pegang HP, instagraman, YouTube, cek status WA teman, dll. Ketiduran deh…”

“Yes, bener! Bener banget! 100%!”

Begitulah. Aktivitas membaca, khususnya untuk kehidupan di dunia musik yang serba gedumbreng-gedumbreng dan sound system, memang masih menjadi kegiatan yang minoristik (kayaknya ini diksi aneh, ya? Minoristik. Setelah cek tidak ada di KBBI ternyata). Mbuh, spontan saja nulisnya tadi. Tapi maknanya paham, kan?

Oke.

Nah, itulah. Kalau mau jujur, saya juga lebih seneng main musik ketimbang memelotiti halaman demi halaman, teks demi teks, merangkum, mengambil inti-sari, menulis, berdiskusi, berdebat, dikritik, dibenci, dijatuhkan—yang semua itu berkaitan dengan segala aktivitas membaca (dan kemudian orientasi menulis) yang sudah belasan tahun saya lakukan. Sejujurnya lagi, saya lebih seneng garap musik, komposisi, manggung (anti-grogi), punya fans layaknya Sheila on 7, dan kegiatan yang serba praktis-praktis lainnya.

Membaca itu memang butuh niat, lebih tepatnya memahami apa orientasi kita setelah membaca. Jadi, penyebab utama malas membaca adalah, ya itu tadi, kita tak pernah tahu apa orientasi kita setelah membaca.

Sesederhana kita makan dan minum. Makan-makanan sehat orientasinya agar tubuh juga ikut sehat. Minum air putih hangat tiap bangun pagi agar sirkulasi darah lebih baik. Kalau baca buku, apa kira-kira orientasinya? Agar main musik makin jago? Nggak. Agar pengetahuan makin luas? Belum tentu. Disuruh dosen demi menyelesaikan tugas-tugas kuliah? Mungkin. Tapi apakah kamu ingat semua substansi yang kamu baca setelah mengumpul tugas? Mmm.. nggak juga, karena rata-rata kamu cuma copy paste aja, dan setelah itu kebanyakan lupa!

Itu sebab yang pertama: nihil orientasi. Kita tak tahu, untuk apa kita membaca.

Lalu sebab yang kedua adalah: memang tidak ada waktu atau tidak mau mengkhususkan waktu untuk membaca. Membaca atau tidak itu memang hak prerogratif setiap ummat musikus. Hmm, jangankan gitaris, drummer, vokalis, dan lain-lain yang sehari-harinya memang main musik. Anak-anak kuliahan musik saja (khususnya S1 ya) juga banyak yang malas membaca, lebih suka main musik dan nongki ke kafe bareng temen-temen.

Kalimat “tidak ada waktu”, menurut saya adalah klaim terhadap diri sendiri—yang secara transparan sebetulnya itu suatu ke-engganan karena kita tidak pernah sengaja “meng-ada-kan waktu” untuk membaca, atau memaksakan sekian durasi waktu agar kita khususkan untuk membaca.

Jadi sebab kedua adalah: tidak ada niat mengkhususkan waktu untuk membaca. Entah itu sejam, bahkan cuma 30 menit saja setiap hari.

Sebab ketiga, kamu tidak punya teman atau siapa pun itu, yang menyemangatimu agar mau membaca. Ini penting ga penting juga, sih. Penting karena sejujurnya hidup kita selalu butuh teman yang bersedia menyemangati, untuk banyak hal, kehidupan keluarga, cinta, karir, termasuk membaca. Karena tidak ada yang jadi “satpam”, dan lingkungan kita adalah orang-orang yang juga malas membaca, maka kita pun jadi ketularan malas. Kalau mau memulai membiasakan diri untuk membaca buku, dekatilah orang-orang yang gemar membaca, yang saban hari berselimut dan mandi bersabun buku-buku.

