Keroncong Riwayatmu Nanti

Keroncong dulu adalah musik minoritas, dicap pinggiran, musiknya para “buruh cinta” di gang-gang sempit. Beruntung ada Kusbini menaikkan harkat keroncong ke panggung “serius”, dengan musik yg digarap sungguh, lirik yg dipikirkan dan aduhai bobot kesusastraannya. Keroncong naik level, lalu ada Bintang Radio, turut menjadi persemaian penyanyi-penyanyi berbakat. Keroncong terus punya pergeseran posisi sejak mulai ada ratusan tahun silam. Tapi ada fase hilang, dimana keroncong tak ada gaungnya, tepatnya di 1661 ke sini.

Awal abad 20 adalah penentuan. BEKA Records sangat berjasa di tahun-tahun 1900an awal. Lalu keroncong terus didengarkan di ruang-ruang pribadi, kampung, festival, hingga kanal-kanal digital.

Mendengarkan keroncong itu sesungguhnya mendengarkan apa? Apanya yang sungguh-sungguh ingin kita dengarkan di dalam musik keroncong?

GusFu dan Keroncong Milenial

Tahun 2019, Kroncongan Agawe Santosa, komunitas musik keroncong yang saya kelola, kembali mendapatkan pengalaman seru dan menarik. Setelah diundang untuk ikut tampil meramaikan acara Festival Band Sholawat 2019 di Taman Budaya Yogyakarta, 29 Juli lalu, kini kami akan merencanakan mini album bertajuk: GusFu dan Keroncong Milenial, dan merilisnya di tahun ini juga! Proyek ini akan dikomandani oleh Mas Andre dari ROFA Band. Seluruh lagu dikarang dan dinyanyikan oleh Gus Fuad Plered, Pimpinan Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah. Saya mengaransemen empat lagu untuk mini album ini, dan Mas Puput Pramuditya untuk dua lagu lain.

Festival Mocosik 2019

Senang sekali diberi kepercayaan dan kesempatan untuk bergabung menjadi narasumber di agenda unik, bergengsi, dan berbobot: MocoSik, sebuah festival yang menggabungkan buku dan musik di satu buana. Pada 2019 ini festival MocoSik sudah menginjak tahun ke-3. 


Aku mendapat jatah duduk sederet dengan orang-orang hebat, foto dari kiri: Nuran Wibisono (jurnalis, penulis), David Tarigan (Irama Nusantara), Hengki Herwanto  (Museum Musik Indonesia), dan Adib Hidayat (Billboard Indonesia).


Kami ditugasi menyampaikan pikiran-pikiran tentang seluk-beluk pendokumentasian musik di Indonesia, mulai dari sejarah, tantangan yang dihadapi, hingga soal-soal teknis dan pengelolaan. Semua itu, tentu saja, tidak mudah. 
Kami ini memang sekumpulan orang-orang aneh dan keras-kepala, suka mengumpulkan artefak musik yang belum tahu ada gunanya apa tidak; mulai dari vynl, kaset, buku, majalah, partitur, manuskrip, foto, dan lain-lain. 


Diskusi yang digelar di hari terakhir MocoSik 2019, 25 Agustus, berlangsung hangat, seru, dan intim. 
Terimakasih teramat dalam kepada seluruh kerabat hebat MocoSik 2019, khususnya kepada Gus Muhidin M. Dahlan, punggawa Warung Arsip, idolaku, yang membukakan jalan demi pertemuan “langka” ini. 
Foto: Reza Amaludin, MocoSik 

Konser Duo Piano

Pada 12 Oktober akan ikut mendukung Konser Duo Piano Adi Utarini dan Ike Kusmawati. Saya menulis ulasan musikologis untuk karya-karya yang dimainkan. Sangat jarang sebuah konser dibarengi dengan ulasan musikologis. Sejauh ini yang telah konsisten melakukannya adalah seri konser-konser dari Jakarta City Philharmonic. Usaha seperti ini, tentu saja, akan bermanfaat bagi audiens untuk memperkaya wawasan mereka tentang repertoar yang dimainkan. Info lengkap silakan lihat di poster, ya!