Sebab keempat. Dunia musik pada umumnya memang lebih banyak menguras “motorik dan afektif.” Lebih banyak menyedot otot-otot dan feeling. Kalaupun ada sisi-sisi kognitif yang kita pakai untuk bermain musik (contohnya menghitung, menghafal, mengandai-andai ide-ide musikal), membaca adalah aktivitas yang bisa dilakukan “sambil jalan”—seolah jadi nggak perlu-perlu amat. Dan kita sudah kadung punya klaim juga, bahwa membaca buku-buku tidak akan meningkatkan keterampilan motorik dan afektif itu. Sampai di sini, apa sebetulnya implikasi dari kegiatan membaca kita untuk aktivitas musik yang lebih banyak senam otot dan intuitif itu?

Menurut saya—ini pandangan subjektif saja—implikasinya adalah terciptanya kontrol terhadap seluruh aktivitas musikal kita. Maksudnya? Kita jadi tahu batas-batas, punya porsi, tidak lebay, dan selalu bisa mengukur segala fungsi dan peran kita sebagai musikus, baik secara individual maupun ketika bekerjasama dengan kelompok. Dan, kalau diajak berdiskusi dengan teman se-band atau sekomunitas, kita jadi punya jawaban-jawaban yang menarik dan tidak hanya pada ukuran-ukuran emosional saja. Seringkali, karena minimnya wawasan, kita main musik juga jadi serba ngegas begitu saja, lupa diri bahwa kita sedang berinteraksi dengan banyak orang. Lalu pengetahuan seperti apa yang kita baca? Tidak ada saran pasti, ini sangat tergantung kebutuhan kita pada teritori di mana kita berada dan bekerja.

Btw, apakah harus buku-buku musik yang kita baca? Tidak. Justru sangat tidak disarankan bahwa kita mempersempit pikiran kita sendiri dengan hanya membaca tentang musik saja. Almarhum penyanyi David Bowie adalah seorang kutu buku dengan bacaan-bacaan yang bervariasi, mulai dari novel hingga buku-buku filsafat. Di Indonesia, Cholil Mahmud dari band Efek Rumah Kaca, juga seorang kutu buku, sampai-sampai beliau dan kawan-kawan punya kolektif Kios Ojo Keos di Jakarta yang membaca dan menjual buku-buku sekaligus mendukung pertumbuhan kreatif dengan berbagai cara yang mandiri dan tangguh.

Didolani Etnomusikolog Kondang Pak Philip Yampolsky. Istri Beliau Ternyata Temannya Ibuku di SD Santa Maria Solo Angkatan 60-an

Saya bersama Pak Philip, sosok yang menginspirasi sejak aku kuliah dulu.

Masih dalam suasana Lebaran 2019, minggu pertama di bulan Juni itu, Pak Philip Yampolsky bersama istrinya, bu Tinuk, berkunjung ke gubuk saya. Pak Philip adalah etnomusikolog kondang se-jagat raya. Beliau punya fokus dominan untuk meneliti musik-musik Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Hasil risetnya yang terkenal, yang dikerjakan bersama tim, adalah Seri Musik Indonesia, rekaman 20 CD Audio “Music of Indonesia” terbitan Smithsonian Folkways. Rekaman ini banyak dipakai menjadi rujukan berharga untuk penelitian tentang musik Indonesia sesudahnya.

Siapa yang tidak senang kedatangan sosok ini, dalam suasana yang akrab dan intim. Pak Philip dan Bu Tinuk kubuatkan teh hangat dan kujamu dengan Kue Monde butter yang khas itu. Pak Philip bercerita banyak tentang proyek penelitiannya di Pulau Timor, yang saat ini tengah ia kerjakan. Kami ngobrol hampir 2 jam.

Kedatangan Pak Philip bermaksud untuk melihat koleksi buku-buku yang kukerjakan dan kuterbitkan. Dan beliau juga berniat membelinya sebagai bacaan pelengkap dan referensi penelitian.

Kebetulan waktu itu ibuku sedang dolan ke Jogja, dan sudah dua hari menginap di tempatku. Menjelang beliau berdua pamitan, aku memperkenalkan Pak Philip dan Bu Tinuk kepada ibuku. Caraku memperkenalkan beliau berdua kepada ibuku tentu bukan menyebut “Pak Philip sebagai etnomusikolog”, pasti ibuku bingung.

“Buk, ayo kukenalkan, ini Pak Philip, profesor musik, dan ini Bu Tinuk, istrinya.” Mereka pun mengobrol, sampai tiba pada suatu momen bercerita tentang tanah kelahiran. Ini sangat umum, ya..

“Panjenengan dari mana?” tanya Ibuku.

“Saya asli Solo,” jawab bu Tinuk.

“Lho, lha sama. Nuwun sewu (maaf), dulu ibu SD di mana?” tanya ibuku.

“Saya di SD Santa Maria, Bu.” jawab bu Tinuk lagi.

“Lah, kok sama lagi? Ealah…” (Pak Philip manggut-manggut sambil tersenyum).

“Wah, kalian teman SD, ya?” sahut Pak Philip.

Maka pembicaraan demi pembicaraan tentang memori masa silam pun berlanjut. Mereka bercerita tentang guru sekolah, kisah-kisah di sekolah pada waktu itu. Menarik sekali. Aku cuma menyimak saja. Dunia ini sangat mini.

Setelah cukup puas bernostalgia, beliau berdua akhirnya pamit pulang. Mobil gocar sudah menunggu di depan. Terima kasih banyak, Pak Philip dan Bu Tinuk. Tak bisa digambarkan lebih panjang lagi kebahagiaan ini. Semoga Anda berdua terus diberi kesehatan dan berkat. Amin. Amin. Amin.

Daaahhh…

Sampah dan Bunyi

Aner pentas musik rangkas pertama di halaman kantor pusat pegadaian Solo.

Sampah dan bunyi adalah dua subjek yang sangat menarik untuk dikombinasikan. Sampah adalah barang/benda yang “dianggap” sudah tidak terpakai, maka ia dibuang, menjadi sampah. Dan bunyi adalah zat/materi, yang sama sekali tidak berhubungan dengan sampah, namun bunyi bisa dihasilkan dari sampah.

Kemudian kita akan bertemu kata kreativitas untuk menjembatani kaitan antara sampah dan bunyi itu. Ya, mana mungkin tanpa kreativitas—dalam kadarnya yang sederhana maupun kompleks—bisa mewujud suatu bentuk “estetika” yang bersumber dari sampah dan bunyi?

Sangat luar biasa kreativitas, misalnya, Pak Asep Nata dari Bandung, yang menyulap pelok (biji mangga), menjadi instrumen tiup yang ia namakan pelokarina, adaptasi dari ocarina. Tak hanya menyulap pelok, ia juga mengkreasi karinding yang menggunakan bahan kartu sim. Ia sebut hasil kreativitasnya itu dengan nama karinding kartu.

Pada Yogyakarta Gamelan Festival 2017 saya diminta untuk ikut menulis catatan kuratorial untuk sebuah sesi pameran Gamelan Limbah Berbunyi. Sangat unik semua yang ditampilkan di sana. Kita akan menemukan berbagai jenis instrumen yang dikreasi menyerupai gamelan.

Kedua contoh di atas adalah antara kreativitas “sampah dan bunyi” yang terhitung cukup kompleks karena prosesnya membutuhkan waktu dan pikiran lebih banyak.

Ada juga contoh yang sangat simpel, yaitu “perkusi barang bekas.” Bahan-bahan yang digunakan antara lain: galon, ember, drum, gentong. Singkat cerita, anak saya Aner masuk Sekolah Dasar. Oleh sekolah tiap siswa baru diberi kesempatan mengambil dua ekstrakulikuler. Aner memilih taekwondo dan musik rangkas (barang bekas). Taekwondo latihan tiap Senin, dan musik rangkas tiap Jumat.

Ketika pertama kali mengantar Aner untuk latihan, dan musik rangkas itu bergaung di aula, sejujurnya “telinga” ini tidak sanggup mendengar dari dekat. Hal ini karena banyak faktor. Salah satu contohnya adalah: galon yang ditabuh dengan stick drum kayu. Ealah.. lha kok sepulangnya latihan Aner minta galon bekas dan stick untuk latihan di rumah. Praktis—dan coba dibuktikan sendiri—galon yang dipukul pakai stick kayu itu akan punya bunyi yang sangat tajam. Suasana di rumah jadi mendadak noise. Tapi apa daya, Aner sedang asyik-asyiknya menikmati dunianya. Mungkin seperti galon itu lebih pas kalau dipukul dengan stick yang diberi gulungan lembut di ujungnya. Bunyinya akan lebih bersahabat di telinga.

Anyway, akhirnya Aner pentas juga untuk pertama kalinya di bulan Oktober 2019. Melihat (mendengar) musik rangkas ini dimainkan di atas pentas terbuka, langsung beda rasanya. Dan Aner, yang terjatah main ember cat besar, terlihat bersemangat, sangat berkonsentrasi di atas panggung. Saking konsentrasinya, ia tampak terlihat tegang.

Berkat Musik di Hari Natal

Natal adalah sebuah momen dimana kebahagiaan selalu hadir, meskipun tak selalu harus ada musik sebagai syarat wajibnya. Namun, apakah kita bisa menghindar dari Jingle Bells, Gita Surya Bergema, Malam Kudus, Gloria, dan seterusnya—yang meskipun bernyanyi rada fals pun, kita tetap menganggap itu semua adalah lagu suka-cita, untuk merayakan kembali inisiasi yang kudus.

Musik di hari Natal memberikan keteduhan batin, terutama karena syair-syairnya yang menggugah semangat. Tak ada lagu sedih di hari Natal, tak ada lirik yang provokatif di hari Natal, tak ada lagu yang melampaui batas kewajaran di hari Natal. Semuanya hadir dalam porsi yang sama-sama kita harapkan. Maka, musik di hari Natal juga bisa dimaknai sebagai kemenangan batin, karena kita telah berhasil memelihara kelembutan hati.

Setiap Hari adalah Natal

Seharusnya di dalam hidup kita, setiap hari adalah Natal. Sama seperti musik yang juga merupakan elemen pendamping hidup yang selalu bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Maka kebijaksanaan sangat dibutuhkan, sama seperti kebijaksanaan untuk memperjuangkan kemenangan batin yang tidak hanya terjadi pada hari Natal saja.

Musik-musik di hari Natal jelas merupakan musik-musik yang terikat momen. Sangat tidak pas rasanya apabila kita bernyanyi lagu-lagu Natal di luar bulan Desember. Sebab itu, waktu yang sedikit ini adalah peluang penting untuk kembali meresapi lagu-lagu Natal, yang maknanya harus sampai pada tataran inti-sari, dan bukan klise semata.

Apabila kita sebut lagu-lagu Natal sebagai lagu rohani, maka urusan badaniah menjadi tidak penting, tetapi sebaliknya, dan lagu-lagu itu bukan menjadi inti-sarinya, melainkan hanya perantara, untuk menuju apa yang dikehendaki rohani itu sendiri.

Pemaknaan terhadap lagu-lagu Natal setidaknya harus melampaui level harafiah, terminologi, etimologi, hingga epistemologinya, sehingga pemaknaan kita tidak sekadar kulit (harafiah), tidak sekadar pori-pori (terminologi), tidak sekadar faktor genetik (etimologi), namun melampaui semuanya hingga pada unsur-unsur filofofis dan jiwa (epistemologi). Beberapa hal itu adalah drajat dalam upaya kita memaknai fenomena atau peristiwa. Allah telah mencapai tahap yang tak bisa diwakili oleh pikiran logis manusia, maka kita merasakan mukjizat-mukjizat. Sakit parah disembuhkan, bahkan mati dibangkitkan. Natal memberikan penyadaran kembali akan kemuliaan itu. Lagu-lagu Natal melalui syair-syairnya harus kita maknai ulang dan tidak sekadar kita nyanyikan sembari makan-makan.